pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


14 Dzulqa'dah 1442  |  Kamis 24 Juni 2021

Apakah tak Ada Lagi Saling Percaya dalam Islam?

Apakah tak Ada Lagi Saling Percaya dalam Islam?

Fiqhislam.com - Dari pada masa pemerintahan Khalifah Umar, ketika Umar sedang duduk-duduk dengan para sahabatnya, tiga pemuda bangsawan yang tampan memasuki majelisnya.

Dua orang di antaranya berkata, "Kami berdua bersaudara. Ketika ayah kami sedang bekerja di ladangnya, dia dibunuh oleh pemuda ini, yang sekarang kami bawa kepada tuan untuk diadili. Hukumlah dia sesuai dengan Kitabullah." Khalifah Umar menatap orang yang ketiga dan memintanya berbicara.

"Walaupun di sana tidak ada saksi sama sekali, Allah, Yang Selalu Hadir, mengetahui bahwa mereka berdua berkata yang sebenarnya," kata si terdakwa itu.

"Aku sangat menyesal ayah mereka terbunuh di tanganku. Aku orang dusun. Aku tiba di Madinah tadi pagi untuk berziarah ke makam Rasulullah saw. Di pinggir kota, aku turun dari kudaku untuk menyucikan diri dan berwudhu. Kudaku mulai memakan ranting-ranting pohon kurma yang bergelantungan melewati tembok. Segera setelah aku melihatnya, aku menarik kudaku menjauhi ranting-ranting tersebut."

"Pada saat itu juga, seorang lelaki tua yang sedang marah mendekatiku dengan membawa sebuah batu yang besar. Dia melemparkan batu itu ke kepala kudaku, dan kudaku langsung mati. Karena aku sangat menyayangi kuda itu, aku kehilangan kendali diri. Aku mengambil batu itu dan melemparnya kembali ke orang tersebut. Dia roboh dan meninggal. Jika aku ingin melarikan diri, aku dapat saja melakukannya, tetapi ke mana? Jika aku tidak mendapatkan hukuman di sini, di dunia ini, aku pasti akan mendapatkan hukuman yang abadi di akhirat nanti. Aku tidak bermaksud membunuh orang itu, tetapi kenyataannya dia mati di tanganku. Sekarang tuanlah yang berhak mengadili aku."

Khalifah berkata, "Engkau telah melakukan pembunuhan. Menurut hukum Islam, engkau harus menerima hukuman yang setimpal dengan apa yang telah engkau lakukan."

Walaupun pernyataan itu berarti satu pengumuman kematian, pemuda itu tetap bersabar; dan dengan tenang dia berkata, "Kalau begitu, laksanakanlah. Namun, aku menanggung satu tanggung jawab untuk menyimpan harta kekayaan anak yatim yang harus kuserahkan kepadanya bila ia telah cukup umur. Aku menyimpan harta tersebut di dalam tanah agar aman. Tak ada seorang pun yang tahu letaknya kecuali aku. Sekarang aku harus menggalinya dan menyerahkan harta tersebut kepada pengawasan orang lain. Kalau tidak, anak yatim itu akan kehilangan haknya. Beri aku tiga hari untuk pergi ke desaku dan menyelesaikan masalah ini."

Umar menjawab, "Permintaanmu tidak dapat dipenuhi kecuali ada orang yang bersedia menggantikanmu dan menjadi jaminan untuk nyawamu."

"Wahai Amirul Mukminin," kata pemuda tersebut, "Aku dapat melarikan diri sebelumnya jika aku mau. Hatiku sarat dengan rasa takut kepada Allah; yakinlah bahwa aku akan kembali."

Khalifah menolak permintaan itu atas dasar hukum. Pemuda itu memandang kepada para pengikut Rasulullah saw yang mulia yang tengah berkerumun di sekeliling khalifah. Dengan memilih secara acak ia menunjuk Abu Dzar Al-Ghifari dan berkata, "Orang ini akan menjadi jaminan bagiku." Abu Dzar adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw yang paling dicintai dan disegani. Tanpa keraguan sedikit pun, Abu Dzar setuju untuk menggantikan pemuda itu.

Sang terdakwa itu pun dibebaskan untuk sementara waktu. Pada hari ketiga, kedua penggugat itu kembali ke sidang khalifah. Abu Dzar ada di sana, tetapi terdakwa itu tidak ada. Kedua penggugat itu berkata: "Wahai Abu Dzar, Anda bersedia menjadi jaminan bagi seseorang yang tidak Anda kenal. Seandainya dia tidak kembali, kami tidak akan pergi tanpa menerima pengganti darah ayah kami."

Khalifah berkata: "Sungguh bila pemuda itu tidak kembali, kita harus melaksanakan hukuman itu kepada Abu Dzar." Mendengar kata-kata tersebut, setiap orang yang hadir di sana mulai menangis, karena Abu Dzar, orang yang berakhlak sempurna dan bertingkah laku sangat terpuji, merupakan cahaya dan inspirasi bagi semua penduduk Madinah.

Ketika hari ketiga itu mulai berakhir, kegemparan, kesedihan dan kekaguman orang-orang mencapai puncaknya. Tiba-tiba pemuda itu muncul. Dia datang dengan berlari dan dalam keadaan penat, berdebu dan berkeringat. "Aku mohon maaf karena telah membuat Anda khawatir," dia berkata terengah-engah, "Maafkan aku karena baru tiba pada menit terakhir. Terlalu banyak yang harus aku kerjakan. Padang pasir sangatlah panas dan perjalanan ini teramat panjang. Sekarang aku telah siap, laksanakanlah hukumanku."

Kemudian dia berpaling kepada kerumunan massa dan berkata, "Orang yang beriman selalu menepati ucapannya. Orang yang tidak dapat menepati kata-katanya sendiri adalah orang munafik. Siapakah yang dapat melarikan diri dari kematian, yang pasti akan datang cepat atau lambat? Apakah saudara-saudara berpikir bahwa aku akan menghilang dan membuat orang-orang berkata, Orang-orang Islam tidak lagi menepati ucapannya sendiri?"

Kerumunan massa itu kemudian berpaling kepada Abu Dzar dan bertanya apakah ia sudah mengetahui sifat yang terpuji dari pemuda tersebut. Abu Dzar menjawab, "Tidak, sama sekali. Tetapi, saya tidak merasa mampu untuk menolaknya ketika dia memilih saya, karena hal itu sesuai dengan asas-asas kemuliaan. Haruskah saya menjadi orang yang membuat rakyat berkata bahwa tak ada lagi perasaan haru dan kasih sayang yang tersisa dalam Islam?"

Hati dan perasaan kedua penggugat itu tersentuh dan bergetar. Mereka lalu menarik tuduhannya, seraya berkata, "Apakah kami harus menjadi orang yang membuat rakyat berkata bahwa tiada lagi rasa belas kasihan di dalam Islam?"(1)

Kisah di atas, bagi sebagian besar kalangan Muslim, akan dipahami sebagai salah satu bentuk kemuliaan dan keagungan pribadi-pribadi Muslim generasi awal yang dididik langsung oleh Rasulullah saw. Terlebih tokoh dalam kisah di atas adalah sosok-sosok sahabat Rasulullah yang diakui akhlaknya (kecuali sosok Umar bin Khaththab bagi kalangan Syiah, misalnya). Namun, bukan tidak mungkin, kisah serupa akan dibaca oleh sebagian lainnyakhususnya mereka yang tidak beragama Islamsebagai salah satu bentuk paling gamblang bahwa Islam memang agama yang kaku, keras, dan haus darah, sekali pun itu tampil dalam bentuk ketaatannya kepada agama. Nyawa balas nyawa, lalu orang yang tak bersalah sama sekali dengan begitu saja dijadikan jaminan dan bahkan bisa dikorbankan demi tegaknya hukum agama; betapa mengerikannya hukum qishash dalam Islam tersebut (terlepas dari akhir cerita yang memperlihatkan bahwa masalah hukum tersebut berakhir dengan baik dan tanpa pertumpahan darah sama sekali). Namun, di mana sisi humanis dari Islam sebagai agama yang menetapkan hukum haus darah seperti itu?

Berikutnya, coba amati kisah ini:

Dalam pertempuran melawan orang-orang kafir, Ali bin Abi Thalib menghadapi prajurit muda gagah berani yang telah bergerak untuk menyerangnya. Dari hatinya Imam Ali berseru, "Wahai anak muda, apakah engkau tidak mengetahui siapa aku? Akulah Ali yang tak terkalahkan. Tak seorang pun dapat meloloskan diri dari sabetan pedangku. Pergilah dan selamatkan dirimu!"

Pemuda itu tetap mendekatinya dengan pedang terhunus di tangannya. "Mengapa engkau ingin menyerangku?" tanya Imam Ali, "Dan mengapa engkau ingin mati?"

Pemuda itu menjawab, "Aku mencintai seorang gadis yang berjanji bahwa ia bersedia menjadi milikku bila aku membunuhmu."

"Tetapi bagaimana kalau engkau yang mati?" tanya Ali.

"Apa yang lebih baik daripada mati demi seseorang yang kita cintai?" jawabnya. "Setidaknya, tidakkah aku diringankan dari beban penderitaan cinta?"

Mendengar jawaban ini, Ali menjatuhkan pedangnya, menanggalkan topi bajanya, dan merentangkan lehernya seperti seekor domba korban.

Dihadapkan pada reaksi seperti itu, cinta dalam hati pemuda itu beralih kepada Ali dan kepada satu-satunya yang dicintai Ali bin Abi Thalib, yakni Allah SWT.(2)

Apabila di kisah sebelumnya, hukum qishash yang mengerikan tersebut malah hendak ditegakkan secara ketat dan berlumur darah, maka dalam kisah berikutnya, seorang Amirul Muminin, pemimpin umat Islam, malah hendak begitu saja mengorbankan nyawanya sendiri untuk membantu hasrat cinta seorang pemuda mabuk kepayang. Apakah ini adalah sebentuk pengorbanan yang agung ataukah kekonyolan? Sekali lagi, bagi sebagian besar umat Islam, kedua kisah tersebut akan terasa menyentuh dan begitu agung.

Namun, apabila dipandang dari perspektif sekular, dari pandangan humanisme yang "menggeser kiblat wacana dari arah teologis-dogmatis menuju ke arah yang lebih antroposentris dan kritis, di mana manusia dan dunianyalah, bukan Tuhan, yang menjadi titik pusat pemikiran"(3) maka perilaku para tokoh besar Islam di atas malah tampak mengerikan dan bisa juga konyol. Apalagi kisah kedua terjadi di medan peperangan yang secara eksplisit dinyatakan sebagai "pertempuran melawan orang-orang kafir."

Seperti dikemukakan oleh Bambang Sugiharto, "Konon pula agama adalah jalan menuju keselamatan, perdamaian, ketenangan dan kasih sayang. Anehnya, sebagian cukup besar dari seluruh peperangan dalam dunia manusia dipicu atau berkaitan dengan soal agama. Bukannya sumber keselamatan dan ketenangan, agama lebih merupakan sumber persoalan yang lebih ganas dan mengerikan daripada persoalan sekular... Kita sudah punya cukup banyak agama untuk saling menyiksa dan membunuh, namun rupanya belum cukup untuk saling mengasihi."(4) Karenanya, adakah tempat bagi ide-ide humanisme dalam Islam, ataukah Islam memang agama yangdalam banyak halmalah mendehumanisasi manusia melalui ajaran dan hukum-hukumnya yang keras dan kaku?

Oleh Al Ustadz Alfathri Adlin
yy/inilah