fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Ramadhan 1442  |  Rabu 14 April 2021

Selalu Ada Waktu Untuk Allah

Selalu Ada Waktu Untuk Allah

Fiqhislam.com - “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).

Seorang hamba bertanya kepada dirinya, bagaimanakah caranya agar kita memiliki keindahan rasa dalam hati pada setiap kegelisahan? Dan yang pasti dan tidak terpungkiri, ialah bagaimana cara kita mengingat Allah SWT dalam setiap kegelisahan itu sendiri.

Tak banyak hamba yang memikirkan bagaimana cara ia menyikapi kegelisahan yang ia hadapi, dengan keyakinan bahwa kegelisahan itu adalah cara bagaimana Allah SWT mengingatkan ia kepada-Nya.

Mereka mengeluh, namun waktu tak pernah memperdulikan apa yang mereka keluhkan. Mereka putus asa, namun waktu pun terus berputar dan tidak pernah memikirkan apa yang mereka sesalkan.

Ketahuilah, “Al waqtu kassaifi, fain lam taqtho’uhu qotho’aka.”

Waktu itu bagaikan pedang jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya) maka ia akan memotongmu.

Pertolongan manusia, keluarga, teman, atau bahkan sahabat tidaklah lebih dari waktu yang bisa mereka berikan kepada kita yang meminta pertolongan dan tidak selamanya mereka bisa selalu ada ketika kita membutuhkan. Oleh karena itu, janganlah bersedih hati atau bahkan sakit hati dari sikap ketidakbisaan mereka untuk memberikan pertolongan kepada kita. Boleh jadi itu jalan Allah SWT memanggil hamba-Nya untuk meminta pertolongan kepada-Nya.

Rasulullah SAW bersabda:“
…Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah…” (HR. Tirmidzi).

Ketika kita bisa memilih untuk tegar, mengapa kita harus terhanyut dalam kesedihan. Ketika kita bisa memilih untuk bertawakal, mengapa kita harus bersusah payah dalam kegelisahan.

Ketika air sungai yang mengalir dengan kesabarannya mampu menemukan muara air lautan. Mengapa kita sebagai manusia tidak mampu menemukan keyakinan dalam hati untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah bagaimana kita mempelajari ujian dengan keikhlasan. Sedangkan keikhlasan adalah bagaimana kita memberikan kebahagiaan untuk orang lain dengan kesabaran. Cukuplah Allah SWT sebagai tempat di mana kita mencari pertolongan. Dan cukuplah Rasulullah SAW sebagai contoh bagaimana kita mempelajari kehidupan dengan keikhlasan dan kesabaran.

Hanya manusia yang berjiwa tangguh yang mampu memberikan keindahan dalam setiap ujian. Dan hanya orang yang berjiwa lemah yang suka menciptakan angan-angan dalam setiap ujian. Tidak akan pernah ada orang yang sukses tanpa adanya usaha (ikhtiar), sebaliknya tidak akan pernah hadir kesuksesan kepada seseorang tanpa adanya tawakal.

“The higher your expectation is, the more pain you’ll get.“

(Semakin tinggi ekspektasi Anda, maka rasa sakit akan Anda dapatkan).

Rasulullah SAW bersabda: “
Sungguh mengagumkan urusannya orang mukmin itu, semua urusannya menjadi kebaikan untuknya…” (HR. Muslim).

Dan ketika kita menggantungkan pengharapan kepada makhluk, maka bersiap-siaplah untuk mengalami rasa kecewa. Sebab manusia adalah tempatnya khilaf/salah. Sedangkan ketika kita menggantungkan pengharapan kepada Allah SWT, yang akan kita dapatkan adalah kebahagiaan yang menghapus kesedihan dalam setiap lelahnya hidup yang yang tak pernah ada puasnya.

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. Al Ikhlas: 2).

Tidak akan pernah berhasil seseorang yang hanya bisa bergantung kepada orang lain dalam setiap ikhtiarnya. Dan tak akan pernah bisa bahagia seseorang yang hanya bisa melihat kesuksesan orang lain tanpa pernah mau untuk mencobanya.

Laa Tahzan Innallaha Ma’ana.

Dan cara bagaimana kita bisa tersenyum dalam setiap ujian adalah bagaimana kita mengenal Allah SWT dalam setiap ibadah kita.

Orang yang selalu merasa sedih dalam setiap kehidupannya adalah orang yang tidak pernah mengenal Allah SWT dalam setiap aktivitasnya.”  (Moejahid HB).

yy/islampos.com