5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Sabar dan Syukur yang Palsu

Sabar dan Syukur yang Palsu

Fiqhislam.com - Orang kerap menyebut bahwa kunci ketenangan hidup di dunia hanya ada dua, yakni sabar dan syukur. Menurut syeikh Ibnu Qoyyim Al-auziyah (1293-1350), sabar mempunyai tiga tingkatan, yakni: sabar menghadapi sesuatu yang menyakitkan (musibah, kesusahan dsj), sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat, dan terakhir sabar dalam menjalankan ketaatan.

Sementara itu, syukur dimaknai sebagai perasaan puas terhadap apa yang telah ada. Wujud dari syukur adalah mengekspresikan dalam hati, lisan dan/atau perbuatan bahwa segala yang terberi berasal dari Allah. Oleh sebab itu, seseorang harus selalu berterimakasih kepadaNya.

Dalam kondisi pengertian seperti di atas, tentu kedua sifat ini adiluhung. Tak mungkin ada orang yang menyangkalnya.

NAmun, bagaimana jika kedua sifat tersebut dijadikan tameng untuk sebuah mismenejemen?

Misalnya, di tengah kemacetan dan sistem transportasi yang buruk, seseorang berkata, “Kita syukuri saja. Meski macet dan berdesakan, yang penting sampai rumah.”

Di tempat lain orang berkata, “Jadi rakyat harus sabar, teriak-teriak juga hanya buang-buang tenaga.”

Untuk dua contoh ekspresi di atas, dalam level luar, bentuk sabar dan syukur seperti itu sejenak dapat meredakan ketegangan/stress. Namun, secara hakiki syukur dan sabar (secara pasif) tersebut dapat dikatakan palsu.

Mengapa demikian? Dalam agama, jika melihat ketidakberesan, kita wajib mengubahnya sampai pada titik maksimal. Jika punya kuasa, kita mengubahnya dengan kekuasaan. Jika punya hak menyampaikan pendapat, kita wajib menggunakannya. Jika keduanya tidak kita miliki, kita wajib berdoa atau minimal mendiskusikannya dengan orang-orang terdekat. Untuk yang terakhir ini, Nabi Muhammad saw menyebutnya sebagai bentuk iman paling lemah (HR. Muslim).

Sabar dan syukur harus diletakkan di tempat yang tepat dan pas. Sabar dan syukur jangan sampai dijadikan pelarian karena kemalasan dan sikap abai untuk mengubah sebuah keadaan.

Sabar dan syukur juga jangan sampai dijadikan strategi oleh seseorang guna melakukan hegemoni dan dominasi kepada yang lain. Orang lain disuruh sabar dan syukur dengan apa yang sudah ada. Padahal, di sisi lain, dirinya sendiri melakukan kezaliman.

Sabar dan syukur juga tidak boleh secara salah kaprah digunakan untuk membiarkan kezaliman. Sebab, pembiaran kezaliman adalah kezaliman juga. Orang yang punya kemampuan melawan kezaliman atau dizalimi tapi diam saja, dia sama seperti melegalkan kezaliman.

Sebagai analogi, orang yang melegalkan miras tentu kena dampak hukumnya. Demikian pula dengan pembiaran terhadap kezaliman.

Sabar dan syukur hanya istimewa jika asli, tapi sabar dan syukur yang palsu sangat berbahaya. [yy/rimanews]