22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

Independensi Mental

Independensi Mental

Fiqhislam.com - Seperti biasa, setiap akhir pekan, sepasang suami istri meluangkan waktu untuk membeli surat kabar di sudut pasar yang tidak jauh dari rumahnya. Sang suami,  termasuk sosok yang berikap ramah kepada siapa pun.

Takdir Allah, akhir pekan itu sang penjual surat kabar ternyata tidak menjaga jualannya. Tetapi kios kecilnya tetap buka dengan penjaga yang tidak dikenal. Sosoknya cuek dan sangat tidak perhatian terhadap pembeli, termasuk sang suami tadi.

Akan tetapi, sang suami tetap lembut, ramah, dan melempar senyum kepada sang penjual pengganti itu. Tidak ada perubahan pada cara sang suami menghadapi orang, termasuk kepada pedagang pengganti yang cuek itu.

Sang istri yang memperhatikan kejadian itu, langsung  bertanya kepada suaminya, “Mas, kenapa sih, sama penjual yang kurang perhatian, kok masih ramah juga, pakai senyum lagi,” ucapnya dengan nada kesal.

Sang suami pun menatap wajah sang istri sembari menggenggam tangan lembut istrinya. “Mama, kita berbuat baik itu hanya karena Allah bukan yang lainnya. Apakah kebaikan, jika kecuekan dibalas dengan kecuekan yang sama? Lagian, kita bersikap baik kepada siapapun itu bukan karena orang lain berbuat baik kepada kita. Tetapi karena kita ingin Allah ridha kepada kita,” papar sang suami.

Peristiwa tersebut, tepatnya apa yang ada pada sosok sang suami adalah bentuk konkret dari independensi mental. Yakni suatu sikap positif atau akhlak mulia yang terus dijaga, diipertahankan dan dilestarikan meski orang lain atau bahkan lingkungan justru negatif.

Hal itu pula yang pernah dicontohkan Nabi Muhammad kala dakwah di Makkah. Setiap kali Rasulullah SAW hendak beribadah ke Baitullah, ada orang kafir yang selalu meludahi beliau. Namun, Nabi Muhammad SAW tidak bereaksi apa pun.

Hal itu sama sekali tidak mengundang kemarahan apalagi dendam dalam hatinya. Kejadian berikutnya justru mengejutkan. Kala Rasulullah SAW menuju Ka’bah dan ternyata tidak ada yang meludah, beliau justru bertanya, kemana orang yang biasa meludahinya itu?

Setelah mendapat kabar orang itu ternyata sakit, Nabi SAW langsung menjenguknya. Sebagian orang masih bingung dengan peristiwa inspiratif tersebut. Bagaimana mungkin orang yang jahat kepada beliau justru beliau kasihi dan sayangi.

Sebagian berpendapat itu bisa dilakukan karena beliau adalah Nabi. Ternyata, kalau kita gali lebih mendalam, sikap demikian adalah bentuk kemampuan seorang Muslim berpikir jernih, sehingga setiap tindakannya tidak lain hanya berlandaskan keimanan dan ketakwaan.

Dengan cara seperti itu, independensi mental akan mewujud, sehingga kebaikan tidak saja bisa dilakukan kepada orang yang berbuat baik kepada kita semata. Kepada orang yang jahat pun kita bisa berikan kebaikan.

Itulah yang Nabi Muhammad SAW sebut dengan ihsan. “
Ihsan adalah hendaklah engkau beribadah kepada Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.’’ (HR Muslim). Hanya dengan ihsan, independensi mental akan terwujud.

Oleh Imam Nawawi
yy/republika.co.id