21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Esensi Kepemimpinan

Esensi Kepemimpinan

Fiqhislam.com - Dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah SAW bersabda: “ Setiap kamu sekalian adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan dimintai tanggungjawab dari kepemimpinannya.  (HR Imam Bukhari).

Hadis tersebut yang merupakan arahan Nabi SAW (taujih an-nabawi) secara jelas dan gamblang menyatakan esensi dan substansi kepemimpinan itu adalah tanggungjawab. Bukan gaji yang tinggi dan fasilitas yang banyak.

Tanggungjawab atau mas’uliyah ini, bukan saja kepada rakyat atau negara, akan tetapi terlebih-lebih kepada Allah SWT kelak kemudian hari.

Karena itu, hanya orang-orang yang mau bertanggungjawablah terhadap ucapan dan tindakannya yang layak menjadi pemimpin. Orang yang tidak mau bertanggungjawab dan hanya mau mengambil serta menikmati fasilitas yang diberikan kepada setiap pemimpin, sangatlah tidak layak menjadi pemimpin yang sesungguhnya.
   
Pada saat Rasulullah SAW meninggal dunia, para sahabat r.a. merasa enggan dan berat untuk menjadi khalifahnya, sekaligus menjadi pemimpin bagi umatnya pada saat itu. Karena melihat tanggungjawab yang sangat besar di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Hanya karena untuk kepentingan umat yang lebih besar dan dakwah Islamiyyah yang harus terus-menerus dikembangkan, Abu Bakar r.a. bersedia dibai’at oleh Umar bin Khattab, dan diikuti para sahabat yang lain, menjadi khalifah yang pertama. Demikian pula yang terjadi pada khalifah-khalifah lain sesudah beliau.
   
Karena rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap umatnya, Umar bin Khattab ketika menjadi khalifah yang kedua, pernah semalaman dan sendirian melakukan incognito  untuk melihat langsung dari dekat bagaimana kondisi dari umat yang dipimpinnya.

Dan ketika beliau melihat seorang ibu dengan anak-anaknya merebus batu karena tidak ada makanan (ibu itu merebus batu sekadar menghibur anak-anaknya), Umar langsung mengambil sendiri sekarung gandum dari baytul-maal untuk diberikan langsung kepada ibu tersebut.

Inilah contoh pemimpin yang bertanggungjawab terhadap masyarakat dan umatnya. Demikian pula banyak kita temukan dalam sejarah Islam, kisah-kisah dari pemimpin yang merakyat yang sederhana yang mengedepankan tugas dan tanggungjawab, bukan meminta atau mendapatkan fasilitas, apalagi privillage (hak istimewa) yang selalu didapatkan pemimpin sekarang.
   
Bahkan pada zaman kemerdekaan kita pun, banyak figur pemimpin yang sederhana yang sangat merakyat dan sangat bertanggungjawab terhadap ucapan dan tindakannya, yang mencerminkan kecintaan dan kesungguhan mereka dalam melayani masyarakat dan bangsa sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT.

Mereka itulah pemimpin yang sesungguhnya yang sudah mengorbankan jiwa raga dan pikirannya, bahkan juga hartanya, untuk kemerdekaan dan kesejahteraan masyarakat dan bangsa.

Mereka adalah pahlawan sekaligus mujahid yang Insya Allah akan mendapatkan balasan surga dari Allah SWT, sekaligus akan selalu dikenang dan melekat pada hati rakyat.
   
Dua peristiwa politik yang akan terjadi di tahun 2014 ini yaitu Pemilihan Umum Anggota Legislatif dan juga Anggota DPD, serta Pemilihan Presiden dan Wakilnya, hakikatnya adalah dua peristiwa yang diharapkan akan melahirkan para pemimpin bangsa ini untuk lima tahun ke depan.

Diharapkan, mereka yang terpilih adalah para pemimpin yang kuat pikiran dan nuraninya untuk melayani masyarakat dan meningkatkan kesejahteraannya.

Pemimpin yang berani bertanggungjawab atas ucapan dan tindakannya, sekaligus yang siap menjadi suri teladan dalam kejujuran, anti-korupsi, dan keberpihakan kepada kebenaran.

Tentu kita tidak ingin dua peristiwa politik hanya akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak bertanggungjawab yang hanya sekadar mengejar fasilitas dan gaji yang tinggi untuk kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya saja. Wallahu A’lam bi ash-Shawab.

Oleh KH Didin Hafidhuddin
yy/republika.co.id