pustaka.png
basmalah.png.orig


5 Dzulqa'dah 1442  |  Selasa 15 Juni 2021

Umar dan Tips Memilih Pemimpin

Umar dan Tips Memilih Pemimpin

Fiqhislam.com - Satu hal yang tidak bisa dipungkiri memiliki peran dan pengaruh besar dalam sebuah komunitas bangsa dan negara ialah pemimpin. Bahkan, baik buruknya suatu negara juga ditentukan oleh kualitas dan komitmen dari pemimpinnya.

Oleh karena itu, umat Islam wajib atau punya tanggung jawab untuk menentukan pemimpin bangsa dan negara yang benar-benar memiliki kapabilitas, integritas, loyalitas dan komitmen tinggi dalam membangun bangsa dan negara, utamanya yang aspiratif terhadap kebutuhan umat Islam.

Sebab, diakui atau tidak, pilihan dari suara umat Islam terhadap kandidat pemimpin yang ada, akan berdampak besar bagi perjalanan bangsa dan negara ini, walau mungkin hanya sebatas lima tahun. Tetapi, kalau kita bisa memastikan yang terbaik dan menjauhkan yang terburuk, mengapa tidak kita lakukan. Toh, otoritas memilih siapa untuk Indonesia ke depan masing-masing dari individu Muslim memiliki hak mutlak yang sama.

Menentukan Kriteria

Sebelum menentukan pilihan, hal pertama yang mesti dilakukan ialah menentukan kriteria, pemimpin seperti apa yang dinilai layak untuk memimpin ke depan.

Tentu sudah banyak kriteria yang ada. Bahkan, dari masing-masing kandidat pemimpin yang masuk dalam ‘kompetisi’ juga telah memberikan berbagai informasi tentang kriteria mereka sendiri. Ada yang tegas, ada yang sederhana dan lain sebagainya.

Akan tetapi, jika kriteria yang kita tentukan berangkat sebatas jargon dari sang kandidat, tentu masih terlalu lemah. Kita perlu penentuan kriteria yang tidak saja normatif bersumber dari ajaran Islam, tetapi yang secara aplikatif juga pernah dicontohkan oleh pemimpin-pemimpin Islam tangguh yang sejarah kepemimpinannya memberikan inspirasi kehidupan umat manusia.

Tauladan Umar bin Khathab

Dalam bahasan kali ini, kita akan mengambil ibrah atau pun pelajaran dari keteladanan yang dilakukan oleh Umar bin Khathab dalam memilih pemimpin. Dengan demikian, akan menjadi terang dan jelas, bagaiamana pemimpin yang layak bagi negeri ini ke depannya.

Dr. Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya “Syaksiyatur Umar wa Aruhu” yang edisi Indonesianya berjudul “The Great of Leader Umar bin Khathab” menjelaskan bagaimana metode Umar bin Khathab dalam memilih pemimpin.

Pertama, harus bertakwa, wira’i (santun dan rendah hati) dan menguasai hukum-hukum Islam. Jadi, jangan memilih pemimpin yang tidak bertakwa, banyak membanggakan diri dan rabun atau buta terhadap hukum-hukum Islam, sehingga nantinya akan banyak membiuat keputusan yang berpotensi merusak aqidah dan akhlak umat Islam.

Kedua, memiliki kesabaran dan optimisme. Seorang pemimpin mutlak perlu kesabaran dalam segala hal. Sabar dalam menuntaskan amanah yang diembannya, sabar dalam menuntaskan pekerjaan-pekerjaan yang dicanangkannya. Bahkan sabar dalam memenuhi janji-janji yang telah diucapkannya sendiri. Dengan sabar yang demikian, insya Allah optimisme bisa dibangun dan terus dipelihara.

Ketiga, harus tegas, pemberani dan pandai memanah. Dalam kriteria ini yang perlu diinterpretasikan lebih modern adalah pandai memanah. Dalam konteks kekinian, memanah di sini bisa diartikan pandai dalam menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa secara cepat, tepat dan akurat. Misalnya dalam hal pendidikan, kemiskinan dan pengangguran.

Keempat, harus cerdas, cerdik dan cekatan. Seorang pemimpin mutlak harus cerdas, cerdik dan cekatan. Jika tidak ada hal itu maka bagaimana mungkin kemajuan bangsa dan negara bisa dicapai. Sebab, pemimpin tidak boleh belajar dalam menghadapi masalah rakyat. Karena jika salah, fatal akibatnya.

Kelima, cerat dalam masalah peperangan. Dalam hal ini perlu lagi satu interpretasi. Bangsa kita tidak sedang perang dalam konteks senjata, itu betul adanya. Tetapi negeri kita sedang dilanda kemiskinan, kebodohan, pengangguran dan krisis akhlak yang luar biasa. Dalam situasi seperti ini, kita perlu pemimpin yang bisa memerangi semua masalah mendasar tersebut. Jadi, seorang pemimpin tak cukup hanya sederhana dalam pengertian pakaian, tetapi yang benar-benar bisa menang dalam peperangan yang mendasar ini.

Keenam, memiliki semangat tinggi dalam bekerja. Pemimpin seperti itu hanya lahir dari sosok yang masa lalunya pernah mengalami yang namanya tempaan disiplin tingkat tinggi. Tanpa itu, tidak mungkin seorang pemimpin bisa memiliki semangat tinggi dalam bekerja dan berkarya.

Apabila kriteria mendasar yang menjadi tolok ukur Umar bin Khathab dalam memilih pemimpin ini kita temukan dalam diri salah seorang kandidat pemimpin, maka jangan ragu, insya Allah kemaslahatan umat akan terwujud. Namun jika tidak ada, maka pilihlah yang setidak-tidaknya ia memiliki komitmen menghormati hak-hak azasi umat Islam.

Salah seorang sahabat yang bernama Wirdad berkata, “Barangsiapa memelihara (memilih) orang yang buruk perangainya dan dia tahu akan hal itu, maka orang tersebut juga termasuk orang yang buruk.”

Mari kita manfaatkan hak dasar kita dalam menentukan pemimpin masa depan republik ini dengan penuh kebijaksanaan. Hindari lagi gaya memilih dengan asal pilih. Etapi pilihlah berdasarkan kriteria yang bsa kita ambil dari sejarah pemimpin besar masa lalu. Sebab, pilihan kita sedikit banyak akan mewarnai masa depan bangsa di lima tahun mendatang. Wallahu a’lam. [yy/hidayatullah.com]