fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Ramadhan 1442  |  Rabu 14 April 2021

Ketika Dunia menjadi 'Tuhan'

Ketika Dunia menjadi 'Tuhan'

Fiqhislam.com - Zaman sekarang manusia sulit menghindari gaya hidup hedonis. Serba bebas yang difasilitasi berbagai kemewahan dunia, seperti berdirinya gedung pencakar langit, hotel dan mobil mewah, maupun alat komunikasi canggih.

Begitu pula berdirinya berbagai tempat hiburan, modifikasi berbagai resep makanan yang tak jelas halal dan haramnya, bahkan model pakaian yang mengacuhkan nilai-nilai kesopanan serta berbagai fenomena kesenangan dunia lainnya.
 
Itu semuanya memanjakan hawa nafsu. Dunia dengan segala “perhiasan”nya telah mendominasi hati. Dikejar dan diperebutkan siang malam dengan segala cara. Jika sudah didapat, masih merasa kurang. Tidak pernah puas dan sangat takut kehilangan.
 
Kesenangan dunia begitu memesona. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah Ali ‘Imran [3] ayat 14, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: perempuan-perempuan, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, sawah ladang, itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).”
 
Dunia sudah menjadi “illah” atau sesuatu yang dituhankan manusia (andad) yaitu sesuatu yang bisa menarik atau mengalihkan perhatian seseorang dari Allah, baik itu berupa orangtua, anak-anak, istri, suami, tempat tinggal, keluarga, harta, harta, jabatan, pujian, penghormatan, popularitas, dan berbagai asesoris dunia lainnya.
 
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah al-Baqarah [2] ayat 165, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan seandainya orang-orang yang membuat lalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat besar siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”
 
Cinta Dunia
 
Begitu banyak manusia melanggar aturan Allah demi kesenangan dunia. Berani mengorbankan akidahnya demi bisa menikah dengan kekasih yang sangat dicintai, mau membuka aurat untuk mendapat pekerjaan yang bergaji besar, tak ragu mencicipi minuman keras dan bergaul bebas asal bisa diterima dalam pergaulan.
 
Hawa nafsu sudah menjadi “Tuhan”nya, sebagaimana Allah berfirman dalam surah al-Jatsiyah [45] ayat 23, “Maka pernahkah kamu melihat orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan Allah membiarkan sesat berdasarkan ilmu-ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”
 
Cinta terhadap kesenangan dunia salah satu jenis penyakit hati. Penyebab manusia bermaksiat. Jika tidak waspada, maka cinta dunia menjadi awal pengkhianatan kepada Allah. Berani bermaksiat dan berakhlak buruk. Berani korupsi karena memperturutkan keinginan untuk kaya.
 
Kalau kaya akan dihormati dan dihargai orang dan bisa berbuat apapun sesuai keiinginan. Berani mengejar popularitas dengan berbagai cara. Karena dengan dikenal akan dipuji, dielu-elukan, dilayani banyak orang dan banyak uang.
 
Merasakan lezatnya memiliki dunia, serba pamer, ingin terlihat lebih dari kenyataan, maka hati tida akan bisa menghadirkan Allah. Tidak bisa merasakan lezatnya mencintai Allah. Padahal jika hati mencintai Allah, maka Allah akan menghadiahkan rasa ikhlas, sabar, ridha, syukur, tawakal, istiqamah, dan berbagai kondisi hati yang membuahkan ketenangan dan kebahagiaan sejati.
 
Takut Kehilangan Dunia
 
Mengapa melakukan berbagai ibadah tapi sangat takut tidak mendapat dunia? Merasa tidak pernah cukup dengan dunia? Takut kehilangan dunia? Lalai saat diberi dunia? Padahal manusia pasti berpisah dengan dunia. Orang-orang yang yakin akan meninggalkan dunia, dan yakin akan kehidupan akhirat yang abadi, maka ia pasti tidak akan mencintai dunia ini.
 
Allah SWT sudah mengingatkan manusia di dalam surah Lukman [31] ayat 33, “Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakanmu.” Ayat ini harus menjadi motivasi bahwa ketika menderita karena diuji tidak punya dunia, hidup serba terbatas (miskin), mak itu hanyalah sebentar saja.
 
Tetapi di akhirat nanti jika tidak selamat, menderitanya abadi. Namun mengapa sebagian manusia lebih banyak mengorbankan urusan akhiratnya dari pada urusan dunianya? Jika dunia tak disikapi dengan tepat, maka gaya hidup akan memperturutkan hawa nafsu. Dunia digunakan untuk kesia-siaan. Gemerlapnya dunia membuatnya larut untuk mencintai dunia secara berlebihan.
 
Berapa banyak manusia memikirkan dunia, hatinya penuh dunia, terkadang merasa selalu kurang dengan dunia, cemas tidak mendapat dunia, tapi sangat jarang bahkan tak pernah memikirkan kurangnya bekal pulang ke akhirat?
 
Seharusnya dunia dengan segala isinya membuat semakin mengenal Allah, sehingga khusyu’ dan ikhlas dalam beramal. Jika mengenal Allah dengan Kekuasaan-Nya, Kasih Sayang-Nya, Mahakaya-Nya, Mahapengampunan-Nya, dan Mahasegala-galaNya, sangat sulit melupakan Allah. Melihat gemerlap dunia pun “tanpa rasa”, biasa-biasa saja, tak terpesona, karena sudah terpesona kepada sang pencipta dan pemilik dunia, Allah SWT.
 
Dunia Jadi Jalan Ketaatan
 
Dunia dengan segala isi dan kejadiannya harus ditafakuri sebagai sarana untuk semakin mengenal penciptanya. Jika Allah memberi dunia berupa uang, jabatan, harta dan perhiasan dunia lainnya, sesungguhnya itu tidak identik dengan mendapat kebaikan. Karena manusia durhaka pun, diberi Allah kenikmatan dunia.
 
Tapi sejauh mana dunia yang dititipi, menjadi jalan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya? Jika memiliki dunia, tapi tidak punya pondasi keyakinan kuat kepada Allah, maka ia tidak akan tenang dan bahagia. Karena hati dan pikiran tersita dengan urusan dunia, dan dunia menjadi “illah”.
 
Waspadalah terhadap keinginan yang berorientasi kepada dunia, dan berlebih-lebihan dalam urusan dunia. Jika tak jelas tujuan hidup di dunia, tidak mau belajar tentang bagaimana mengisi hidup di dunia yang hanya sekali dan sebentar, tidak sungguh-sungguh melawan hawa nafsu dan membiarkan “illah” selain Allah bersemayam di hati, maka dipastikan akan gelisah, cemas, was-was, serba takut, khawatir, dan ujung-ujungnya menderita.
 
Ukurlah kesuksesan hidup di dunia dengan memiliki kekuatan hati mengenal Allah. Memberi manfaat dan berakhlak mulia, serta mengakhiri hidup dengan khusnul khatimah. Dunia sebagai amanah Allah harus membuat selamat di akhirat. Apapun yang dilakukan di dunia, haruslah mempunyai nilai tambah untuk akhirat. Wallahu’alam.
 
Oleh Khairati (Daarut Tauhid]
yy/nabawia