21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Al Islamu Mahjubun bil Muslimin: Betul! Tapi…

Al Islamu Mahjubun bil Muslimin: Betul! Tapi…

Fiqhislam.com - “Al Islamu mahjubun bil Muslimin” (Islam tertutup oleh kaum Muslimin). Entah siapa yang pertama kali mempopulerkan ungkapan ini, namun yang jelas ungkapan tersebut telah diamini banyak orang dan dianggap sebagai cerminan realitas Islam dan umat Islam hari ini.

Secara singkat ia hendak mengatakan bahwa keunggulan, kemuliaan, dan keagungan Islam tertutup oleh perilaku kaum Muslimin sendiri. Sebagai bahan introspeksi ungkapan ini memang berguna dan juga punya pijakan dalam realitas kehidupan keseharian kita. Akan tetapi sebagus dan sebijak apapun sebuah ungkapan jika tidak diletakkan secara proporsional dapat membawa kita pada ekstrimitas yang pastinya ‘berbahaya’ dan jelas tidak sesuai dengan sifat “pertengahan” (wasathiyah) Islam.

Bila memahami ayat Al Qur`an yang pasti kebenarannya saja secara tidak proporsional bisa membawa kita kepada kekeliruan bahkan kesesatan apalagi ungkapan manusia biasa.

Islam dan ‘Nilai-nilai Universal’

Sejak dahulu hingga sekarang umat manusia di manapun dan kapanpun mengenal nilai-nilai yang dianggap ‘baik’ dan ‘buruk’. Sebagai contoh, siapapun dan di manapun, apapun agamanya atau tidak beragama sekalipun semua orang pasti akan sepakat bahwa memberikan senyuman, bersikap jujur, atau membantu orang yang kesusahan adalah ‘baik’. Sebaliknya berbohong, menipu, atau membunuh adalah ‘jahat’. Nilai-nilai ini bisa kita namakan ‘nilai-nilai universal’.

Sebelum Rasulullah diutus, masyarakat Arab jahiliyah pun sudah tahu bahwa membunuh, berzinah, atau menipu orang adalah perbuatan tercela. Bahwa dalam kenyataan banyak di antara mereka yang biasa melakukan hal tersebut, itu adalah karena dorongan hawa nafsu mereka semata, namun pada dasarnya mereka pun mengakui bahwa itu adalah perbuatan tercela.

Sebelum diangkat sebagai nabi, Muhammad bin Abdullah diakui oleh masyarakat Quraisy sebagai orang dengan sifat dan perilaku terpuji sehingga mereka menggelarinya Al Amin (Sang Terpercaya). Tentu saja penilaian ini didasarkan atas nilai-nilai masyarakat pada waktu itu yang belum tersentuh wahyu.

Orang-orang Quraisy tahu persis bahwa Rasulullah tidak pernah berdusta sehingga ketika beliau menyerukan kalimat tauhid dan mereka menolaknya sesungguhnya orang-orang Quraisy itu tahu bahwa mereka telah mengingkari kebenaran yang terang benderang bagaikan sinar matahari di siang bolong.

Oleh karena sikap kepala batu inilah, Allah menyebut orang-orang penolak risalah tauhid ini sebagai orang kafir, dari kata “kafara” yang berarti tertutup. Artinya orang-orang ini adalah orang-orang yang telah tertutup hatinya dari hidayah betapapun kebenaran telah datang denga terang benderang tanpa ada keraguan sedikit pun di hadapan mereka.

Satu hal yang patut direnungkan, vonis kafir dari Allah jatuh kepada orang-orang Quraisy ini setelah mereka terang-terangan menolak seruan dari seseorang yang mereka sendiri tahu persis bahwa ia tidak pernah berdusta dan tidak pernah melakukan perbuatan tercela bahkan merekalah yang memberinya gelar Al Amin.

Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang menolak seruan kebenaran (baca: Islam) yang disampaikan oleh seorang yang terpercaya sementara si penolak itu sendiri mengakui bahwa sang penyampai kebenaran adalah orang yang terpercaya maka tidak lain dan tidak bukan ia telah memilih untuk menjadi seorang pembangkang di hadapan Allah.

Apalagi jika ia tidak sekadar menolak tetapi juga menyatakan permusuhan kepada sang penyampai kebenaran, maka tidak bisa tidak ia telah menyatakan dirinya sebagai musuh Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman.

Akan tetapi perlu digarisbawahi bahwa statusnya sebagai pembangkang dan atau musuh Allah ini adalah manakala ia menolak kebenaran ketika tidak ada lagi kabut keragu-raguan bahwa apa yang ia tolak itu adalah kebenaran.

Mengapa tidak ada lagi kabut keragu-raguan? Karena yang menyampaikannya adalah orang terpercaya dan berkepribadian tidak tercela. Di sini kita bisa melihat bahwa sisi pribadi seseorang yang menyampaakan kebenaran bisa menjadi faktor yang menentukan apakah kebenaran itu telah terang benderang atau tidak.

Sekarang mari kita tengok diri kita sebagai pribadi Muslim dan juga umat Islam secara umum. Sudahkah kita menjadi diri dan umat yang terpercaya, yang jauh dari sifat dan perilaku tercela, yang bisa menjadi contoh bagaimana seharusnya manusia yang mulia itu?

Atau justru sebaliknya, perilaku kita sama sekali tidak bisa dijadikan teladan dan jauh dari predikat sebagai pribadi ataupun umat yang terpercaya? Jika itu yang terjadi maka benarlah ungkapan “Al Islamu mahjubun bil Muslimin”.

Seorang cendekiawan Muslim asal Inggris Timothy Winters alias Abdul Hakim Murad pernah berkata “Saya bersyukur bahwa saya mengenal Islam sebelum mengenal kaum Muslimin”. Ungkapan ini mencerminkan dengan tepat bagaimana perilaku kaum Muslimin berpotensi menjauhkan atau menutupi seseorang dari keagungan Islam.

Memang sepanjang masa selalu ada orang-orang yang berusaha mencari kebenaran dengan betul-betul obyektif tanpa melihat siapa yang memegang atau membawa kebenaran itu. Di antara para sahabat Rasulullah kita mengenal karakteristik ini pada sosok Salman al-Farisi ra. Akan tetapi sosok semacam ini adalah sosok yang langka. Kebanyakan manusia menilai apakah sesuatu itu layak disebut kebenaran atau tidak pertama-tama dari figur yang menyampaikannya.

Jika figur yang menyampaikan kebenaran tidak memenuhi standar moral yang ia pegang maka ia pun akan enggan untuk menerima apa yang disampaikan figur tersebut. Inilah kenyataan yang harus kita hadapi.

Bicara tentang standar moral tentu saja akan berbeda antara seorang yang sudah mengenal Islam dengan yang belum mengenal Islam, apalagi non-Muslim. Akan tetapi sebagaimana sudah dijelaskan di atas ada nilai-nilai yang bisa diterima secara umum oleh umat manusia di muka bumi ini apapun agamanya. Inilah yang dinamakan ‘nilai-nilai universal’.

Dalam konteks dakwah tentu wajar apabila umat Islam memegang komitmen terhadap nilai-nilai ini agar menjadi teladan moral yang baik bagi umat manusia pada umumnya. Namun sayangnya ada sebagian umat Islam yang mengabaikan ‘nilai-nilai universal’ ini atau mempertentangkannya dengan nilai-nilai Islam yang bersifat partikular (khas).

Bagi mereka, mempertontonkan hal-hal semacam pembunuhan, pengrusakan, atau caci-maki adalah hal yang sah-sah saja selama tidak menyalahi aturan syari’ah -yang memang dalam situasi, kondisi, dan batasan tertentu memperbolehkannya- betapapun dalam pandangan kebanyakan orang jelas bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tercela.

Mereka bisa saja beralasan bahwa standar benar-salah, baik-buruk, terpuji-tercela adalah benar-salah, baik-buruk, terpuji-tercela menurut apa yang diturunkan Allah, bukan menurut pandangan manusia. Memang alasan mereka itu benar, akan tetapi salahkah jika ada sesama Muslim yang lebih memilih berkomitmen terhadap ‘nilai-nilai universal’ dengan harapan bahwa sikap tersebut akan menunjukkan keluhuran Islam di hadapan umat manusia sehingga pada akhirnya dapat membuka pintu hidayah bagi mereka untuk menerima Islam?

Salahkah pilihan sikap ini sehingga mereka yang memilihnya dicap “liberal”, “tidak ber-wala` kepada kaum Muslimin dan bara` kepada orang-orang kafir”, “pengecut”, “pecundang”, “takut berjihad”, “sudah terkena penyakit wahn”, “antek kafir”, “kaki tangan thoghut” dan segudang predikat bernada merendahkan dan menghakimi lainnya?

Salahkah jika ada orang yang lebih memilih menampilkan Islam sebagai agama yang merangkul manusia dengan kelemah-lembutan, kesabaran, kesantunan, dan sikap dialogis sebelum mengajaknya ke jalan kebenaran ketimbang sebagai ideologi politik yang selalu membuat garis demarkasi antara “kita” vs “mereka”?

Jika Islam ditampilkan sebagai yang kedua, lantas apa bedanya kita dengan Bush Junior yang berkata “Either you are with us or against us!”.

Terlepas dari itu, di sisi lain ada pula sebagian Muslim yang memilih berkomitmen pada ‘nilai-nilai universal’ terjebak dalam kerancuan dalam memahami Islam dan alih-alih menjadi saksi atas kebenaran Islam mereka hanya menjadi pembebek dan pengekor pihak lain, entah mereka sadar atau tidak mereka telah kehilangan jati dirinya sebagai Muslim. Inilah yang akan kita bahas selanjutnya.

Muslim yang Kehilangan Jati Diri

Kita mungkin pernah mendengar ungkapan seperti “Di Barat itu Muslim sedikit tapi Islamnya di mana-mana”, “orang Jepang itu lebih Islami daripada kita yang Muslim”. Ungkapan-ungkapan tersebut ingin menggambarkan bagaimana masyarakat yang notabene mayoritasnya non-Muslim lebih mencerminkan nilai-nilai Islami yang ‘universal’ seperti disiplin, kerja keras, kejujuran, kebersihan dan sebagainya.

Kekaguman -atau lebih tepatnya kesilauan- semacam itu bukanlah hal baru. Para pengunjung Muslim pertama yang datang ke Eropa pada -seperti Rif’ah ath-Thahthawi dari Mesir dan para perwira Turki yang kelak membentuk gerakan Turki Muda- era industrialisasi di benua itu yang kebetulan bertepatan dengan kemunduran politik Dunia Islam juga mengalami kekaguman serupa.

Meminjam ungkapan Sayyed Hosain Nasr, ketika mereka datang ke Eropa mereka merasa seolah datang ke taman surga.

Para pengunjung Muslim ini dengan segera jatuh hati pada peradaban Barat yang ditinjau dari segi material tengah mengalami masa kejayaannya. Mereka berfikir bahwa jika umat Islam ingin maju dan mencapai kejayaan di dunia ini maka umat Islam harus mengikuti Barat dalam segala hal, bukan hanya mengambil produk ilmu pengetahuan dan teknologi dari Barat tetapi juga mengadopsi cara berfikir orang Barat yang rasional dan sekuler.

Lebih jauh lagi ajaran serta khazanah peradaban Islam yang dianggap menghambat “kemajuan” dan rasionalitas harus dikaji ulang atau bahkan bila perlu dibuang jauh-jauh.

Sebelum berbicara lebih jauh tentang hal ini terlebih dahulu kita perlu mengkritisi ungkapan-ungkapan yang dikemukakan di atas. Tidak perlu disangkal lagi bahwa Islam memang mengajarkan nilai-nilai yang sifatnya ‘universal’ seperti kejujuran, kedermawanan, kebersihan dan sebagainya yang dalam sistematika ajaran Islam termasuk ke dalam kategori akhlak. Akan tetapi harus diingat bahwa Islam bukan hanya mencakup akhlak melainkan juga akidah dan syari’ah.

Bahkan akhlak dalam Islam pun tidak hanya mencakup akhlak kepada sesama manusia atau kepada lingkungan semata tetapi juga akhlak kepada Allah, Dzat yang menciptakan alam semesta beserta segala isinya ini.

Tidaklah disebut orang yang berakhlak mulia seseorang yang menjaga hubungan baik dengan sesama manusia tetapi tidak mau menjalankan ibadah mahdlah. Begitu pula menyebut sebuah masyarakat yang jelas-jelas mayoritasnya non-Muslim sebagai masyarakat yang “Islami” adalah sebuah kerancuan yang nyata.

Bagaimana mungkin kita menyatakan masyarakat yang melegalkan ganja dan perkawinan sesama jenis, misalnya, sebagai masyarakat yang Islami? Lagi pula belum tentu masyarakat yang bersangkutan sudi kita sebut sebagai masyarakat yang “Islami”.

Dengan demikian maka ungkapan-ungkapan seperti di atas hanyalah sebuah hiperbola yang tidak perlu terus diulang-ulang agar tidak menimbulkan kerancuan terhadap pemahaman kita atas Islam.

Islam bukan hanya sekumpulan nilai moral umum yang menyangkut hubungan sesama manusia tetapi juga doktrin keimanan dan aturan legal-formal yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dan dalam hal ini Islam memiliki kekhasan-kekhasan yang membedakannya dengan agama atau filsafat hidup lainnya.

Jika ajaran Islam hanya menyangkut soal “berbuat baik kepada sesama manusia” -yang sebenarnya juga masih terlalu umum dan kabur- apa bedanya Islam dengan Buddhisme atau humanisme sekuler? Lantas apa relevansinya kita sebagai Muslim tetap berpegang kepada Islam jika ajaran Islam itu bisa direalisasikan dengan agama atau filsafat hidup lainnya?

Inilah kerancuan-kerancuan yang harus kita sadari apabila kita mereduksi Islam hanya menjadi ajaran moral semata.
Seringkali kita pun terlalu kagum sehingga latah dan membebek kepada masyarakat negara-negara “maju” -yang notabene kebanyakannya non-Muslim- tanpa menyadari bahwa banyak hal yang kita anggap bagus lantas hendak kita telan mentah-mentah ternyata di tempat asalnya sendiri bermasalah.

Sebagai contoh, di awal abad ke-20 yang lalu tidak sedikit kaum Muslimin di berbagai penjuru Dunia Islam menyerukan agar umat Islam mengadopsi modernitas yang diperkenalkan Barat. Modernisasi dilakukan dalam pelbagai bidang dari mulai teknologi, pendidikan, politik, dan sebagainya.

Masyarakat didorong agar berpikir secara saintifik dan rasional serta meninggalkan cara berpikir yang dianggap mitis dan irasional, bahkan sekalipun yang dianggap mitis dan irasional itu berasal dari agama. Hal ini dilakukan agar kaum Muslimin mampu mengejar ketertinggalannya dari Barat yang ketika itu memang sedang menjadi mercusuar dunia.

Namun di Barat sendiri “kemajuan-kemajuan” yang dicapai sejak era Renaissance ternyata tidak lepas dari permasalahan serius.

Perkembangan teknologi yang pesat mendorong Revolusi Industri yang kemudian memacu industrialisasi di Eropa. Kota-kota industri tumbuh di mana-mana beserta permasalahannya seperti polusi, menjamurnya permukiman kumuh, kekacauan tatanan sosial karena perubahan yag teramat cepat, sampai timbulnya ketimpangan antara kelas borjuis dan kelas proletar.

Maju pesatnya sains ternyata berdampak pada semakin mudahnya orang memproduksi persenjataan yang kemudian memicu perlombaan senjata di antara kekuatan-kekuatan politik utama dunia yang berujung pada pecahnya Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Perang Dunia II sendiri diakhiri dengan tragedi jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, sebuah bukti nyata bahwa kemajuan sains yang dialami umat manusia mampu menghasilkan senjata pembunuh yang mengerikan.

Menghadapi kenyataan ini sejumlah pemikir di Barat menggugat modernitas dan modernisme beserta “idea of progress”-nya. Apa yang diklaim sebagai “progress” (kemajuan) ternyata berujung pada malapetaka. Klaim-klaim kaum positivis bahwa ilmu itu bebas nilai dan kebenarannya bersifat obyektif pun disoal.

Ini semua menunjukkan bahwa modernitas yang membuat banyak kaum Muslimin terkagum-kagum pada pergantian abad yang lalu sejatinya menyimpan problem serius pada dirinya sendiri sehingga tidak sepatutnya diadopsi begitu saja tanpa sikap kritis yang dilandasi pemahaman atas tradisi kita sendiri.

Satu lagi dampak dari kesilauan kita terhadap masyarakat negara-negara “maju” yang non-Muslim adalah terkadang kita gagal bersikap adil kepada saudara-saudara kita sesama Muslim.

Terkadang kita menjadi bersikap sangat “kritis”-kalau tidak mau dikatakan su`uzhon- kepada sesama Muslim tetapi sebaliknya kehilangan sikap kritis terhadap orang-orang dari negara “maju” yang kebetulan non-Muslim. Jika kita mendengar “orang Arab”, “orang Bangladesh”, atau “orang Somalia” mungkin yang terlintas di benak kita adalah stereotipe-stereotipe negatif seperti “teroris”, “maniak seks” (orang Arab), miskin, bodoh, kasar (orang Bangladesh), atau perompak (orang Somalia) meskipun dalam kenyataannya tidak selalu demikian.

Namun apabila kita mendengar “orang Inggris”, “orang Perancis”, atau “orang Jepang” mungkin yang terlintas di benak kita adalah citra-citra positif seperti cerdas, beradab, berpikiran terbuka, disiplin, dan sebagainya walaupun lagi-lagi dalam kenyataan tidak selalu demikian.

Ini adalah suatu bentuk ketidakadilan kita terhadap saudara-saudara sesama Muslim karena stereotipe-setereotipe yang belum tentu benar. Bukan berarti kita harus menutup mata atas kekurangan atau kelemahan saudara-saudara seiman kita dan selalu curiga terhadap mereka yang non-Muslim akan tetapi seharusnya kita mengedepankan husnuzhon terhadap sesama Muslim.

Adapun kepada para non-Muslim dari negara-negara maju tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka, sudah seharusnya pula kita tidak terjebak dalam sikap tidak kritis terhadap mereka.

Penutup

Pada akhirnya harus kita akui bahwa umat Islam hari ini masih jauh dari pengamalan agamanya secara ideal. Memang sebagaimana disabdakan Rasulullah sendiri sebaik-baik generasi umat Islam adalah para sahabat, kemudian generasi sesudahnya (tabi’in), dan generasi sesudah para tabi’in (tabi’ut tabi’in).

Jika boleh dikatakan, kita yang hidup di akhir zaman ini adalah generasi umat Islam yang terburuk. Tentu ini bukan permakluman, melainkan pendorong agar kita berusaha semaksimal mungkin mengikuti jejak para generasi terbaik tersebut.

Harus diakui pula bahwa dalam beberapa hal ada nilai-nilai yang seharusnya direalisasikan oleh kaum Muslimin tidak kita temukan di tengah-tengah kaum Muslimin melainkan di tengah masyarakat non-Muslim. Dalam hal ini tidak ada salahnya kita mengambil hikmah dan pelajaran dari masyarakat tersebut.

Akan tetapi usaha itu harus disertai pemahaman yang komprehensif tentang agama dan tradisi Islam kita sendiri agar kita tidak terjebak pada kerancuan pemahaman yang pada gilirannya akan menjauhkan kita dari sikap adil atau malah membuat kita selalu mengekor dan membebek kepada orang lain. Suatu sikap yang tidak mungkin dimiliki orang yang masih punya harga diri.

1. Ditinjau dari perspektif syara’ maka kita sudah mahfum bahwa semua orang di luar Islam adalah kafir. Selesai. Namun soal apakah semua orang di luar Islam memiliki sifat-sifat kufur yang membuat mereka terkategori shummun, bukmun, ‘umyun fahum laa yarji’uun yang membuat mereka dimurkai Allah dan layak mendapat permusuhan yang nyata dari kaum Muslimin tentu harus dilihat dengan cermat.

Di luar itu, tidak jarang sifat kufur yang diterangkan Allah baik dalam ayat-ayat Al Qur`an maupun hadits kita temukan pula pada orang-orang yang mengaku sebagai Muslim. Dalam kaitannya dengan ini perlu kita renungkan hadits yang menyatakan bahwa barangsiapa menuduh saudaranya sesama Muslim sebagai kafir dan tidak terbukti maka justru si penuduhlah yang kafir.

Dalam kenyataan, seringkali kita jumpai mereka yang gemar melakukan takfir adalah orang-orang yang sulit menerima pendapat dan pandangan pihak lain yang tidak sejalan dengan pemikirannya atau dengan kata lain mereka menutup diri dari kemungkinan kebenaran pihak lain.

2. Mungkin saking seringnya kita menjadi korban kezaliman kita jadi kehilangan akal sehat dan kepercayaan terhadap potensi kebaikan manusia. Kita menganggap bahwa meluluhkan kekerasan hati orang lain dengan kesabaran dan kelemah-lembutan adalah omong kosong belaka dan karenanya menghadapi pembangkangan manusia kepada Allah dengan cara kekerasan seolah menjadi satu-satunya pilihan yang masuk akal. Sesungguhnya ini adalah cara berfikir orang yang frustrasi.

3. Perlu ditegaskan di sini bahwa upaya mengikuti generasi terbaik (salafush shalih) bukan dilakukan satu kelompok saja yang sering mengklaim demikian.

Oleh Adif Sahab
yy/islampos.com