fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Kemuliaan Ulat, Keterbatasan Manusia

Kemuliaan Ulat, Keterbatasan Manusia

Fiqhislam.com - Dikisahkan, suatu ketika Nabi Daud As. sedang asyik membaca kitab Zabur di pangkuannya. Tak berapa lama kemudian, muncullah seekor ulat merah tepat di hadapannya.

Daud yang kala itu sedang menikmati kalam-Nya pun merasa terganggu dengan tingkah polah sang ulat. Ia pun menggerutu, "Apa yang dikehendaki Allah dengan ulat ini?" Kemudian, sembari mencungkil si binatang kecil nan lemah dari hadapannya itu, Daud berkata, "Adakah kau mampu memberikanku manfaat hingga aku harus membiarkanmu mengganggu kenikmatanku membaca kalam Tuhan?"

Dan, setelah ulat itu berhasil disingkarkan, tiba-tiba suara gaib datang menghampiri Daud, "Tahukah kau, Daud bahwa ulat ini sedang mengagungkan asma-Ku (Allah)? Tahukah kau, Daud bahwa ulat kecil yang kau anggap remeh ini sesungguhnya sedang bertasbih kepada-Ku? Tahukah kau, Daud bahwa ulat yang kau anggap tak memiliki manfaat apapun sesungguhnya sedang melakukan proses keseimbangan alami kehidupan di bumi yang kau pijak ini?"

Nabi Daud pun segera tersadar bahwa ia telah memandang sebelah mata kehadiran ulat tersebut.

Seekor ulat yang sejatinya dianggap sangat kecil dan minim faedah, di hadapan Tuhan bisa jadi lebih mulia dan terhormat. Seekor ulat yang kerap dianggap jijik dan hendak segera dibasmi, sesungguhnya hadir di hadapan kita dengan rute kehidupan tersendiri, yang sengaja Allah cipta guna menyeimbangkan alam dunia seisinya.

Ulat atau mungkin binatang lain yang kerap dianggap menjijikkan dan menganggu kenikmatan hidup manusia, sejatinya Allah hadirkan sebagai tanda bagi manusia untuk mengagungkan kehebatan Sang Pencipta.

Ini seorang Nabi, yang terkenal dengan puasa tanpa henti, dan hanya dipisah hitungan hari (Puasa Daud)seorang Nabi yang dikenal dengan ketaatan dan ibadah yang sangat luar biasa, pun mendapat teguran dari Allah akibat merasa paling bermanfaat sebagai manusia. Lantas, bagaimana dengan kita (manusia biasa yang tak luput dari lupa dan lalai)?

Siapa sebenarnya yang mengganggu, dan siapa yang terganggu? Kita atau mereka, makhluk ciptaan Allah yang sama-sama sedang bertasbih mengagungkan-Nya? Tak malukah kita bila ternyata Allah menilai makhluk lain lebih tinggi dibandingkan kita yang dipenuhi khilaf?

Atau kitakah yang tengah lalai, sehingga makhluk Allah yang seharusnya tinggal dan bermukim di jalurnya, justru hadir dengan memberikan dampak buruk dan merugikan bagi manusia?

yy/islamindonesia/inilah
Diolah dari kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam al Ghazali