10 Muharram 1444  |  Senin 08 Agustus 2022

basmalah.png

Taubat Terus Menerus

Taubat Terus Menerus

Fiqhislam.com - Ketika seseorang mengendarai mobil, kemudian hujan sangat deras dan pembersih atau kipas kaca tidak berfungsi, maka ia pun dilanda gelisah dan khawatir. Kegelisahan dan rasa khawatir itu tentu bukan karena tidak ada jalan, melainkan karena ia tidak bisa melihat jalan.

Lalu, apa yang harus ia lakukan? Apakah memikirkan jalan ataukah membersihkan kaca dahulu? Tentu jawabannya adalah yang kedua. Nah, seperti itulah tobat.

Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,“Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar, dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah mengarunianya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.“(HR.Ahmad).

Ketika kita merasa bahwa rezeki kita susah, maka yang harus segera kita lakukan adalah memeriksa ke dalam diri kita. Karena sesungguhnya yang menjadi penghalang bertemunya dengan rezeki adalah dosa-dosa kita. Demikian pula dengan jalan keluar bagi masalah-masalah kita. Sebenarnya jalan keluar itu sudah ada, sebagaimana rezeki itu juga sudah ada. Namun, kita akan sulit menemukannya karena suatu penghalang yang bernama dosa.

Lalu, apa yang harus kita lakukan jika ingin bertaubat atas dosa-dosa itu? Ada beberapa syarat agar tobat diterima Allah SWT. Syarat pertama, penyesalan. Tobat adalah penyesalan. Semakin besar rasa penyesalan seorang pelaku dosa, itu bagaikan sedang diperas segala kotoran dosa dari dirinya hingga benar-benar habis dan kering.

Syarat kedua, memohon ampunan atas kesalahan dan dosa yang telah dilakukan. Sebagai contoh adalah nabi Adam AS. Langkah pertama yang beliau lakukan setelah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Allah SWT adalah bertobat. Beliau berdoa, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf [7]: 23).

Karakter orang yang bertobat adalah dirinya tidak melihat kesalahan yang dilakukan orang lain terhadapnya. Dia hanya fokus pada kesalahan yang telah ia lakukan. Seperti pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah nabi Adam AS ini. Beliau telah ditipu oleh iblis, tapi beliau tidak menyalahkan iblis atas kesalahan yang beliau lakukan. Beliau juga tidak menyalahkan Hawa yang telah menemaninya makan buah yang dilarang oleh Allah SWT.

Demikian juga kisah nabi Yunus AS. Beliau merasa tidak sabar menghadapi pembangkangan yang dilakukan kaumnya terhadap kebenaran yang dibawanya. Beliau pun pergi meninggalkan mereka. Beliau melakukan perjalanan dengan menumpang sebuah kapal, mengarungi lautan. Di tengah lautan luas, kapal yang mereka tumpangi diterjang topan badai hingga kapal itu terancam karam.

Para penumpang kapal sepakat bahwa kapal harus dikurangi bebannya, dan mereka bersepakat akan mengundi siapa di antara mereka yang akan dilemparkan ke lautan. Setelah melakukan beberapa kali pengundian, nama Nabi Yunus AS yang keluar. Beliaupun akhirnya dilempar ke lautan yang gelap gulita.

Tak cukup sampai di sana, beliau kemudian ditelan oleh seekor ikan paus. Ketika berada di dalam perut paus inilah kemudian keyakinan Nabi Yunus as kembali menguat. Di dalam suasana yang gelap dan pengap, beliau bertobat seraya berdoa kepada Allah SWT sebagaimana diabadikan di dalam al-Quran.

“...Sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” Maka, Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan, demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”(QS. al-Anbiyaa[21]: 87- 88).

Nabi Yunus as tidak menyalahkan umatnya. Tidak juga beliau menyalahkan orang-orang yang melemparkannya ke dalam lautan. Beliau pun tidak menyalahkan ikan paus yang telah menelannya. Beliau fokus kepada dirinya sendiri yang telah keliru melakukan kesalahan, kemudian memohon ampunan kepada Allah SWT.

Nabi Adam as dan Nabi Yunus as kemudian diberikan ketenangan di dalam dirinya oleh Allah SWT. Kedua nabi ini pun diberikan jalan keluar atas permasalahan yang dihadapinya.

Syarat ketiga, tekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosanya. Ada keseriusan di dalam diri untuk tidak mengulangi perbuatan dosa setelah bertobat.

Syarat keempat, hijrah. Orang yang bertobat hendaknya berpindah dari perbuatan salahnya kepada kebenaran. Bila ada orang yang terbiasa membicarakan keburukan orang atau menghina orang, hendaklah ia berhenti dari perbuatannya itu dan membiasakan diri hanya mengucapkan kebaikan dan kebenaran. Orang yang terbiasa minum minuman keras, hendaklah ia berhenti kemudian membiasakan diri untuk bederma kepada orang lain dengan harta, makanan atau minuman yang halal.

Demikianlah orang yang benar-benar bertobat. Ia akan meninggalkan kebiasaan perbuatan buruk, lalu berpindah kepada kebiasaan perbuatan baik. Pindah dari lingkungan yang buruk, kepada lingkungan yang kondusif untuk memperbaiki diri. Semakin kuat hijrahnya, maka makin bagus tobatnya, makin tenang hatinya, makin terbuka jalan keluar dari semua permasalahan hidup yang ia hadapi.

Betapa manusia selalu melakukan kesalahan. Itu memang tabiat dari manusia. Namun, karena Mahapengasih dan MahapPengampunnya Allah SWT, Ia terus membuka pintu tobat-Nya hingga kiamat tiba.

Oleh karena itu, semoga kita tergolong sebagai manusia yang bertobat dengan sungguh-sungguh atas segala kesalahan-kesalahan kita. Senantiasa sadar untuk tidak mengulanginya, sehingga Allah SWT senantiasa mengurus dan semakin melimpahkan kebaikan bagi kita.

Oleh KH Abdullah Gymnastiar
yy/inilah.com