fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

The Power of Dialog

The Power of Dialog

Fiqhislam.com - Kekuatan dialog memiliki energi yang luar biasa. Dialog adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Allah Swt pun berdialog dengan malaikat, iblis, dan manusia, sebagaimana akan diuraikan dalam artikel mendatang.

Proses dialogis inilah yang seharusnya menjadi ciris etiap agama dan umat beragama. Allah Swt menurunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam kurun waktu 23 tahun. Mengapa tidak sekaligus? Kurang apa power yang dimiliki Tuhan untuk memaksakan kehendaknya kepada makhluk lemahnya yang bernama manusia?

Kenapa tidak menggunakan kekuatan “Kun fayakun”, langsung Al-Qur’an turun sekaligus dan nilai-nilainya terimplementasi di dalam masyarakat juga sekaligus? Sudah barang tentu di sini ada pelajaran penting buat manusia, khususnya umat beragama.

Turunnya wahyu berangur-angsur sesungguhnya itu bagian dari dialog, bagian dari dialektika masyarakat yang mendapatkan pengakuan Tuhan. Meskipun Tuhan Maha Pemaksa (al-Qahhar) tetapi ia tidak menggunakan hak proregatifnya.

Penciptaan alam dilakukan dengan proses kun fayakun, tetapi penjabaran nilai-nilai kemanusiaan Tuhan menunjukkan sifat sabar-Nya (al-Shabur). Ini penting buat kita bahwa, manakala mengoder suatu sistem nilai di dalam suatu masyarakat, kesabaran harus didahulukan seperti dicontohkan Tuhan. Sesungguhnya para nabi pun juga meniru kekuatan dialog yang diperkenalkan Tuhan.

Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun tetapi pengikutnya bisa dihitung jari, akhirnya ia berdoa agar Allah swt menggunakan kekuatannya, sehingga ummatnya binasa selain yang naik di atas perahu mereka. Ini pula yang membuat Nabi Nuh menyesal seumur hidup sampai di hari Padang Mahsyar karena kesabarannya masih memiliki batas, tidak seperti yang dilakukan Nabi Muhammad Saw.

Nabi Hud yang dikisahkan di dalam surah Al-A’raf juga menunjukkan dialog interaktif dengan para tokoh dan pemimpin masyarakatnya. Nabi Shaleh, Nabi Syuib, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad, diabadikan dialog panjangnya dengan umatnya.

Keluhuran niat dan kearifan para penganjur Islam pertama para sahabat nabi dengan mengedepankan dialog, akhirnya satu per satu wilayah-wilayah Timur Tengah mempercayai Islam sebagai agamanya, yang dalam sejarah Islam disebut futuhat. Hal yang sama juga telah dilakukan Para Wali Songo ketika pertama kali menganjurkan Islam di Kepulauan Nusantara.

Pertama kali mereka melakukan dialog dengan raja-raja lokal dengan menunjukkan akhlaqul karimahnya, sambil berdagang dan berdakwah. Kekuatan dialog menjadi ciri khas mereka. Tidak pernah bosan berdialog bahkan dihujat dan dimaki sesuatu yang biasa bagi mereka yang memiliki jiwa besar.

Kebiasaan untuk berdialog merupakan latihan untuk memiliki jiwa besar dan dada yang lapang. Orang yang tidak biasa dan tidak mau berdialog hatinya kecil, nyalinya kerdil, dadanya sumpek, dan pikirannya sempit. Bahkan orang-orang yang antidialog cenderung memilih jalur potong kompas, termasuk menggunakan kekerasan, bahkan dengan cara terorisme. Justru hal ini tidak pernah dicontohkan dalam setiap agama.

Dalam lintasan sejarah dunia Islam, kita bisa melihat, Islam yang dikembangkan dengan cara-cara dialog justru di negeri itu Islam langgeng. Akan tetapi wilayah-wilayah yang ditaklukkan dengan ujung pedang seperti Spanyol (ingat sejarah Perang Salib), justru Islam di sana tidak langgeng.

Sekitar 700 tahun lamanya Islam berkuasa di Spanyol, tetapi pemandangan yang bisa disaksikan ialah masjid-mesjid menjadi gereja. Bandingkan dengan Indonesia yang sudah mengenal Islam secara massif selama 700 tahun, tetapi tetap langgeng hingga saatini. Ini berkat pendekatan dialog yang digunakan para penganjur Islam pertama di wilayah Nusantara saat itu.

Oleh Nasaruddin Umar
yy/inilah.com