16 Rabiul-Awal 1443  |  Sabtu 23 Oktober 2021

basmalah.png

Hati-hati Prasangka

Hati-hati Prasangka
Fiqhislam.com - Siapapun yang menegakkan tauhiid, sudah menjadi sunnatullah dibenci orang yang bertentangan visinya. Kita lihat Rasulullah. Luar biasa akhlak dan tak ada cacat. Bicaranya benar, janjinya selalu ditepati, gelarnya al-Amin. Ketika mulai menyuarakan Laa ilaaha illallah, semua berbalik. Yang suka menjadi murka, kawan menjadi lawan, yang dekat menjadi jauh.
 
Ketika tauhiid ditegakkan, maka akan timbul reaksi. Siapa yang reaksinya paling kuat? Yaitu orang yang tidak bertauhiid. Yang menuhankan dunia, harta, jabatan, dan kedudukan. Lalu bagaimana sikap Rasulullah?
 
Cuma satu hal, yaitu istiqamah. Konsisten dengan apa yang disampaikannya. Tidak gentar, tidak terpengaruh oleh apa pun. Karena Rasulullah menyampaikan risalah tauhiid bukan supaya ditaati orang, tapi membuat orang taat pada Allah. Tapi karena prasangka dan kecintaan pada dunia, semua kesempurnaan yang ada pada Rasulullah seolah menghilang dari orang-orang yang menentangnya.
 
Ada prasangka, ada fakta. Prasangka itu dilarang oleh Allah. “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…” (QS.al-Hujurat [49]: 12).
 
Orang yang berprasangka, Allah hujamkan kegelisahan di hatinya. Orang yang berprasangka menjadi buta dan tuli terhadap kenyataan. Yang dia cari bukan kebenaran, tapi pembenaran atas prasangkanya.
 
Makanya, setelah prasangka, orang menjadi tajassus. Mencari-cari yang bukan hak ataupun kewajibannya. Mengorek-ngorek hal yang bukan tanggung jawabnya di dunia dan akhirat. Setelah tajassus, berlanjut menjadi suatu hal yang paling dibenci Allah, paling hina dan menjijikkan, yaitu ghibah. Sesuatu yang dalam al-Quran diumpamakan seperti manusia kanibal.
 
Berprasangka buruk melahirkan banyak hal buruk. Gara-gara suudzhan terhadap seseorang, tertutup pintu untuk kita mengambil ilmu dan hikmah dari orang tersebut. Gara-gara suudzan, jadi buruk hati, tajassus, ghibah, dan terhina. Makanya, suudzhan disebut sebagai seburuk-buruk perkataan. Yang Allah senangi itu fakta. Berbuat berdasarkan fakta tidak akan berat, akan tenang hatinya.
 
Dengan husnuzhan, kita bisa melihat banyak hikmah. Kalau suudzhan, dibimbingnya oleh setan.
 
“Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran Allah, kami biarkan setan menyesatkannya dan menjadi teman karibnya. Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS.az-Zukhruf [43]: 36-37).
 
Jadi, bagaimana membedakan kita berada di jalan Allah atau tidak? Kalau benar-benar berada dalam kebenaran, ada hadiah dari Allah yaitu keyakinan. Orang yang yakin, tenang hatinya, mantap, dan istiqamah.
 
Orang yang sok tahu, hatinya tidak tenang. Bisikan setan tidak akan pernah membuat hati tenang meski menyangka dirinya ada dalam kebenaran. Ciri dosa itu ada dua, gelisah dan takut ketahuan. Karena hidup tidak akan tenang dengan maksiat. Hidup akan tenang dengan makrifat.  
 
Oleh: KH Abdullah Gymnastiar
yy/inilah.com