fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


28 Sya'ban 1442  |  Sabtu 10 April 2021

Rahmat Allah Penuntas Masalah

Rahmat Allah Penuntas Masalah

Fiqhislam.com - Rahmat dan kasih sayang Allah meliputi seluruh alam ini, termasuk bagi manusia. Allah Ta’ala telah membukakan pintu rahmatNya kepada sembarang manusia yang Ia kehendaki, maka tidaklah ada satu pun yang bisa menahannya. Dan kalau Allah hendak menahan maka tidak ada satupun yang bisa melepasnya. Karena rahmat  itu adalah hak Allah semata.

Rahmat Allah dapat dilihat, didengar, dirasakan dengan sentuhan kulit, dibaui dengan ketajaman pembauan hidung, dikenyam dengan perasaan lidah, itulah yang bernama indera yang lima.

Tidaklah dapat dihitung berapa banyaknya rahmat Allah itu. Meskipun zaman modern telah menghitung dengan komputer, namun untuk mendaftar berapa rahmat Allah yang dapat dihayati, dirasakan dan ditanggapi. Di segala tempat dan di segala ruang. Dia didapati di dalam diri, dalam perasaan , di keliling diri, dan di luarnyapun.

Oleh karena Rahmat, maka sengsara dapat menjadi nikmat. Kalau rasa Rahmat dicabut, tidur di atas kasur empuk akan terasa  sebagai tidur  di atas duri. Kita menghadapi suatu kesulitan yang kadang kadang terasa tidak akan teratasi, tiba tiba Rahmat Allah datang, maka ternyatalah bahwa kesulitan tadi adalah pupuk untuk memperkuat pribadi. Sedang berjalan tentang melalui jalan raya hidup, tiba tiba datang gelora percobaan yang hebat dasyat. Kalau Rahmat datang, percobaan tadi terhadapi dan jiwa menjadi tenteram. Tetapi kalau Rahmat ditahan Allah, jalan ke muka menjadi gelap dan putus asa yang datang.

Tidak ada yang sempit kalau ada Rahmat Allah; semua lapang. Kesempitan akan datang kalau lupa kepada yang bersifat Rahman dan Rahiim.

Orang yang dirampas kemerdekaannya, dimasukkan dalam penjara karena korban pertentangan politik, dia dianggap anti pemerintah yang berkuasa. Hukuman tidak akan ditentukan entah sampai kapan, pengadilan pun tidak adil, hakim menahan persidangan perkaranya. Namun apabila Rahmat Allah dibuka, kemerdekaan yang terampas itu, di dalam penjara yang terkungkung, terali besi yang menghambat kehidupannya, semuanya akan menjadi tempat yang bahagia baginya. Dia  ditutup segala jalan di atas bumi, maka terbukalah jalan ke langit, kemudahan bermunajat kepada Ilahi. Dan kelak apabila ia telah keluar dari tahanan, maka ia akan menjadi manusia yang lebih matang.

Tetapi kalau rahmat Allah tertutup, di dalam istana permai pun orang menjadi ketakutan. Walau sebanyak mungkin penjaga penjaga disiagakan menjaga keamanannya , dia pun semakin merasa tidak aman. Tiap sepiring makanan yang akan dimakannya, diadakanlah khusus orang yang memakan lebih dahulu untuk mencicipinya , kali kali makanan itu beracun.

Begitulah perbedaan adanya Rahmat Allah dan tiadanya Rahmat Allah…jauh sekali perbedaannya…

HAMKA
yy/eramuslim.com