21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Apakah di Dunia ini Kita Hanya Main-main Saja?

Apakah di Dunia ini Kita Hanya Main-main Saja?

Fiqhislam.com - Makhluk di bumi dan alam semesta tak lepas dari Sang Khaliq yang telah menciptakan dengan sedemikian indah dan teratur. Kita, manusia yang memiliki akal berbeda dengan makhluk Allah SWT lainnya.

Keindahan dan keanggunan dunia ini pasti membuat diri kita terkagum-kagum, tapi akankah semua ini bertahan lama? Tentu semua ini bersifat fana atau sementara sebagaimana dalam firman Allah dalam Qur’an Surat Al An’am ayat 32 yang artinya:

“Dan tiadalah kehidupan ini selain dari main-main dan senda gurau belaka dan sungguh akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa maka tidaklah kamu mengetahui?”

Lantas, akankah di dunia ini kita main-main saja sedang di akhirat adalah kehidupan yang kekal. Banyak orang percaya hidup di dunia hanya sementara, maka jangan lupa beribadah kepada Allah karena nantinya pun kita akan kembali pada Allah. Kita pun sudah tahu tentang hal itu, yang menjadi pertanyaan adalah ‘Sudahkah kita yakin dengan semua itu?’

Mengapa terkadang seolah amnesia dengan semua itu? Padahal, pada dasarnya manusia telah berjanji pada Allah, Sang Pencipta. Janji yang sudah sangat dilupakan padahal kita adalah bagian dari umat Islam, sudah seharusnya tidak melupakannya yaitu makna syahadat Kita telah berikrar “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah”, bila kita renungkan dan memahaminya dengan benar bahwa tiada tuhan selain Allah.

Kita menyakini bahwa Allah satu-satunya yang wajib disembah dan Nabi Muhammad adalah utusannya yang dijadikan teladan bagi kita semua. Dalam shalat pun kita melafalkan “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah” artinya menyerahkan sepenuhnya diri kita pada Allah.

Dengan kata lain, seharusnya kita mau diatur oleh Allah. Islam tak bosan mengingatkan kita melalui Al Qur’an, bahwa dunia hanyalah sementara. Hal ini seharusnya membuat diri semakin mempertebal ketaqwaan dengan mengumpulkan pundi-pundi amalan shaleh untuk persembahan di akhirat kelak. Mari coba untuk selalu mengingat ini, kita sama-sama membangunkan manusia untuk tidak menyia-nyiakan kehidupan dunia ini

Apakah akan dihabiskan waktu di dunia dengan keburukan, sedang malaikat mencatat setiap perbuatan kita, jua Allah Mahamelihat? Ataukah akan dihabiskan waktu di dunia dengan kebaikan, malaikat mencatat perbuatan kita dan Allah pun Mahamelihat. Setiap keburukan dan kebaikan keduanya akan mendapat balasan, namun balasan yang berbeda.

Keburukan itu berarti merelakan diri dibalas tanpa ada manfaat dan merugikan sesamanya, kesengsaraan yang didapat tingkatan nya buruk. Sedangkan, kebaikan berarti menciptakan diri yang bermanfaat bagi sesamanya terutama untuk dirinya, kemuliaanlah yang didapat, tingkatannya sangat baik. Keburukan dekat dengan neraka kebaikan dekat dengan surga. Manakah yang akan kita pilih?

Relakah kita menukar dunia dengan nikmat indah yang kekal di surga atau menukar keindahan akhirat dengan dunia yang hanya sementara? Sementara hadist menyatakan “Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali semisal salah seorang dari kalian memasukan sebuah jarinya ke dalam lautan maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika di angkat,” (HR.Bukhari Muslim).

Oleh Mega Marlina
yy/islampos.com