pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


13 Dzulqa'dah 1442  |  Rabu 23 Juni 2021

Gagal Menghindari Ajal

Gagal Menghindari Ajal

Fiqhislam.com - Sebesar apa pun usaha yang ditempuh guna menghindari kematian, mustahil bisa tercapai.

Pada masa sekitar 570 SM-622 M, Nabi Hazqiyal berdakwah mengajak Bani Israel kepada kebaikan dan tauhid yang murni.

Yehezkiel, demikian dikenal dalam sejarah agama Yahudi, diutus oleh Allah SWT setelah masa kenabian Musa dan sebelum Nabi Ilyas bin Yasin.

Kehadiran Hazqiyal di tengah-tengah Bani Israel teramat penting. Hal ini mengingat tingkat keprofanan akidah mereka pascameninggalnya Musa. Mereka menyembah berhala dan salah satu “Tuhan”, yakni Ba’al. Maka dari itu, tugas Hazqiyal tidaklah mudah.

Selain meluruskan akidah Bani Israel yang telah melenceng jauh, pada saat yang sama Hazqiyal juga dituntut mampu mempertahankan penegakan syariat, minimal meneruskan apa yang sebelumnya telah diserukan oleh Musa AS.

Kerusakan akidah yang menjangkiti Bani Israel berimbas pada terdegradasinya perilaku dan praktik-praktik keagamaan.

Salah satunya ialah perintah jihad. Seruan yang satu ini memang membuat tak sedikit kalangan Bani Israel menciut nyalinya.

Bahkan, ribuan dari mereka memilih untuk kabur menjauh. Alasan utama pelarian itu tak lain mereka takut menghadapi kematian. Isyarat tentang kisah ini disebutkan dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 243.

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka, ‘Matilah kamu’, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”

Secara singkat Ibnu Ishaq mengisahkan bagaimana penolakan jihad Bani Israel hingga mukjizat Hazqiyal membangkitkan orang hidup itu terjadi.

Ketika Bani Israel mangkir dari perintah jihad yang diserukan Hazqiyal lantaran takut mati, Dawardan, desa tempat mereka berdomisi terserang epidemi lepra yang mematikan. Ribuan penentang jihad memilih meninggalkan desa.

Jumlah pastinya banyak versi pendapat. Ada yang bilang 4.000 jiwa, 8.000, bahkan pendapat lain menyebut jumlahnya 40 ribu. Sebagian besar penduduk yang memutuskan bertahan meninggal dunia, hanya sedikit yang selamat.

Ketika epedemi berakhir, mereka kembali lagi ke desa. Warga yang selama menyatakan kebahagiaan mereka mengikuti para penentang jihad tersebut. “Jika terjadi wabah lagi, kami akan berada di belakang kalian,” teriak para warga.

Virus ganas itu kembali menyerang desa mereka. Maka berangkatlah mereka ke bukit Afeh untuk kedua kalinya dan mendaki ke puncak gunung agar terhindar dari ajal. Tetapi, Allah berkehendak lain.

Tuhan memerintah malaikat maut dari atas dan dasar bukit agar mencabut nyawa mereka. Tak ada satu pun yang kuasa berlari dan menjauh dari kematian. Puluhan ribu orang itu tetap saja menemui ajal mereka. Jasad mereka pun masih bertahan di atas bukit.

Hingga akhirnya, beberapa tahun kemudian, Hazqiyal melewati jasad-jasad itu.  Di lokasi tersebut, Allah berdialog dengan Hazqiyal. “Apakah engkau ingin Aku perlihatkan bagaimana menghidupkan mereka kembali?” Hazqiyal menjawab “Iya”.

Hingga akhirnya, beberapa tahun kemudian, Hazqiyal melewati jasad-jasad itu.

Di lokasi tersebut, Allah berdialog dengan Hazqiyal. “Apakah engkau ingin Aku perlihatkan bagaimana menghidupkan mereka kembali?” Hazqiyal menjawab “Iya”.

Lalu, usai menggerak-gerakkan jari-jemarinya dan atas seizin Allah, tulang belulang itu beterbangan dan bersatu kembali. Lalu, terdengar seruan agar daging dan anggota tubuh yang telah raib itu berwujud lagi.

Dan, seruan terakhir menyerukan, “Wahai para jasad, Allah memerintahkan kalian untuk hidup lagi.” Mukjizat pun tampak.

Tulang-belulang yang berserakan itu kembali bersatu, lalu disempurnakan dengan bersatunya kembali daging, dan bagian fisik yang semula rusak. Mereka hidup kembali dan berjanji akan menaati Nabi Hazqiyal.

Imam at-Thabari mengomentari kisah di balik tafsir surah al-Baqarah ayat 243 tersebut. Kaum Bani Israel itu dipercepat ajal mereka dan lalu dihidupkan lagi sebagai bentuk siksa sekaligus pelajaran untuk umat mendatang.

Siksa lantaran mereka mangkir dari perintah dan seruan jihad yang diperintahkan Allah melalui lisan Nabi Hazqiyal.

Penolakan kaum itu dilandasi ketakutan mereka terhadap kematian lantas kabur dari tempat tinggal mereka. Dan ternyata, pelarian Bani Israel itu tidak bisa menjauhkan hidup mereka dari maut.

Nabi Hazqiyal akhirnya meninggal. Namun sayang, Bani Israel ingkar terhadap komitmen dan perjanjian mereka untuk selalu taat dan tidak melakukan penyimpangan.

Sepeninggal Hazqiyal, mereka kembali menyembah berhala, tak terkecuali Ba’al dan mangkir dari syariat. Allah lantas mengutus Nabi Ilyas bin Yasin kepada mereka.

yy/republika.co.id