fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


28 Sya'ban 1442  |  Sabtu 10 April 2021

Tiga Ciri Pemeliharaan Allah

Tiga Ciri Pemeliharaan AllahFiqhislam.com - Misalkan ada seseorang yang diminta ibunya mengantar ke pengajian. Ketika sampai, di luar susah mencari tempat parkir, dan mau menurunkan ibu di sana takut kualat. Ia pun terpaksa membawa kendaraannya ke dalam. Tiba di dalam, kata petugasnya, Selamat datang kang, silakan ngaji. Padahal tidak ada niat dan tidak ingin mengaji.

Namun, ia terpaksa masuk karena tangannya sudah dibimbing oleh petugas. Saat di dalam, ingin duduk di tempat yang ada sandarannya agar bisa tidur, ternyata telah penuh. Maka terpaksa lebih fokus dengan duduk agak ke tengah. Lalu, jamaah-jamaah yang datang mendorong-dorong supaya kebagian tempat, sehingga tanpa sadar ia sudah duduk di deretan paling depan. Ia pun semakin susah untuk mengantuk.

Tentunya kejadian tersebut tidaklah kebetulan. Melainkan diatur Allah agar mendapat ilmu yang tak terduga. Hal ini merupakan contoh kalau Allah sudah menyukai seorang hamba-Nya. Jadi, ciri pertama pemeliharaan Allah terhadap hamba yang disukai-Nya adalah dimudahkan taat kepada-Nya.

Ciri kedua adalah dipersulit berbuat maksiat. Misalnya setiap menaksir seseorang selalu ditolak. Atau, tiap mau pergi ngapel gagal terus. Bisa karena hujan, ban motor bocor, ditilang, maupun naik angkot salah jurusan. Lalu saat menelepon diangkat oleh neneknya yang sudah pikun, dan sms juga salah kirim ke ponsel orang lain.

Intinya penuh kesulitan. Maka bersyukurlah ketika besoknya, atau baru beberapa hari jadian, langsung diputus. Gagalnya maksiat ini merupakan bagian dari kasih sayang dan pertolongan Allah. Berbahagialah atas karunia jomblo itu. Boleh jadi setelah itu Allah memberi pendamping hidup kalau memang sudah waktunya.

Ada pun ciri ketiga, bakal dibuat Allah selalu ada keperluan kepada-Nya. Ada saja urusan yang membuat kita mengadu, mengiba, memohon, dan memelas kepada Allah. Sedangkan harapan-harapan kepada selain-Nya sudah diputus. Karena salah satu karunia Allah adalah kita dibuat senang meminta dan memelas hanya kepada-Nya.

Seperti ketika kawan-kawan kita yang kaya ditelepon tidak ada yang mengangkat, sms tidak ada yang membalas. Relasi atau kenalan lainnya sudah pindah ke negeri antah-berantah. Atau, ada yang bisa dihubungi tapi juga sedang kesusahan. Satu-satunya orang yang menjanjikan pekerjaan, saat didatangi ternyata beliau telah meninggalkan dunia yang fana ini.

Lalu, bank tempat menabung bangkrut. Padahal tabungan seumur-umur hanya itu adanya. Saat ingin menggadaikan motor, ternyata motor andalan itu sudah lebih dulu dibawa maling. Sementara seseorang yang dijatuhcintai serta selalu dipikirkan dan didoakan, ternyata benar-benar mau dengan sahabat kita sendiri. Atau, ada yang sudah bersumpah dan berjanji menikahi kita, dan dia memang berhasil memenuhi janjinya dengan yang lain.

Terus saja harapan demi harapan diputus, dan sandaran demi sandaran hati dihilangkan Allah. Tidak ada lagi selain-Nya yang terpaut, kecuali hati ini sudah remuk-redam. Hingga akhirnya hanya kepada Allah kita mengadu dan memelas pertolongan.

Demikian sebaliknya. Orang yang tidak disukai Allah juga ada tiga cirinya. Pertama, ibadahnya selalu gagal. Misalnya, saat Ramadan pukul tujuh pagi sudah berbuka puasa, padahal sahurnya juga jam setengah tujuh. Atau, pas mendengar azan Zuhur langsung mampir ke warung ingin berbuka. Kamu ngga puasa? kata temannya. Belum, ya? Tapi kok azannya sama dengan azan magrib. Padahal memang dia yang tidak pernah ke masjid.

Atau, mau bersedekah selalu gagal, dan malah dipakai jajan dan jajan lagi. Seperti ketika mau bersedekah 100 ribu ternyata uangnya ketinggalan, dan yang terbawa cuma 500 rupiah. Lalu sambil bergaya sendiri, Ah, tanggung, sedekahnya besok-besok saja, ini saya beli permen dulu. Pokoknya gagal tiap mau berbuat taat, karena memang imannya tak kuat.

Ciri kedua, maksiatnya lancar. Misalkan ada yang berniat korupsi lima juta, lalu dalam aksi bodohnya itu dia justru memperoleh 50 juta. Atau, sekali matanya berkedip ada 50 akhwat yang menaksir, setiap yang dia bilang I love you langsung mau diajak ke mana saja, dan dosanya ada di tiap perempatan.

Atau, ada yang ingin ngetop, lalu ia tiba-tiba terkenal sebagai aktor atau aktris mesum. Saat ingin peran yang begitu lagi untuk menaikkan popularitas, dia malah dijadikan pemeran utama dalam film yang memang bertema begitu. Maksiat yang lancar dan lancar, itulah petanda orang yang mendapat petaka.

Ada pun ciri ketiga, bakal tidak memiliki keperluan kepada Allah. Seperti tidak ingin salat dan berdoa, apalagi mengadu dan memelas kepada-Nya. Hidupnya lurus hanya pada dunia semata, dan bagi dia seakan-akan Allah tidak ada. Kalau yang begini sudah lengkap petakanya.

Ayo kita kejar perlindungan Allah. Kita mohonkan pemeliharaan dan pertolongan-Nya. Carilah ilmu tentang tauhid lebih banyak lagi, dan mujahadahkan. Supaya kita semakin disukai oleh Allah, serta dipelihara dari petaka dunia dan akhirat. Mudah-mudahan kita selalu berada dalam lindungan-Nya selama di tempat singgah ini.

Oleh KH Abdullah Gymnastiar
yy/inilah