pustaka.png
basmalah.png.orig


15 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 25 Juni 2021

Little Thing Called ‘Nurani’

Little Thing Called ‘Nurani’

Fiqhislam.com - “Setiap manusia itu dilahirkan untuk tujuan kebaikan.”

“Tapi mengapa ada pencuri?”

“Itu ulah manusianya sendiri yang memilih untuk bertindak buruk. Tetap manusia itu dilahirkan untuk tujuan kebaikan.”

Pernahkah anda memiliki pembicaraan seperti tersebut? Sampai detik tulisan ini diketikpun, saya masih memiliki pehaman kalau memang manusia itu dilahirkan untuk tujuan kebaikan. Lalu mengapa ada manusia yang melakukan kejahatan? Bahkan menurut para Da’i, rata-rata potensi orang terkena kejahatan dalam 3 tahun terakhir, yaitu 86 orang per 100.000 penduduk pertahun.

Suatu hari Arya pulang sekolah melewati jalan yang tak biasanya ia lewati. Di tengah perjalanan ia menemukan pohon mangga yang sedang berbuah lebat di depan rumah seseorang. Ia ingat bahwa ibunya hari ini tidak bisa memberikannya makanan lantaran uangnya sudah habis untuk biaya pengobatan adiknya, sedangkan ayahnya telah meninggal sebulan yang lalu. Ia selalu diajarkan oleh ayahnya untuk tidak mencuri tetapi saat ini kondisinya berbeda, perutnya keroncongan karena tadi pagi tak sarapan. Ia ingin menjaga nasihat dari mendiang ayahnya tapi di sisi lain perut tak bisa diajak kompromi.

Pernahkah anda mengalami hal dalam kondisi seperti Arya?

Hati memiliki suatu bagian yang bernama nurani. Nurani adalah alat pemberian Allah Swt. semenjak kita dilahirkan di muka bumi, alat ini berfungsi sebagai pemindai antara yang baik dan yang buruk. Haq dan bathil. Nurani selalu menuntun kita untuk menuju jalan kebaikan. Apa pendapat anda tentang mencuri? Tentu semua orang sepakat bahwa itu adalah hal yang buruk, inilah dalam bidang psikologi yang dinamakan Anggukan Universal. Lalu apabila semua orang sepakat bahwa mencuri itu hal buruk, mengapa masih ada kasus pencurian? Inilah masalahnya.

Sekarang, alat yang bernama nurani ini sudah banyak yang rusak. Tak terpakai. Kebanyakan manusia mulai beralih menggunakan alat bernama hawa nafsu, yang selalu mendorong manusia menuju keburukan. Ibaratnya, seperti kertas yang putih, itulah nurani, namun sedikit demi sedikit manusia mulai tak menghiraukan nurani, sehingga terkotorilah kertas putih itu dengan tinta-tinta dosa. Lalu apa yang akan terjadi apabila terlalu banyak tinta yang menetes? Ya kertas putih itu akan berubah menjadi hitam. Itulah sifat dasar manusia yang menganggap remeh dosa kecil, sehingga dosa kecil tersebut menjadi “Anggukan Universal” yang baru. Membuat nurani buta, tak bisa lagi membedakan yang baik dan yang buruk.

Pernahkah anda melihat orang yang dengan entengnya melakukan dosa tanpa rasa bersalah? Itulah contoh nurani yang telah mati. Di sisi lain, pernahkah anda merasa ada yang bergetar dan mengatakan “Tidak.”, “Jangan lakukan hal itu.” Di dalam hati kecil anda? Maka bersyukurlah, karena nurani anda masih berfungsi. Rawatlah alat itu dengan selalu menghindari dosa-dosa yang dapat membuatnya rusak. Jangan biarkan batin tidak tenang!


Ingatlah sesungguhnya didalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya. Ingatlah ia adalah hati. (Bukhari Muslim)

Allah menciptakan manusia untuk tujuan kebaikan, untuk menjadi khalifah atau pemimpin di bumi (Q.S. 2:30). Dapat dilihat di bagian paling mikro dalam susunan tubuh manusia yaitu sel. Sel-sel dalam tubuh manusia selalu berusaha istiqamah untuk menjalankan kebaikan, tetapi ketika nurani telah mati dan sel-sel mendapat perintah yang berbeda dari khalifahnya, yaitu manusia, untuk melakukan keburukan. Maka akan ada sel yang mati dan melapor pada Sang Pencipta bahwa dirinya telah salah digunakan oleh sang khalifah. Sebagian sel lain akan berusaha memberontak kepada khalifah menjelma menjadi sekelompok sel yang tidak taat azas. Kita kemudian mengenalnya sebagai penyakit kanker. “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Q.S. 17:36)

Oleh karena itu, setiap manusia dituntut harus berlaku istiqamah. Menjadi istiqamah adalah hasil dari sebuah mekanisme yang bernama sabar, di mana manusia mampu mengendalikan akal, adab, dan akhlak. Istiqamah sampai akhir adalah sabar sampai wafat.

Oleh: Ahmad Najmi
yy/islampos.com