14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Benci Kita pada Penghina Nabi Saw

Benci Kita pada Penghina Nabi Saw

Fiqhislam.com - Supertragedi mengguncang kesadaran hingga kejiwaan bangsa-bangsa berkulit putih, yang kemudian diresonansikan oleh media-media di bekas negara jajahannya. Semua akhirnya mufakat: pelaku biadab! Seolah-olah pelaku adalah semakhluk monster yang tidak berakal, dan hanya menyalurkan energi keberingasan tanpa dasar.

Senyampang pengutukan, masih ada orang-orang berkulit putih, dan pengekornya, yang mau merunut ke faktor sebab. Ya, sebuah penelisikian kenapa pelaku bertindak di luar batas kemanusiaan, menghilangkan nyawa dengan dingin dan terencana. Atas nama ‘agama’ kebebasan berekspresi, semua dibolehkan dan dibenarkan, tanpa mau berempati dengan kepedihan orang lain.

Melayangnya sembilan nyawa ‘kaum intelek’ penjaga marwah kebebasan Prancis seakan tabuh kiamat pudarnya kebebasan setiap insan di muka Bumi ini. Sayang, yang kadung memuja ‘agama’ kebebasan berekspresi luput kalau ada yang sekian bulan dan tahun memendam amarah di hati akibat tingkah polah mereka menghina keji keyakinan suci.

Melawan kekerasan lantaran frustrasi cara-cara beradab dan intelek gagal menuai hasil, bukan sekali ini diperbuat pelaku pengatas nama “kebenaran di jalan Allah”. Bagi sebagian orang, cara mereka, termasuk yang di Prancis kiwari, disimpulkan amat salah dan sesat. Sesat, sering kita tudingkan kepada mereka yang ‘berjihad’ menuruti jalan pikirannya sendiri. Konstruksi berpikir kita coba dimasukkan ke pikiran orang lain, yang justru kerap bertentangan dengan kita selama ini.

Sebagian yang lain, penyuka ‘jalan damai’, memilih menasihati agar kelompok keras lebih arif dan bijaksana menerapkan keyakinan pemahamannya. Di sinilah perlunya penelusuran yang lengkap atas cara-cara berjuang dari lunak, moderat, hingga menjelang radikal, kudu ditangkap utuh agar tidak bergegas menyumpahi saudara seimannya sendiri. Kiranya ke soal kemauan kita mendengarkan jalan berpikir saudara seiman agar jurang perbedaan yang ada tidak terus menganga.

Di sisi lain, ‘panggilan’ menyahut tindakan pelaku sebagai sebuah bagian dari ‘kemenangan’ Islam, juga seyogianya menenggang saudara seiman di jazirah Eropa, Prancis khususnya. Ada sederet ikhtiar memahamkan Islam kepada para penyalahpikiran agama kita di sana. Dengan cara-cara halus, implisit, dan jalur intelektual. Belum lagi aksi-aksi simpatik demi mengurangi bias, prasangka, stereotip yang laten mengarat di hati-hati sebagian warga di Prancis. Tidak sedikit dan tidak ringan pula jasa saudara kita di sana.

Sungguh, suasana hati mereka tidaklah serius kita di Indonesia yang tampak bungah. Mereka justru tengah cemas kalau-kalau ada serangan balik yang menghapus perjuangan menata pemahaman orang di luar Islam dengan perlahan-lahan. Kejadian barusan justru mengancam sendi-sendi pemahaman yang mereka tancapkan di hati dan nalar saudara sebangsanya di sana, bisa kandas. Terutama saat tahu respons kita di sini yang bertepuk tangan sembari berjingkatan.

Membenci Nabi tercinta kita dihinakan; saudara seiman kita dilecehkan, sudah aksiomatik: harus melawan. Tanpa melawan, alias biasa-biasa saja seolah tanpa ada masalah gawat, maka cemburu (ghirah) kita pada Islam patut dipersoalkan. Nah, melawan bagaimana yang patut diperbuat, ini tinggal menyesuaikan dengan situasi yang ada. Mengeskpresikan kebencian itu mudah. Tapi, menahan diri untuk membuat taktik dan strategi jitu agar kebencian kita tidak lahirkan kerugian umat saat ini dan esok, ini yang butuh pembacaan brilian.

Sekadar berhalus ria dalam perjuangan saja memang belum cukup. Tapi, apakah harus semua perjuangan di pelbagai tempat di muka Bumi umat harus melawan dalam wujud serupa saat Nabi tercinta dihina? Di Jazirah Arab, Asia, dan tentunya di Indonesia, demonstrasi bisa leluasa dilangsungkan. Tapi, apakah di Eropa, cara serupa yang menjurus pembakaran akan produktif dalam menampilkan wajah Islam?

Setiap tempat dipijak, biarlah umat Islam memikirkan penerapan ayat dan hadits yang sesuai. Bukan, bukan berarti yang berlembut-lembut menampilkan wajah ramah Islam, sebagaimana dilakukan saudara kita di Eropa (terutama Prancis), tanda selemah-lemahnya iman. Bukan berarti pula kemenggebuan kita membakari miniatur media pembenci Islam dan Nabi Muhammad pasti berujung sebuah keberkahan. Militansi yang hadir dari ghirah suci, kadang beda tipis dalam syubhat amarah tanpa ilmu. Tentu saja, ini tidak berlaku umum, melainkan pada beberapa kasus.

Kadar bentuk maksimal berjihad kita memang telah diatur dalam ayat dan hadits. Yang mungkin perlu ditoleransi adalah cara kita menilai tindakan saudara kita di tempat yang berbeda. Tempat yang menghajatkan penerapan berbeda, namun oleh kita ‘diharuskan’ seperti di negeri kita.

Karena itulah, kejadian di Prancis ini memberikan pelajaran berharga bagi kita: untuk tidak cepat menilai dari sudut pandang kita. Menahan diri untuk berempati pada saudara kita yang kena getah akibat tindakan sebagian saudaranya, rasanya lebih bijak.

Ketimbang bersorak dan ekspresif meneriakkan pekik kemenangan, lebih mengundang manfaat kalau kita terbiasa memikirkan masa depan akibat sebuah tindakan yang kurang atau bahkan tidak strategis dan visioner dalam menjaga kelangsungan dakwah Islam.

banner yusuf

yy/islampos