fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Sya'ban 1442  |  Minggu 11 April 2021

Manfaat Mengingat Kematian

Manfaat Mengingat Kematian

Fiqhislam.com - Banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dalam dzikrul maut, bahwasannya dalam segala keadaan, mengingat kematian itu pasti ada keutamaan dan ada pula pahalanya. Imam Ghazali menegaskan bahwa mengingat kematian yang merupakan konsekuensi dari kesadaran akan keniscayaan akan keputusan Ilahi itu, dapat mengobati jiwa yang sakit, menyegarkan spiritual yang letih dan membangun kembali kekuatan dan energi batiniah yang tidak berdaya.

Maka semakin mengingat kematian akan meningkatkan ketekunan dan optismisme dalam melaksanakan hak-hak Allah SWT, di samping semakin ikhlas dalam beramal. Mengingat mati juga akan dapat menjadi salah satu sarana efektif bagi tazkiyatunnafs, penjernihan batin manusia, peredaman gejolak nafsu, dan pelembut kalbu.

Imam Ghazali menegaskan bahwa mengingat kematian yang merupakan konsekuensi dari kesadaran akan keniscayaan akan keputusan Ilahi itu, dapat mengobati jiwa yang sakit, menyegarkan spiritual yang letih, dan membangun kembali kekuatan dan energi batiniah yang tidak berdaya.

Maka semakin mengingat kematian akan meningkatkan ketekunan dan optimism dalam melaksanakan hak-hak Allah SWT dan ikhlas dalam beramal. Mengingat kematian juga dapat menjadi salah satu sarana efektif bagi tazkiyatunnafs, penjernihan batin manusia, peredaman gejolak nafsu dan pelembutan kalbu.

Kalangan ulama seperti Al-Ghazali dan Ibnu Qayim Al-Jauziah mempercayai bahwa mengingat kematian merupakan bagian dari energi diri yang sangat potensial. Mereka memastikan orang yang senantiasa mengingat kematian akan menjadi orang yang teguh pendirian dalam perjalanan spiritual menuju cita-cita ukhrawinya. Dia tidak mudah digoda oleh syaitan untuk melakukan kemaksiatan yang dapat membinasakan dirinya di dunia dan akhirat.

Dzikrul maut dipercayai sebagai metode yang dapat memperpanjang jarak tenggelamnya seseorang dalam lautan cinta dunia dan dapat menumbuhkan sifat zuhud pada dirinya. Dengan mengingat kematian seseorang akan terhindar dari tipu daya syaitan, menjauhi dirinya dari maksiat, lalu bertaubat terus menerus dan taat kepada Allah SWT.

Kesadaran akan kematian akan membuat seseorang memahami makna dan berpikir secara positif. Ia akan menempuh hidup ini dengan penuh optimis menuju satu tujuan hidup yang pasti, bertemu dengan Allah yang ia cintai dan mencitainya. Masalahnya tidaklah lagi kekhawatiran menghadapi, tetapi harapan akan kasih sayang Allah Yang Maha Pengasih di antara semua yang mengasihi. Bahkan secara psikologis menurut penulis, dzikrul maut dapat meningkatkan semangat hidup, motivasi sukses, etos kerja juga dapat meningkatkan produktifitas dalam keseharian, baik dalam bekerja maupun kehidupan sosial.

Sebaliknya melupakan kematian akan mengakibatkan seseorang menjadi mudah memanjangkan angan-angan dan harapan, akan menjerumuskan manusia dalam berbagai kerugian, selalu cinta dunia dan bersenang-senang dengan syahwat.

Penulis pada tahun 2003 telah melakukan penelitian ilmiah tentang implikasi dzikrul maut terhadap kesehatan mental terhadap 54 orang responden yang aktif pada komunitas pengajian Mahabbah Daarut Tauhid, dan majelis Zikir dan Doa Masjid Istiqomah Ciputat, yang melakukan aktifitas zikrul maut secara terus menerus setiap minggunya.

Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif sekaligus. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 54 responden didapati memiliki kesehatan mental yang tinggi sebanyak 34 orang (63%), sedang 20 orang (37%) dan rendah 0 (0%).

Dampak yang dirasakan oleh peserta zikrul maut pada aspek kognitif adalah membuat perilakunya berpikir positif, tenang, hingga mampu mengambil keputusan lebih terarah, memiliki visi hidup serta optimis menghadapi kehidupan. Pada aspek afektif (perasaan) dan implikasinya terhadap kesehatan mental ialah setelah berzikrul maut para peserta tumbuh rasa kasih sayang, sabar dan bertawakal kepada Allah.

Pada aspek psikomotorik (perilaku) peserta tergerak untuk lebih taat menjalankan ibadah, memiliki kepedulian sosial, amanah dalam mengemban tanggung jawab dan mampu memanfaatkan waktu seefektif mungkin. Wallahu’alam

oleh Dr Muhammad Iqbal
Ketua Program Studi Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta
yy/nabawia.com