fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

2 x 10 dari Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah

2 x 10 dari Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah

Fiqhislam.com - Muhammad bin Abi Bakr, bin Ayyub bin Sa'd Al Zar'i, Al Dimashqi bergelar Abu Abdullah Syamsuddin, atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Qayyim Al Jauziyyah. Dinamakan demikian karena ayahnya berada atau menjadi penjaga (Qayyim) di sebuah sekolah lokal yang bernama Al Jauziyyah.

Beliau dilahirkan di Damaskus, Suriah pada tanggal 4 Februari 1292, dan meninggal pada 23 September 1350. Dikenal sebagai seorang Imam Sunni, cendekiawan, dan ahli fiqh yang hidup pada abad ke-13. Beliau adalah ahli fiqih bermazhab Hambali. Di samping itu juga seorang ahli Tafsir, ahli Hadits, penghafal Al Quran, ahli ilmu Nahwu, ahli Ushul, ahli ilmu Kalam, sekaligus seorang Mujahid.

Ibnul Qayyim pernah dipenjara, dihina dan diarak berkeliling bersama Ibnu Taimiyah sambil didera dengan cambuk di atas seekor Unta. Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun dilepaskan dari penjara. Hal itu disebabkan karena beliau menentang adanya anjuran agar orang pergi berziarah ke kuburan para wali.

Beliau peringatkan kaum muslimin dari adanya khurafat kaum sufi, logika kaum filosof dan zuhud model orang-orang hindu ke dalam Firqah Islamiyah. Ibnu Qayyim Al Jauziyah, wafat pada malam Kamis, tanggal 18 Rajab tahun 751 Hijriyah.

Ada banyak sekali nasihat-nasihat dari beliau yang telah banyak dibukukan dan mudah didapatkan di toko-toko buku. Salah satu yang saya kutip adalah “Perkara sia-sia yang paling besar dan pokok di antara hal-hal tersebut ialah menyia-nyiakan waktu dan menyia-nyiakan hati. Menyia-nyiakan hati ialah dengan mementingkan dunia dari pada akhirat. Sedangkan menyia-nyiakan waktu ialah dengan memanjangkan angan-angan.”

Berikut kutipan 10 nasihat Ibnu Qayyim:

1. Ilmu yang tidak diamalkan. Artinya tidak menjadi manfaat bagi dirinya sendiri dan orang banyak.

2. Amalan yang tidak ikhlas dan tidak ada contohnya dari Rasulullah SAW dan para sahabat.

3. Harta yang tidak diinfakkan, tidak menjadi nikmat di dunia (artinya tidak dijalankan fungsi sosial dari harta tersebut) juga tidak menjadi investasi untuk kehidupan akhirat.

4. Hati yang kosong dari cinta dan kerinduan kepada Allah SWT.

5. Tubuh yang tidak digunakan untuk ta'at, mengabdi serta mencintai-Nya.

6. Mencintai Allah namun tidak berpegang kepada ridha Allah dan mengikuti perintah-Nya.

7. Waktu yang tidak diisi untuk memperbaiki hal yang terlewatkan darinya, serta tidak berbuat kebaikan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

8. Pikiran yang digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

9. Membantu orang yang tidak mendekatkan diri kita pada Allah, namun juga tidak mendatangkan kebaikan untuk dunia.

10. Takut serta mengharap kepada manusia. Yang sebenarnya ubun-ubun semua manusia berada dalam genggaman Allah. Dia adalah tawanan yang dikuasai oleh Allah, tidak dapat menghindarkan hal-hal yang membahayakan dari dirinya serta tidak dapat mendatangkan manfaat untuk dirinya, tidak dapat menghidupkan dan mematikan dirinya serta tidak dapat membangkitkan dirinya.

Itulah sepuluh ringkasan pertama nasihat-nasihat beliau terhadap perkara yang sia-sia.

Berikut di bawah ini sepuluh nasihat Ibnul Qayyim ra untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat:

Pertama, hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa apapun bentuk ibadah yang diperintahkan Allah, itu hanyalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Bentuk larangan karena betapa Allah sayang kepada makhluk-Nya.

Kedua, merasa malu kepada Allah SWT. Konsep ihsan seperti yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW. “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu.”

Ketiga, senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu. Konsep syukur sebagaimana yang disebutkan dalam Qur’an Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim : 7). Apabila engkau berlimpah nikmat maka jagalah, karena maksiat akan membuat nikmat hilang dan lenyap.

Keempat, merasa takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya. Sebagaimana dinyatakan dalam Qur’an “Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. Ali Imran : 175)

Kelima, mencintai Allah SWT. Karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya. Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31) Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya motivasi cinta.

Keenam, menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya.

Ketujuh, memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah-gulana yang menyelimuti diri karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati.

Kedelapan, memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.

Kesembilan, hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah waktu senggang dan lapang yang dia miliki karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan. Sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.

Kesepuluh, sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati. Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah. Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.

Kang Erick Yusuf
yy/republika.co.id