25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

Ketika Bilal Kumandangkan Adzan, Menangislah Para Sahabat

Ketika Bilal Kumandangkan Adzan, Menangislah Para Sahabat

Fiqhislam.com - Bilal bin Rabah atau dikenali juga sebagai Bilal Habashi dilahirkan di Kota Makkah sekitar tahun 43 sebelum Hijrah. Bilal r.a dibesarkan di Kota Mekah sebagai seorang hamba anak-anak yatim Bani Abdul Dar yang berada di bawah jagaan Umaiyyah bin Khalaf. Ibu beliau bernama Hamama yang berketurunan Abasyiah manakala ayah beliau bernama Rabah yang berketurunan Arab. Beliau merupakan seorang hamba kepada Amit bin Khalaf.

Setelah Rasulullah SAW dibangkitkan menjadi Nabi dengan membawa risalah Islam, Bilal merupakan kalangan orang-orang yang paling awal memeluk Islam. Ia memeluk Islam di Syam dengan bantuan seorang sahabatnya yaitu al-Fadhil. Ketika ia memeluk Islam, hanya terdapat beberapa orang saja yang memeluk Islam di atas muka bumi ini yaitu Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar As-Siddiq, Ali bin Abi Talib, Ammar bin Yasir serta ibunya Sumaiyyah, Suhaib Ar-Rumi dan Al-Miqdad bin Al-Aswad.
 
Bilal merupakan salah seorang Muslim yang paling banyak menerima penyiksaan, kekejaman dari golongan musyrikin. Sebagian besar dari kalangan mereka yang memeluk Islam pada masa tersebut mempunyai keluarga tempat mereka berlindung dari kekejaman golongan musyrikin. Faktor itulah yang menyebabkan mereka menjadi sasaran golongan musyrikin Quraisy untuk melepaskan geram mereka terhadap Islam.
 
Pada suatu hari terjadi peristiwa Umaiyyah bin Khalaf bersama-sama sekumpulan golongan musyrikin menanggalkan pakaian Bilal, mereka memakaikannya dengan baju besi kemudian mereka menjemurnya di bawah panas terik cahaya matahari dalam keadaan pasir yang panas membakar. Mereka juga memukulnya dengan menggunakan cemeti sambil memerintahkan Bilal supaya mencaci Nabi Muhammad SAW. Namun, bagaimana hebat sekalipun penyiksaan yang mereka timpakan kepada Bilal namun Bilal tetap dengan pendiriannya di mana ia tidak menyebut apa-apa kecuali perkataan: “Allah yang Maha Esa! Allah yang Maha Esa!”
 
Umaiyyah bin Khalaf merasa putus asa menyiksa Bilal, Umaiyyah mengikat lehernya dengan menggunakan tali yang besar kemudian menyerahkan kepada orang-orang yang bodoh dan kanak-kanak. Ia kemudian meminta supaya mereka mengyeretnya ke seluruh kawasan Kota Mekah dan mereka membawanya ke kawasan-kawasan yang berbatu sambil berlari.
 
Selepas peristiwa tersebut Abu Bakar r.a memerdekakan Bilal dengan cara membelinya dari Umaiyyah bin Khalaf dengan harga 9 tahil emas. Umaiyyah bin Khalaf sengaja menjualnya dengan harga yang mahal supaya Abu Bakar tidak mau membelinya sedangkan di dalam hati dia berkata: “Sekiranya Abu Bakar tidak mau membelinya dengan harga tersebut, aku tetap akan menjualnya walaupun dengan harga 1 tahil emas.”
 
Sebaliknya Abu Bakar juga berkata di dalam hatinya, “Sekiranya dia tidak mau menjual dengan harga tersebut, aku tetap akan membelinya walaupun dengan harga 100 tahil emas.”
 
Bilal gembira dengan kemerdekaan tersebut karena ia dapat memulai era baru suasana kehidupan yang penuh dengan kebebasan yang tidak pernah dijanjikan kepadanya. Kemudian ia berhijrah ke Madinah bersama-sama dengan rombongan umat Islam yang berhijrah ke sana.
 
Bilal menjadi tukang adzan Rasulullah SAW sepanjang hidupnya. Pernah terjadi ketika semasa Rasulullah SAW wafat, Bilal mengumandangkan adzan tetapi setiap kali sampai pada, “Aku bersaksi bahawa Nabi Muhammad adalah Rasulullah,” Bilal menangis tersedu-sedu kemudian meminta Abu Bakar r.a supaya menyuruhnya untuk tidak lagi beradzan karena ia tidak dapat lagi menanggung kesedihan selepas meninggalnya Rasulullah SAW.
 
Setelah itu Bilal pergi bersama-sama delegasi dakwah pertama umat Islam dan menetap di Darya (sebuah tempat dekat dengan Damsyik). Hinggal akhirnya Umar bin Al-Khattab datang ke Damsyik dan meminta Bilal supaya mengumandangkan azan sekali lagi. Karena Umar terlalu mengasihi dan menghormati beliau. Umar pernah berkata: “Abu Bakar adalah tuanmu dan beliau telah memerdekakanmu,” ujarnya kepada Bilal.
 
Ketika  Bilal mengumandangkan azdan, Umar dan para sahabat yang pernah mendengar suara azan tersebut pada zaman Rasulullah SAW terus menangis tersedu-sedu kerana mereka teringat akan Rasul. Mereka semua pun menangis.
 
Bilal bin Rabah meninggal dunia setelah mengalami sakit. Pada waktu itu, Bilal sering sekali menyebut: “Besok kita akan bertemu dengan kekasih Muhammad dan sahabat baginda.” (islampos)
 
yy/nabawia.com
Dikutip dari: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah SAW/
karya: Khalid Muhammad Khalid/Diponegoro Bandung