fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Debat Kusir Kaum Yahudi dan Kristen tentang Nabi Ibrahim AS

Debat Kusir Kaum Yahudi dan Kristen tentang Nabi Ibrahim AS

Fiqhislam.com - Dalam Tafsir Al-Jalalain Imam Jalalud-Din Al-Mahalli dan Jalalud-Deen As-Suyuti dinyatakan, "Orang-orang Yahudi dan Kristen percaya bahwa Ibrahim (Abraham) adalah leluhur orang Yahudi.''

Jadi, Allah mengungkapkan: "Hai Ahli Kitab! Mengapa kamu akan berdebat tentang Abraham, ketika Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim? Maka apakah kamu tidak berakal?" (Al `Imran: 65).

Ayat ini sekaligus sebagai bukti  bahwa pihak yang memperdebatkan Nabi Ibrahim AS dan mengklaim bahwa ia adalah seorang Yahudi atau Kristen tak berdasar. Apalagi kitab Taurat dan Injil diturunkan dalam rentang waktu yang lama setelahnya.

Klaim orang-orang Yahudi dan Kristen yang berdasarkan logika semata dijawab dengan turunnya Surah Al ‘Imran ayat 67 yang berbunyi, "Abraham bukanlah orang Yahudi maupun Kristen; dia adalah seorang yang tulus hati yang menyerahkan diri kepada Allah (Muslim), dan dia bukan dari orang musyrik ".

Cendekiawan Islam Harun Yahya bukunya, Kehancuran Bangsa menelaah kata Muslim dalam ayat tersebut menunjukkan arti percaya kepada keesaan Allah dan menyerah pada kehendak-Nya.

Menurut Harun Yahya, orang-orang Kristen yang percaya dalam Perjanjian Lama berpikir bahwa Ibrahim adalah nenek moyang orang-orang Yahudi, tetapi dengan hanya satu perbedaan. Sedangkan menurut orang Kristen, Nabi Ibrahim AS bukanlah seorang Yahudi, namun seorang Kristen.

“Orang-orang Kristen, yang tidak mengindahkan konsep ras seperti Yahudi mengambil sikap ini dan menjadi salah satu penyebab perselisihan dan perjuangan antara kedua agama,” tulis Harun Yahya dikutip oleh onislam.net.

Selanjutnya dalam Alquran Surah Al ‘Imran ayat 65-67 disebutkan, "Hai Ahli Kitab! Mengapa kamu akan berdebat tentang Abraham, ketika Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim? Maka apakah kamu tidak berakal?"

Sementara, dalam kitab Perjanjian Lama disebutkan bahwa Nabi Ibrahim adalah orang yang memperingatkan kaumnya agar mereka bisa bertakwa kepada Allah.

Mulai dari masa mudanya, ia memperingatkan kaumnya, yang menyembah berhala, melepaskan latihan ini.

Daripada menyerah pada permohonannya, rakyatnya berusaha untuk membunuhnya. Setelah lolos dari kejahatan umat-Nya, Ibrahim akhirnya berimigrasi. [yy/republika]