fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


11 Ramadhan 1442  |  Jumat 23 April 2021

Saya Dihina Maka Saya Ada

Saya Dihina Maka Saya Ada

Fiqhislam.com - Atas nama harga diri, orang bisa kalap berbuat tanpa kendali. Demi mempertahankan harga diri, orang rela mempertaruhkan jiwanya sendiri. Harga diri adalah harga mati, harga diri harus dijunjung tinggi, karenanya “jangan main-main dengan harga diri….!”, begitu biasa orang menggertak membela diri.

Harga diri bak bara dalam sekam, bila tersulut amarah dapat menyala dan berkobar. Harga diri yang terusik dapat membangkitkan sentimentil yang tinggi, hingga makhluk lemah tak berbisa pun merasa bernyali dan menjadi berani; seekor cacing tanah akan berontak jingkrak bila ia terinjak, apatah lagi manusia makhluk yang memiliki ego tinggi.

Harga diri dimiliki setiap individu. Ungkapan “saya masih punya harga diri!”, cukup menjadi bukti bahwa harga diri itu memang ada (dengan kadar yang berbeda-beda tentunya).

Pada umumnya harga diri akan bangkit manakala hati/perasaan tersakiti, terlecehkan, atau lebih vulgarnya “terhina”. Ya, kata “hina” cukup ampuh menjadi pemantik membangkitan harga diri. Siapapun akan terusik ego-nya untuk menunjukkan harga diri manakala kepadanya ditujukan hinaan.

Hinaan bisa datang dari mana saja, kapan saja, entah dalam bentuk fitnah, ejekan, umpatan/makian, sindiran, ataupun tindakan. Hinaan juga bisa muncul dalam bentuk coretan gambar, tulisan atau sekedar kata-kata.

Tapi, manusiawi kalau perasaan ini masih ada di diri. Sangat manusiawi, karena setiap manusia pernah dihina. Nabi saja sebagai manusia pilihan Tuhan, tidak luput dari hinaan, apalagi manusia biasa seperti kita-kita.

Adam alaihissalam yang ketika itu masih menetap di surga dihina oleh iblis laknatullah :

Allah berfirman: “Hai iblis, Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) Termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. Iblis berkata : “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Shaad : 75-76)

Dalam Surat Huud (11, 36-38) dikisahkan :

ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Nuh untuk membuat bahtera dengan pengawasan dan petunjuk Wahyu-Nya, maka Nabi Nuh pun mulai membuat bahtera. dan Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nabi Nuh, mereka (selalu) mengejeknya. Fir’aun Sang Penguasa Mesir pernah menghina Nabi Musa sebagai seorang yang kena sihir : dan Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir’aun berkata kepadanya : “Sesungguhnya aku sangka kamu, Hai Musa, seorang yang kena sihir”. (QS. Al-Isra’ : 101)

Bahkan junjungan kita Nabi Muhammad saw. dalam mengemban misi dakwahnya beberapa kali mendapat hinaan juga cercaan hingga sampai mencelakai; Nabi pernah diludahi oleh orang Yahudi, Nabi pernah ditimpah batu hingga berdarah-darah oleh Bangsa Thaif, Nabi juga pernah dilempar seonggok kotoran unta oleh Kaum Kafir Quraisy.

Hinaan akan senantiasa ada sepanjang hayat masih dikandung badan, bahkan sampai mati berkalang tanah hinaan belum hilang. Walaupun berusaha untuk dibuang, ia akan datang tanpa diundang, karena hakikatnya hinaan melekat pada diri kita, hinaan adalah diri kita sendiri.

Kita ada karena hinaan-hinaan; sejak belum adanya kita hinaan telah diterima oleh kedua orang tua kita. Sejak bapak atau ibu kita masih hidup sendiri-sendiri (menjomblo) ia dihina karena belum punya pasangan. Setelah bapak/ibu berjodoh dan diikat dalam tali perkawinan, ia dihina karena belum punya keturunan, belum punya pekerjaan, belum punya kendaraan, dan masih banyak lagi hinaan.

Hinaan belum selesai walaupun –katakan– akhirnya keduanya dapat memenuhi semuanya; dianugerahi momongan, mempunyai pekerjaan dan kendaraan. Orang tua harus bersusah payah mengurus dan merawatnya; Ia harus menyekolahkan anaknya supaya pintar dan berprestasi, ia harus menjaga anaknya agar tumbuh sehat dan bergizi, ia juga harus bisa menjamin masa depan anaknya supaya kelak hidupnya terpandang dan tidak dihina orang.

Sudah selesai sampai di sini?, jawabnya “masih belum ….” Sekarang kita masih harus meneruskan perjuangan orang tua kita, karena hinaan masih setia menghadang.

Hinaan ada dimana-mana; di belakang sana, di samping kiri dan kanan kita, di depan mata atau di sekeliling kita. Namun tak perlu dihindari, karena dia takkan pergi.

Hinaan datang, hadapi dengan lapang. Syukuri (saja) dan nikmati; toh kita bisa mengerti karena dihina; kita bisa bicara karena dihina; kita bisa berjalan karena dihina; kita bisa membaca, kita bisa menulis, kita pintar, kita berhasil, semuanya karena kita dihina; kita ada (hidup) sekarang karena dihina.

Jelas hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Mursalaat [77] Ayat 20 yang artinya: “Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?” (77 : 20).

Dan di Surat As-Sajdah [32] Ayat 8 disebutkan: Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. (32:8)

Jadi, masihkah merasa terhina bila dihina? masihkan harus membusungkan dada kalau hinaan datang menerjang.

Hinaan datang, hadapi dengan sewajarnya!, karena tidak ada orang yang luput darinya, asalkan masih ambang batas di luar konteks Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Mujaadilah [58] Ayat 27 yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang menetang Allah dan RasulNya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. (58 : 27)

Ini yang perlu dihindari, Naudzu billahi min dzalik!. Wallahul Muwafiq.

yy/islampos