19 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 25 Oktober 2021

basmalah.png

Belajar dari Suasana Batin: Ketika Ditimpa Musibah

Belajar dari Suasana Batin: Ketika Ditimpa Musibah

Fiqhislam.com - Suasana batin bagi setiap orang cenderung sama saat mengalami lima peristiwa. Pertama, ketika seseorang sedang ditimpa musibah atau kekecewaan. Kedua, ketika seseorang sedang mempunyai hajat besar.

Ketiga, ketika seseorang baru saja melakukan dosa besar. Keempat,  ketika seseorang sedang di dalam keadaan normal dan kelima, ketika seseorang sudah mencapai maqam spiritual lebih tinggi.

Dalam Alquran, musibah dapat dibedakan dengan azab dan bala. Musibah adalah ujian yang harus dilewati seorang hamba dan berfungsi sebagai proses pembelajaran agar kehidupan masa depan dapat dijalani dengan lebih baik.

Musibah tidak hanya menimpa para pendosa, tetapi juga orang-orang yang saleh. Berbeda dengan azab, yaitu siksaan yang hanya diperuntukkan kepada mereka yang durhaka, seperti azab yang pernah ditimpakan umat-umat terdahulu.

Azab tidak menimpa orang yang saleh, seperti banjir Nuh yang hanya menenggelamkan umat Nabi Nuh AS yang durhaka, sedangkan dirinya bersama pengikut setianya selamat.

Demikian pula umat Nabi Shaleh AS, ia bersama umat setianya selamat dari wabah epidemi yang menimpa kaumnya. Termasuk, kakek Nabi Muhammad SAW, Abdul Muthalib, selamat dari keganasan thair ababil yang memorakporandakan pasukan Abrahah.

Sedangkan, bala hampir sama dengan musibah, hanya skalanya lebih personal dan berhubungan dengan human error atau terkait erat dengan hukum sebab-akibat. Misalnya, karena kecerobohan dan kelengahan maka seseorang mengalami kecelakaan.

Musibah di sini dapat dicontohkan dengan salah seorang anggota keluarga tercinta kita meninggal dunia, dokter memvonis kita menderita penyakit akut, atau mendapatkan fitnah keji dari orang lain, atau mengalami kekecewaan berat.

Misalnya, gagal promosi, gugur dalam seleksi, dijauhi teman, dan semacamnya. Kondisi batin seperti ini pasti sangat menyakitkan dan membuat orang menjadi putus asa serta kehilangan optimisme dan harapan hidup. Bahkan, kondisi seperti ini sering kali membuat seseorang berfikir atau melakukan solusi jalan pintas.

Bagi orang beragama, cara terbaik yang harus dilakukan ialah kembali kepada Tuhan. Kita harus yakin, sebesar apa pun sebuah problem pasti masih di ambang batas kemampuan hamba-Nya.

Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih, tidak mungkin membebani sesuatu di luar batas kemampuan dan daya dukung hamba-Nya. “Allah tidak akan membebani hamba-Nya melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS al-Baqarah [2]: 286).

Dalam perspektif tasawuf, musibah atau kekecewaan hidup adalah salah satu wujud “surat cinta” Tuhan kepada hamba-Nya. Mungkin Tuhan merindukan hamba-Nya, tetapi yang bersangkutan terkecoh dan tersesat dengan kesenangan duniawi.

Akhirnya, Tuhan mengutus musibah atau kekecewaan kepadanya dan ternyata ia secara efektif kembali kepada Tuhannya.

Seseorang yang hidup di dalam kemewahanan atau dalam kondisi berkecukupan sering kali lebih sulit untuk melakukan pendakian (taraqqi) kepada Tuhannya karena semua kebutuhannya terpenuhi.

Kiat menyikapi musibah, kita harus tawakal, menyerahkan diri secara total dan sepenuhnya kepada Allah SWT. Allah SWT sedang mencintai hamba-Nya dan ingin menyelamatkannya dari siksaan lebih pedih dan lama.

Nabi pernah bersabda: “Tidaklah seorang Muslim ditimpa musibah, kedukaan, penyakit, kesulitan hidup, kesengsaraan, hingga semisal duri yang menusuk kakinya, melainkan itu semua berfungsi sebagai pencuci dosa masa lampau.” (Muttafaq Alaih).  

Dalam kesempatan lain, Rasulullah menegaskan dalam hadis dari Anas RA yang diriwayatkan Turmudzi: “Jika Allah SWT menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya maka Ia menyegerakan siksaan-Nya (di dunia) dan jika Allah SWT menghendaki sebaliknya kepada hamba-Nya maka Ia menunda siksaan-Nya di hari kiamat.”

Musibah dan kekecewaan tidak mesti diratapi terlalu lama. Sering kali kita harus bersyukur bahwa musibah memang membawa kekecewaan hidup, tetapi pada saat bersamaan kita bisa merasakan adanya kedekatan khusus diri kita dengan Tuhan.

Sering kali justru rasa kedekatan itu lebih menonjol ketimbang rasa kekecewaan itu. Ini artinya, musibah membawa nikmat dan betul-betul musibah terasa sebagai “surat cinta” Tuhan kepada kekasih-Nya.

Semenjak musibah itu terjadi, sejak itu terjadi perubahan total hubungan diri kita dengan Tuhan.

Sebelumnya, kita berjarak dengan Tuhan, tetapi dengan musibah itu kita tidak lagi mau berpisah dan berjarak dengan Tuhan.

Musibah kita sikapi dengan tawakal dan mengikhlaskan diri kita kepada-Nya. Semua itu sudah suratan takdir dan telah tercatat di buku blue print (Lauh al-Mahfuzh).

Kekuatan tawakal dan ikhlas akan memberikan keajaiban di dalam diri kita. Ini jaminan Tuhan: “Jangan berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS at-Taubah [9]:40).

Kiat menjalani dan mempertahankan sikap tawakal dalam diri kita, diajarkan oleh kalangan guru-guru tasawuf, dengan menghayati secara mendalam dua kalimat syahadat. “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah”.

Dengan diawali kalimat negasi, menafikan segalanya, kalau perlu menafikan keberadaan wujud kita sendiri. Seolah-olah yang ada dan eksis di jagat ini hanyalah Dia, Allah SWT. Kita melenyapkan hakikat dan substansi diri kita, lalu larut kepada suatu wujud Yang Mahaabadi.

Kita bagaikan mayat yang hanyut di sungai, ke manapun sungai itu bermuara, di situlah kita akan dibawa. Makrifat seperti ini lebih mudah muncul ketika kita sedang sujud di atas hamparan sajadah di hadapan kebesaran Allah SWT.

Lupakanlah musibah dan kekecewaan itu, hilangkanlah semuanya, kalau perlu lupakanlah keberadaan dirinya, seolah-olah yang ada hanyalah Dia sendiri. Semuanya kembali dan menyatu dengan-Nya. Seolah, musibah itu datang untuk menghapus memori gelap masa lampau kita.

Ikhlas yang sesungguhnya memberikan rasa optimistis ke dalam diri setiap orang. Orang yang menjalani keikhlasan penuh tidak akan pernah merasa sedih, sakit, lelah, dan kecewa karena semua yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT.

Karya dan pengabdian yang dilakukan bukan karena Allah SWT itulah yang sering menyedot energi batin seseorang. Yang bersangkutan sering merasa kecewa, lelah.

Jika semuanya kita niatkan seikhlasnya dan kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT maka hidup ini pasti tenang, tidak akan merasa kecewa, tidak akan bersedih, tidak pernah merasa jatuh, dan mungkin tidak akan pernah lagi kita merasa sakit, Allahu Akbar. 

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar
yy/republika.co.id