pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


4 Dzulqa'dah 1442  |  Senin 14 Juni 2021

Al-Quran Menyoal Indera Keenam

Al-Quran Menyoal Indera Keenam

Fiqhislam.com - Pakar psikologi menyebut ada jenis indra yang tidak lazim, yang disebut dengan indra keenam.  Seperti al-istisyfaf (penerawangan), yaitu melihat berbagai hal atau peristiwa yang jauh dari jangkauan indra pada umumnya.

Sebagian pakar ilmu psikologi menaruh perhatian besar pada fenomena ini. Mereka mengadakan berbagai penelitian akan tetapi hasil yang ditemukan tidak pasti. Mereka tidak memiliki pemahaman yang jelas akan fenomena tersebut.

Indra yang satu ini tidak terdapat pada seluruh diri manusia. Kadang berupa kejernihan ruhani pada orang-orang tertentu sehingga memungkinkan mereka untuk melampaui batas ruang guna mengetahui berbagai hal. Al-Quran mencontohkan hal ini kepada Nabi Yaqub AS. Ketika beliau mencium bau Yusuf AS, saat kafilah Mesir membawanya menuju tempat tinggal Nabi Yaqub AS. Padahal tempat itu jauh jaraknya, sekitar enam hari naik onta.

Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir), berkata ayah mereka, ‘Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu memebnarkanku).” (QS. Yusuf:94)

Kemampuan Nabi Yaqub AS mencium bau Yusuf  AS. Dari tempat yang jauh tersebut menunjukkan dengan jelas tentang adanya fenomena pengidraan dengan indra keenam.

Selain itu di antara mukjizat Nabi Isa AS. Yang dijelaskan Al-Quran adalah mengetahui apa yang dimakan oran-orang dan disimpan di rumahnya.

Dan Aku kabarkan kepada kamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu.” (QS. Ali Imran: 49)

Dengan kemampuan tersebut beliau dapat mengetahui berbagai hal yang tidak terlihat. Mungkin sebagai bentuk ilham ilahi.

Dalam buku-buku hadits, indra keenam ini juga sering disebut oleh para ulama tasawuf dengan istilah kasyfu. Muslim meriwayatkannya dri Rsaulullah SAW.

“Sempurnakanlah ruku’ dan sujud. Demi Allah, sesungguhnya aku pasti melihat semua ruku’ maupun sujud meskipun dengan membalikkan punggungku.” (Muslim)

Kemampuan Nabi Muhammad SAW melihat sahabatnya ruku’ dan sujud dari balik punggungnya merupakan salah satu bentuk penerawangan. Karena kesucian hati dan jiwa Rasulullah SAW.

Diriwayatkan oleh Hanzallah Al-Usaidi, salah seorang juru tulis Rasulullah SAW, ia bertanya: “Ya Rasulullah, ketika kami berada di majelis engaku mengingatkan kami akan neraka dan surga, seolah-olah kami melihat dengan mata kepala kami, tetapi ketika kami keluar dari majelsimu an bergaul dengan istri, anak dan penghidupan kami, maka kami pun banyak lupa.” Rasulullah menjawab. “Demi Allah, seandainya kamu semua bisa bersikap seperti ketika kamu bersamaku dan mengingat neraka dan surga, maka para malaikat akan menyalami kamu, baik di tempat tidurmu maupun di perjalannmu. Akan tetapi, ya Hanzallah, per jam tiga kali.” (Muslim & Tirmidzi)

Hadits ini menunjukkan kepad kita, bahwa sahabat akan mampu melihat malaikat jika kosisten dengan kondisi mereka keika bersama Rasulullah SAW, yaitu hati yang suci jiwa yang bersih dan senantiasa mengingat Allah SWT.

yy/islampos
Sumber: Psikologi Qurani/penulis:Prof. Dr. Utsman Najatti/Penerbit:Aulia