fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


28 Sya'ban 1442  |  Sabtu 10 April 2021

Memaknai Kebaikan dan Aib

Memaknai Kebaikan dan Aib

Fiqhislam.com - Seorang teman Indonesia bercerita tentang khatib sholat Jumat di salah satu masjid di Birmingham, Inggris. Dalam ceramahnya sang khatib mengajak para jamaah untuk mengambil contoh muslim Indonesia yang santun, saleh dan cinta damai.

Hampir setiap “orang luar” yang saya temui selama 14 tahun hidup di perantauan pun punya kesan yang baik tentang Indonesia. Mereka pada umumnya mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya dan indah, terutama Bali (terkadang saya perlu menjelaskan bahwa Bali hanya sebagian kecil dari Indonesia).

Ada juga yang cuma pernah mendengar Indonesia sebagai nama, tanpa pernah tahu di mana persisnya negeri itu berada. Contoh ini adalah para tetangga saya di Haugesund, yang kebanyakan adalah para manula yang jarang bepergian jauh.

Sebagian lain mengira Indonesia adalah negara kecil di Asia. Di satu kesempatan saya pernah membuat presentasi di depan kelas kursus bahasa norsk beberapa tahun lalu. Di hadapan guru asli Norwegia dan belasan teman dari berbagai negara saya pasarkan Indonesia sebagai negeri kepulauan dengan sumber alam yang kaya, masyarakat yang beragam dan rukun, serta surga makanan lezat. Saya masih ingat betul pertanyaan sang guru di akhir presentasi saya, “Kalau negerimu seindah itu, mengapa kamu terdampar begitu jauh sampai ke sini?”.

Masih banyak kesan orang terhadap negeri kita. Pada umumnya mereka tahu yang standar saja. Termasuk betapa panasnya negeri khatulistiwa ini. Dan betapa macetnya jalanan di Jakarta.

Orang Indonesia juga terkenal pemalu.

Peristiwa bom Bali, tsunami tahun 2004, sampai konservasi orangutan adalah juga beberapa citra yang lekat dengan Indonesia.
Sayangnya belum pernah saya mendengar kekaguman mereka atas kemajuan teknologi Indonesia. Mungkin pada waktunya kita bisa sejajar dengan para negara maju itu. Sekarang kita sedang menuju ke arah sana, bukan?

***

Pengalaman pribadi, dan saya yakin sesama perantau anak negeri akan bereaksi sama: bangga dan bersyukur bahwa Indonesia dikenal sebagai negara indah yang cinta damai, santun, dan ramah.

Tapi dalam hati pasti ada juga tersirat bahwa kalau mau jujur, masih banyak yang harus dibenahi untuk mencapai citra indah nan nyaris sempurna itu.

Jika orang-orang itu mengikuti betapa panasnya situasi bermasyarakat dan bernegara di tanah air saat ini, mungkin mereka akan berubah pendapat.

Saling hujat, saling sikut, teman jadi lawan, lawan jadi kawan, ambisi pribadi, pemimpin yang tak tegas dan kurang amanah, membuat bangsa kita semakin sulit bersatu, nyaris terpecah belah. Apakah ini kenyataan sebenarnya? Atau hanya sekedar ramai dan meriah di jagat maya? Cuma kita sendiri yang bisa menemukan jawabannya, jauh di lubuk hati terdalam.

***

Saya jadi teringat wejangan ulama legendaris, Ibnul Jawzy, bahwa “bila orang terkesan pada kita, maka bukan berarti kita ini memang baik. Tapi kesan itu adalah karena Tuhan menutupi segala aib kita. Hingga yang terlihat adalah yang baik-baik saja”.

Sebagai minoritas, sebagai perantau, saya masih sangat bersyukur karena negeri kelahiran saya tetap mendapat nama baik. Kami sebagai orang Indonesia bisa hidup berdampingan dengan damai, kompak, saling percaya dan saling respek dengan warga lokal.

Saya yakin hal yang sama berlaku untuk para perantau Indonesia di manapun berada di seluruh dunia.

Menjaga nama baik diri, menjaga nama baik agama, menjaga nama baik tanah air yang telah membesarkan kita. Terlepas dari segala kekurangan yang berusaha kita sembunyikan atau perbaiki.

Semangat persatuan, kekompakan, hidup damai, saling respek, dan keinginan untuk maju bersama, seharusnya lebih bisa dihayati di tanah ibu pertiwi.

Tak perlu gontok-gontokan, saling hujat, saling menjatuhkan. Cukup ingat saja, bahwa kita adalah makhluk tak sempurna. Bahwa setiap kita punya setumpuk aib dan kekurangan.

Izinkan saya mengutip peringatan universal untuk semua manusia dari Sang Pencipta: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, karena boleh jadi perempuan yang diperolok-olok lebih baik dari perempuan yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al Hujurat, 49:11)

Masih ada waktu untuk berbenah. Allah SWT akan tetap menutupi aib kita, aib bangsa kita. Untuk itu perlu kerja sama dan keikhlasan.

Oleh Savitry ‘Icha’ Khairunnisa
yy/islampos