14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Menggugat Banjir Nuh

Menggugat Banjir Nuh

Fiqhislam.com - Pak Nusa menemukan beberapa artikel penelitian anaknya di dalam sebuah map berwarna biru. Ia menyibaknya satu persatu dan membacanya dengan teliti. Ia mulai khawatir ketika berbagai dalil agama dikupas anaknya satu persatu lewat pemetaan logika.

Menggugat Banjir Nuh.

Banjir Nuh lokal atau global?

Jantung Pak Nusa berdegup kencang ketika deretan huruf tersebut mengulik mengenai kisah-kisah banjir dari berbagai mitologi. Anaknya menyebrang ke ranah bebas. Bahkan Dior mengulas mengenai Ein sof, Yahweh dan kepercayaan Yahudi. Ia benar-benar tak menyangka bahwa perdebatan-perdebatan mengenai agama di ruang keluarganya belum cukup untuk menegaskan kepada anaknya, betapa seorang muslim harus lurus kepada Al-Qur’an dan Hadist.

“Apa ini?” Pak Nusa melemparkan map tersebut ke atas meja.

Dior mengernyit sedikit. Ia tak serius menanggapi, matanya melirik ke arah televisi.

“Memangnya kenapa, Pak?”

“Kamu tahu aqidahmu bisa terpengaruh. Apalagi kamu sampai mengulik begitu jauh, sampai pendapat-pendapat kaum realis kaucantumkan. Bapak membebaskanmu ke ranah filsafat, tapi tidak untuk menggugat dalil-dalil Tuhan.”

“Aku tetap shalat, Pak. Ini agar kita membuka mata bahwa dalam dalil-dalil ada begitu banyak hal yang belum dijelaskan dan makalah saya ini berusaha melengkapinya.”

Pak Nusa memungut map tersebut, kemudian menyibak beberapa lembar kertas di sana.

“Bagaimana dengan ini?” Pak Nusa membeberkan hasil ketikan anaknya tepat ke wajah Dior.

“Dari judulnya saja, kamu ingin menegaskan bahwa Banjir Nuh bukan banjir global seperti yang diceritakan dalam Al-Qur’an bisa kau jelaskan hal tersebut.”

“Bisa, Pak. Bagaimana mungkin kapal sebesar 300 hasta* bisa memuat segala spesies masing-masing tujuh jenis dari yang tidak haram?”

“Kamu keterlaluan. Bapak sudah sering memergoki kamu tidak shalat. Kamu anggap apa agama itu?”

“Ini menjadi tanggungjawab saya dengan Tuhan, Pak.”

“Ini tanggung jawab bapak sebagai orangtua kamu!”

Napas Pak Nusa memburu udara. Ruangan tersebut mendadak panas seketika. Seolah dinding-dindingnya terbuat dari seng yang tersinari radiasi gama.

“Mulai besok kamu tidak usah kuliah lagi, bapak akan masukan kamu ke pesantren.”

“Aku mau ke luar sebentar, Pak.” Dior mengeloyong, menuju ke pintu.

“Dior! Bapak belum selesai bicara.”

Dior tetap bergeming. Pak Nusa hanya melemparkan hasil ketikan anaknya tersebut ke udara hingga tercecer ke segala sudut ruangan.

***

Dior menatap langit-langit kamar Rudi. Matanya menerawang jauh ke masa-masa bahagianya dulu saat keluarganya masih lengkap. Mendadak gelombang air menggulung-gulung dalam pikirannya, menghantam rumah dan menghanyutkan ibu serta kedua adiknya.

“Hoy, ngopi dulu. Melamun melulu.”

Dior bangun kemudian menyesap kopi yang disajikan Rudi. Jakunnya naik-turun berirama dengan tegukan kopi. Rudi hanya menghela napas panjang menatap sahabatnya itu.

“Gue mau tanya, tapi lu gak boleh tersinggung.”

“Tanya apa?”

“Benar ya, lu gak akan tersinggung?”

“Iya, iya. Tanya aja.”

Rudi menyiapkan napas dan dadanya. Ia menyelidik wajah Dior yang menunggu.

“Sebenarnya hubungan lu sama Tuhan itu kayak gimana?”

Dior terdiam, ia tahu sahabatnya akan menanyakan hal tersebut.

“Maaf nih, bukan maksud berniat mengganggu privasi lo. Yang gue lihat ada luka dalam hubungan lu sama Tuhan.”

“Maaf Rud, gue gak bisa jawab.”

Keduanya saling diam seolah menutup bilik masing-masing. Ada gembok besar melingkar, dan terkatup di antaranya.

Mendadak lampu yang tergantung di langit-langit kamar bergoyang-goyang. Dior mulai merasakan kepalanya begitu berat dan pusing. Keduanya saling tatap.

“Gempa!”

Segera keduanya berlari ke luar ruangan. Kemudian lamat-lamat dari jalanan sekitar terdengar derap langkah orang berlari ramai-ramai.

“Gempaaa … gempaaa … ”

Beberapa suara menyebut nama Tuhan dan beristighfar ketika gulungan air mulai merayap bak kadal mengincar mangsa, menghantam segala di hadapannya. Satu orang terhempas gelombang.

“Dior, cepat.” Keduanya menyusuri lorong sempit yang belum terkena air. Beberapa sepeda motor lewat mengebut. Mobil dan orang-orang berhamburan menjauhi air yang mulai mengejar.

“Sial.” Dior menyerobot masuk ke dalam angkot yang penuh sesak.

“Kami ikut, Pak.”

“Muatannya sudah penuh, dek.”

Ombak mulai menghantam jalan-jalan, sebuah gardu roboh dan menghantam aspal.

“Cepat!”

“I-iya, iya.”

Mobil tersebut melaju dengan kecepatan penuh, dengan beban yang melebihi kapasitas muatan membuat kekuatan gasnya tak seberapa.

Air masih mengejar di belakang, menghantam segala rupa, membuat siapa saja yang menatapnya kehilangan harapan hidup.

Air yang bergulung-gulung membentuk ombak yang berlomba-lomba saling tinggi menindih angkot hingga angkot tersebut oleng.

“Subhanallah.”

“Astagfirullahaladzim.”

Angkot oleng, membuat penumpangnya berpencaran. Beberapa bagiannya penyok karena hantaman air. Orang-orang mulai hanyut terseret ombak. Rudi dan Dior terpisah karena derasnya aliran air.

Rudi merayap-rayap mencoba meraih sesuatu agar tidak terseret. Ia mendapatkan sesuatu, namun ketika memegangnya benda tersebut dingin. Ia membalik benda itu. Mayat. Rudi memekik dalam hati, ia segera meraih-raih benda yang lain unuk menyelamatkan diri.

“Dior!” Panggilnya menatap kesunyian di antara derasnya aliran air. Entah sahabatnya itu masih hidup atau tidak. Dalam situasi seperti ini dirinya harus siap kehilangan.

Dior tak kelihatan. Rudi berhasil meraih patahan kayu yang mengambang, namun arus deras terus menyeretnya. Ia tak bisa lagi berpikir jernih. Tubuhnya kuyup, dan tenggorokannya tersedak air. Ia terbatuk keras.

Dior sudah duluan hanyut. Ia timbul-tenggelam di antara sampah-sampah yang terseret. Dan saat sadar, ia mencoba meraih-raih sesuatu. Ia terbatuk keras dan membentur. Ia mendapatkan sebuah sofa mengambang. Ia memanjat dan duduk di atasnya. Hampir terjatuh. Kemudian sempurna duduk di atasnya. Napas disertai batuk membuatnya gelagapan hampir kehilangan nyawa.

Sementara air terus mengalir deras seperti tumpahan kopi menyapu semut-semut. Pikiran Dior kini kacau, sofa yang ia duduki bergoyang-goyang. Ia menatap sekelilingnya penuh air. Beberapa mayat yang larung, dan orang-orang di atas atap yang mulai terendam, celingukan tanpa harapan.

Gelombang menghantam Dior ke sebuah bangunan. Ia masih tersadar kemudian berusaha menaiki puncak bangunan tersebut. Ia menggigil kedinginan, menatap segala benda hanyut terseret ombak. Ia berhasil menepi di atap sebuah bangunan berlantai tiga. Banjir kini sudah terlalu tinggi, entah di mana sahabatnya tadi.

Kejadian semacam ini bukan yang pertamakalinya bagi Dior.

Ia menatap langit yang mulai hitam, dan beberapa wilayah kota yang tersaput air. Orang-orang menyebut nama Tuhan berkali-kali melihat derasnya arus melabrak segala yang ada, dan membawanya hanyut bersama.

Di pikiran Dior sedang bermain bermacam-macam prasangka. Ia menatap langit yang mulai menurunkan hujan deras disertai angin. Hujan mematuk-matuk bumi dengan keras.

Ada satu kata yang sengaja ia tolak selama ini, kini menyembul pelan-pelan. Mendadak dadanya seolah lepas. Ia menatap gelombang air di bawah sana dan berucap :

“Allah … ”

Airmatanya menyembul perlahan.

Oleh Damar Hening Sunyiaji
yy/islampos