fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Belajar dari Suasana Batin: Dari Hal Menuju Maqam

Belajar dari Suasana Batin: Dari Hal Menuju Maqam

Fiqhislam.com - Clifford Geertz dalam bukunya Islam Obeserved pernah mengingatkan kita bahwa manakala pemeluk dan ajaran agama sudah mulai berjarak maka akan lahir situasi yang gamang.

Fenomena ini, menurut Geertz, akan melahirkan polarisasi di dalam masyarakat yang cenderung berhadap-hadapan satu sama lain.

Akan muncul suatu kelompok moderat, bahkan liberal yang akan mengakomodasi dan memberikan pembenaran keagamaan terhadap perkembangan dunia modern dengan menciptakan metode-motode modern, di antaranya, pendekatan kontekstual atau metode hermeneutik.

Ayat-ayat dan hadis direkayasa sedemikian rupa untuk menjustifikasi kehendak zaman. Kelompok ini sepertinya sudah pasrah dengan kehendak zaman.

Akhirnya, seolah-olah Alquran dan hadis yang harus tunduk kepada zaman modern, bukan lagi Alquran dan hadis yang harus memandu perkembangan zaman.

Pada saat bersamaan, akan muncul kelompok radikal yang seolah-olah ingin menolak kenyataan hidup yang terlalu asing bagi mereka.

Mereka merindukan zaman lampau yang pernah menciptakan The Golden Age. Mereka merindukan situasi kenabian (prophetic system) untuk mewadahi kecenderungan emosi keagamaannya.

Mereka serta merta menolak gagasan pembaharuan dengan memberinya berbagai macam label, seperti sekuler, liberal, pluralisme, jahiliah modern, deislamisasi, gerakan zionis, Kristenisasi, nasionalis sekuler, westernisasi, dan berbagai label lainnya yang bisa memicu proteksi dan emosi keagamaan umat.

Belum lagi, atribut-atribut biologis dan pakaian menyerupakan diri dengan kelompok masyarakat (Arab) yang dianggap sebagai komunitas ideal. Padahal, tidak mesti menjadi seorang Arab untuk menjadi the best Muslim. Kita bisa tetap menjadi orang Indonesia, tetapi sambil meraih insan kamil, manusia paripurna.

Orang yang sudah mengenal maqam tertentu perlu mencermati kondisi batinnya. Ada dua kondisi yang sering dialami orang, yaitu hal dan maqam.

Hal ialah kondisi sesaat yang dialami orang yang sedang mengalami spiritual mood, ketika seseorang sedang hanyut dengan suasana batin tertentu yang biasanya karena dipicu kejadian-kejadian tertentu pada dirinya.

Misalnya, ia baru saja ditimpa musibah, sedang kecewa berat, sedang mempunyai hajat dan kebutuhan berat, atau baru saja mengikuti majelis zikir yang memesonakan dirinya.

Suasana batin orang ini memang merasakan perasaan lapang dada, tawaduk, syukur, tawakal, ridha, mahabbah, bahkan merasa begitu dekat dengan Tuhan. Tindakan-tindakan sosialnya juga tiba-tiba berubah dan seolah menjadi orang yang bukan dirinya sendiri. Tapi, orang ini masih fluktuatif, bergantung mood-nya.

Sedangkan maqam adalah kondisi batin permanen dialami seseorang karena sudah melalui proses pencarian panjang serta riyadhah dan mujahadah yang konsisten. Suasana batin yang dialaminya bukan karena dipicu peristiwa-peristiwa khusus, melainkan sudah melalui spiritual training yang amat panjang. Tapi, tidak mustahil hal bisa menjadi permanen manakala orang itu memahami kiat-kiat khusus.

Peranan syekh, mursyid, atau pembimbing spiritual diperlukan dalam meningkatkan hal menjadi maqam. Di sinilah tarekat berperan untuk mengorganisasi jamaah agar melakukan mujahadah dan riyadhah secara sistematis.

Sistem setiap tarekat bervariasi, bergantung sang pendiri tarekatnya. Syekh, mursyid, dan tarekat memang besar manfaatnya bagi orang yang akan dengan serius menekuni dunia suluk.

Salik  modern tidak mesti harus melakukan perubahan drastis dari berbagai aspek kehidupan. Seorang salik tidak tepat mendramatisasi diri sebagai orang yang sangat spesifik, apalagi mengklaim diri sebagai kelompok ”manusia suci”.

Sufi atau salik yang sejati ialah mereka yang mampu menyembuyikan diri dan kondisi batin yang dialaminya di depan orang lain. Jika ada salik yang suka memamerkan ke-salik-anya maka sesungguhnya belumlah ia seorang salik sejati. Salik sejati memilih untuk tidak populer di bumi agar populer di langit (majhul fil ardh ma’lum fis sama’).

Di atas langit masih banyak langit. Seorang salik tidak bisa angkuh dan menganggap orang lain rendah dan kotor atau menganggap salik selainnya keliru. Dalam Alquran surah al-Kahfi, Tuhan menegur Nabi Musa, sang manusia populer, dan mengunggulkan Khidhir, sang manusia biasa-biasa.

Oleh karena itu, kita pun harus hati-hati membaca orang, sebab Tuhan Mahapintar menyembuyikan kekasih-Nya di dalam berbagai topeng penampilan. Hati-hati! Orang yang suka menyalahkan orang lain pertanda masih harus belajar. Kalau sudah menyalahkan dirinya sendiri, berarti sudah sedang belajar. Kalau sudah tidak lagi pernah menyalahkan orang lain, berati sudah selesai belajar karena sudah arif.

Ketika Mencapai Maqam Puncak

Cepat atau lambatnya perjalanan spiritual seseorang ditentukan bukan hanya kuantitas, melainkan juga kualitas mujahadah dan riyadhah.

Yang dimaksud maqam di sini ialah puncak pencapaian spiritual yang dapat dicapai seseorang. Ibarat tangga yang mempunyai beberapa anak tangga, harus didaki para pencari Tuhan (salik) melalui berbagai usaha.

Dari anak tangga pertama hingga puncak memerlukan perjuangan dan upaya spiritual, mujahadah dan riyadhah. Anak-anak tangga (maqamat) tidak sama pada setiap orang atau setiap tarekat.

Namun, secara umum maqam-maqam tersebut, antara lain, tobat, shabr, qanaah, wara’, syukur,  tawakal, ridha, ma’rifah, mahabbah. Tiga maqam terakhir sering dianggap sebagai maqam puncak.
 
Mujahadah dari akar kata jahada berarti berjuang dan bersungguh-sungguh. Seakar kata dengan kata jihad berarti berjuang secara fisik, ijtihad berjuang secara nalar, dan mujahadah berarti berjuang dengan olah batin.

Sedangkan, riyadhah berasal dari kata radhyiya berarti senang, rela. Ini seakar kata dengan ridhwan berarti kepuasan dan kesenangan. Mujahadah dan riyadhah merupakan dua hal tak terpisahkan di dalam diri seorang sufi atau salik.

Mujahadah dan riyadhah bisa mengambil bentuk berupa penghindaran diri dari dosa-dosa kecil  (muru’ah), melakukan amalan rutin, seperti puasa Senin-Kamis dan puasa-puasa sunah lainnya.

Selain itu, tidak meninggalkan shalat-shalat sunah rawatib (Qabliyah dan Ba’diyah) dan shalat-shalat sunah lainnya. Dan, mengamalkan zikir dan wirid secara rutin, memperbanyak amal sosial dengan penuh keikhlasan, serta meninggalkan nafsu amarah dan cinta dunia berlebihan.

Ketika seseorang dengan konsisten menjalani mujahadah dan riyadhah, secara otomatis orang itu mencapai anak-anak tangga lebih tinggi. Cepat atau lambatnya perjalanan spiritual seseorang ditentukan bukan hanya kuantitas, melainkan juga kualitas mujahadah dan riyadhah itu.

Ada orang yang berhasil mencapai maqam kedua atau ketiga, tetapi sulit naik ke maqam berikutnya karena tingkat mujahadah dan riyadhah-nya pas-pasan. Ada juga terus melejit dan tidak terlalu lama berada di dalam anak-anak tangga bawah. Semuanya tergantung tingkat istiqamah seseorang.

Ketika seseorang merangkak naik meninggalkan posisi semula, lalu melakukan mujahadah dan riyadhah maka akan terjadi perubahan mendasar dalam dirinya.

Perubahan itu tak hanya dilihat dan dirasakan oleh dirinya sendiri, tapi juga orang lain. Terutama, keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Biasanya orang yang sudah memasuki anak tangga salik merasakan ketergantungan atau ketagihan. Seolah perjalanan hidupnya selama ini kosong tanpa makna. Ia baru merasakan makna hidup yang sesungguhnya.

Itulah sebabnya muncul fenomena melakukan uzlah dan pengembaraan dari masjid ke masjid, dari suatu daerah ke daerah lain, bahkan dari satu negara ke negara lain.

Mereka meninggalkan keluarga, mengenyampingkan pekerjaan rutinnya di kantor, dan mengganti sahabat lama dengan sahabat spiritual baru. Akan tetapi, tidak sedikit pula orang yang kecewa di dalam pencariannya.

Apa yang diharapkan dan diimajinasikan di dalam perjalanan spiritualnya berbeda dengan kenyataan hidup yang dialaminya. Akibatnya, mereka kembali ke dunia lamanya, mungkin jauh lebih mundur lagi.

Kedua kutub ekstrem ini disebabkan kurangnya pengenalan teoretis tentang dunia sufi dan tasawuf. Mereka langsung mempratikkan tanpa pernah memperoleh pengenalan dari dari guru spiritual yang berpengalaman.

Fenemona kehidupan spiritual pada masa depan cenderung semakin menyempal. Ini disebabkan oleh semakin luasnya potensi kekecewaan batin di dalam lingkungan kehidupan modern dan bermunculannya kelompok-kelompok pengajian plus.

Seolah-olah masa depan itu datang lebih cepat melampaui kecepatan umat mempersiapkan diri. Akibatnya, multiple shock sedang melanda umat kita.

Bukan hanya cultural  shock, seperti yang pernah dibayangkan Alfin Toffler dalam karya monumentalnya, The Future Shock. Tidak saja terjadi di dalam umat Islam, tetapi juga umat-umat agama lain.

Seolah-olah beberapa institusi dan pranata formal keagamaan yang sekian lama hidup di masyarakat  dirasakan pemeluknya sudah termakan usia.

Dengan demikian, terjadi jarak antara ajaran agama dan kecenderungan isi hati serta jalan pikiran pemeluknya. Fenomena seperti ini berpotensi melahirkan sejumlah kekecewaan.

Yang perlu dicermati, jangan sampai kekecewaan itu ditempiaskan ke dalam bentuk kegiatan-kegiatan radikal, yang seolah-olah akan berusaha membendung arus zaman. Maraknya terorisme dan kegiatan-kegiatan anarkisme yang bertema agama di sekeliling kita boleh jadi bagian inheren dari kekecewaan masif tadi.

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar
yy/republika.co.id