27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Perlu Ilmu Dan Tak Putus Asa Dalam Berdakwah

Perlu Ilmu Dan Tak Putus Asa Dalam Berdakwah

Fiqhislam.com - Perkembangan media sosial di Indonesia saat ini sangat luar biasa. Banyak orang memanfaatkannya dengan bermacam-macam. Mulai untuk tujuan bisnis, sekedar iseng, penipuan, hingga untuk berdakwah. Bahkan tak kalah penting, sebagai ajang menyebarkan pemikiran-pemikiran.

Salah satu pihak yang gencar menyebarkan pemikiran-pemikirannya adalah kalangan yang mengaku Islam tetapi berpikiran liberal-sekular. Mereka aktif memposting opini dan pendapat mereka tentang sesuatu — tentunya saja– dengan kacamata liberal yang mereka gunakan. Sayangnya, banyak kalangan awam yang belum memiliki pemahaman mendalam tentang Islam, ikut terjebak dan terhipnotis dengan pendapat-pendapat ‘menyesatkan’ mereka.

Pengguna sosial media hari ini masih kurang diminati aktivis Islam. Sebagai bagian dari aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, sesekali perlu kalangan Muslim merebut wacana dengan melakukan counter atau menyanggah pendapat-pendapat kalangan seperti ini. Toh hal seperti ini juga dibolehkan oleh Nabi kita.

Dari Abu Sa’id Al Khudry ra berkata, saya mendengar Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemunkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim).

Dalam meng-counter pendapat tersebut diperlukan kesabaran, keilmuan dan juga keikhlasan, bukan untuk menang-menangan, apalagi sekedar popularitas belaka.

Belum lama ini kalangan aktivis liberal ‘menyerang’ para aktivis Islam di jejaring twitter dengan twitwar (perang status di Twitter).

Kaum liberalis melabeli para aktivis Islam ini sebagai “lulusan pesantren kilat”. Maksudnya, lulusan ‘pesantren kilat’, memang tak pantas mendebat mereka yang notabene jebolan pesantren “asli” dan lulusan universitas-universitas ternama di luar negeri.

Lulusan ‘pesantren kilat’, yang dicap belum memiliki ilmu dan wawasan keislam-an yang kuat.

Jika memang begitu kenyataannya, ilmu yang kita miliki belum cukup dan strata pendidikan kita tidak setinggi mereka, janganlah kita merasa putus asa dan hilang harapan.

Jangan pula kita berhenti untuk menyuarakan kebenaran dan melawan kebathilan. Kita wajib untuk terus mendakwahi mereka dan korban pemikiran mereka dengan cara yang santun, bahasa yang sopan, argumentasi yang kuat dan akhlak yang baik, seperti teladan lulusan pesantren kilat yang akan diceritakan di bawah ini. Lebih-lebih menambah ilmu.

Adalah Habib al-Najjar. Dia adalah salah satu lulusan pesantren kilat yang fenomenal, mewangi namanya tercatat indah di surah yang paling sering dibaca oleh Muslim di tanah air, surah Yasin. Adalah Ashabul Qaryah (penduduk suatu negeri), ketika diutus kepada mereka dua orang utusan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُم مُّرْسَلُونَ

“Kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, ‘Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.’” (QS. Yasin: 14).

Kaum itu tetap membangkang dan tidak mengindahkan seruan para utusan dan melabeli para utusan sebagai pendusta.

Tetiba datanglah dari ujung kota seorang lelaki. Lelaki itu bukanlah siapa-siapa, dia tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan. Dia pun tak memiliki kedudukan yang mulia di mata kaumnya. Tapi dia memiliki sesuatu yang lebih berharga dari itu semua, yaitu aqidah yang hidup dan menyeruak di dalam jiwanya, mendorong dan memotivasinya untuk datang dari ujung kota dengan ilmu yang seadanya untuk menguatkan dakwah para utusan. Lelaki itu ketika mendengarkan dakwah dari para utusan, kemudian langsung meresponnya setelah melihat adanya tanda-tanda kebenaran. Dengan bergegas ia berkata,

وَجَاء مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ
تَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْأَلُكُمْ أَجْراً وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Wahai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang tiada meminta imbalan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Yasin: 20-21).

Imam Fakhrurrazi rahimahullaah dengan sangat indah nan menyentuh memaparkan beberapa hikmah yang agung, yang mengisyaratkan akan ajegnya dakwah tauhid di dalam dada Habib al-Najjar ini, yang demikian jujur dan ikhlas menyeru dan mengajak kaumnya.

Dalam firman-Nya disebutkan, “Dengan bergegas”, sebagai gambaran bagi kita, bahwa ia ingin sekali kaumnya bisa sesegera mungkin merasakan dan mereguknya sejuknya hidayah seperti yang telah didapatkannya. Memberi motivasi bagi kita untuk senantiasa menguras segala daya upaya yang kita miliki untuk memberikan seuntai nasihat kepada orang yang kita cintai.

Seruan “Wahai kaumku..”, memiliki rahasia makna yang begitu mendalam, dimana dalam ungkapan tersebut nampak sekali bagaimana dalamnya rasa kasih sayang yang dimilikinya terhadap kaumnya. “Ikutilah utusan-utusan itu…”, merupakan ajakan agar mereka mengikuti para Rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada mereka. Dia tidak mengatakan, “Ikutilah aku…”, karena memang dia bukanlah siapa-siapa. Dia mengajak mereka untuk mengikuti para Rasul yang telah menampakkan bukti yang terang benderang kepada mereka.

Kemudian, dalam firman-Nya pula disebutkan, Habib al-Najjar mengatakan, “Ikutilah orang yang tiada meminta imbalan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Yasin: 21).

Ajakan dan seruan itu memiliki makna yang indah dan tersembunyi. Dia menggunakan metode yang paling indah dalam berdialog, berdebat dan berdiskusi. Dimana dia berusaha agar mereka menerima dengan lapang apa yang diserukan olehnya tanpa ada sedikit pun unsur pemaksaan. Dalam hal ini seolah-olah dia mengatakan, “Bayangkanlah, andaikan mereka itu bukanlah rasul Allah dan bukan pula para Nabi yang memberikan pengajaran menuju jalan yang benar, namun mereka itu orang yang mendapat petunjuk dan mengetahui dengan benar jalan lurus yang akan mengantarkan kepada jalan yang benar, kemudian mereka termasuk orang yang sama sekali tidak mengharapkan imbalan dan upah sepeserpun dari kalian.”

Lelaki itu juga bertanya, “Mengapa aku tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku?” (QS. Yasin: 22). Itu adalah sebuah pertanyaan yang bersifat pengingkaran. Di dalamnya ada isyarat bahwasanya setiap orang hendaknya menyembah kepada Allah, Dzat yang sangat jelas eksistensi-Nya. Maka bagi yang tak mau menyembah Allah, hendaklah dia mengedepankan alasan yang barangkali dapat menghalanginya untuk beribadah kepada-Nya. Pada pertanyaan itu pula terdapat sebuah sentuhan makna yang demikian indah, dimana orang itu bertanya dan mengajak bicara dirinya sendiri, sebelum mengajak kaumnya. Dia mengatakan “Yang menciptakanku…”, bukan “Yang menciptakanmu..” Pertanyaan itu dia tutup dengan mengatakan, “Dan hanya kepada-Nya-lah kamu semua akan dikembalikan.” (QS. Yasin: 22).

Dia kembali melontarkan pertanyaan kepada kaumnya, “Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya?” (QS. Yasin: 23). Pertanyaan itu benar-benar menggambarkan kesempurnaan tauhid yang telah telah dimilikinya. Pertanyaan itu mengingkari kesyirikan terhadap-Nya dan ketiadaan ibadah kepada selain Dia.

Mereka semua termasuk ketiga utusan, Habib al-Najjar dan kaumnya sama-sama sebagai makhluk yang lemah dan tiada daya, yang senantiasa membutuhkan Allah dan menghajatkan-Nya. Dan jika sang lelaki itu tidak mengikuti seruan tauhid dari para utusan maka, “Sesungguhnya aku kalau begitu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasin: 24).

Dia menutup ajakannya kepada kaumnya itu dengan sebuah closing statement yang mengagumkan. Dalam firman-Nya lelaki itu berkata, “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhan kalian, maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.” (QS. Yasin: 25).

Pernyataan itu bukan hanya permintaan kepada kaumnya untuk sekedar mendengarkan pengakuannya saja, tetapi juga merespon ajakan kebenaran dan masuk dalam iman kepada-Nya.

Lelaki itu kemudian dibunuh oleh kaumnya. Dari Ibnu Mas’ud ra dikatakan, “Mereka menginjakkan kaki pada tubuhnya hingga tulang punggungnya keluar.” Sungguh Allah subhanahu Wata’ala tidak menyia-nyiakan pengorbanan yang telah dia lakukan. Allah berfirman, “Masuklah ke surga.” (QS. Yasin: 26).

Betapa mulianya ia setelah mendapatkan nikmat surga kemudian dia mengingat kaumnya dengan hati yang tulus penuh dengan keridhaan, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui.” (QS. Yasin: 26). Alangkah baiknya, jika kaum itu mengetahui apa yang akan mereka dapatkan jika mengikuti para utusan dan beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Tapi sayang, mereka mengingkari dan Allah menghinakan mereka dengan, “Satu teriakan suara saja, maka tiba-tiba mereka mati semuanya.” (QS. Yasin: 29).

Bagi para da’i yang menyerukan kebenaran, baik itu di dunia maya maupun dunia nyata, termasuk lulusan pesantren kilat sekalipun hendaknya metodologi yang digunakan lelaki ini ditiru dan dipelajari, adanya kebenaran dalam dakwah yang disampaikan dan keikhlasan arah tujuan, semangat untuk mengantarkan pada hidayah, keberanian yang luar biasa, cara berpikir yang runtut dan penuh dengan kekuatan logika, dan itu semua kembali pada kuatnya iman yang mengakar pada lelaki rabbani tersebut.

Dia berani pasang badan di depan materialisme yang kejam. Dengan penuh kelembutan dia mengajak kaumnya untuk mengikuti kebenaran dan meminta kepada mereka untuk menyambut seruan para utusan. Walaupun dia sendiri melihat akan ada marabahaya yang akan menimpa dan siksaan yang akan melanda, dia tetap beriman dan dengan ikhlas mengumandangkan dengan lantang pengakuan keimanannya dan dia siap menanggung resiko yang bakal menimpanya.

Dan janganlah ketika berdebat atau adu argumentasi dengan pihak yang ingin kita dakwahi dengan tujuan untuk mencari kemenangan, pamor dan popularitas karena itu merupakan akhlak yang tercela. Ilmu yang mungkin tidak seberapa yang kita bisa jadi membantu untuk meraih kemenangan saat berdebat tapi sayang tak akan memberikan manfaat kelak di akhirat. Hasbunallaahu wa ni’mal wakil…

Oleh Fais al-Fatih
yy/hidayatullah