12 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 19 Oktober 2021

basmalah.png

Orang Kaya di Tengah Kaum Miskin Bukan Kemuliaan

Orang Kaya di Tengah Kaum Miskin Bukan KemuliaanFiqhislam.com - Dari sisi kepemilikan harta, ada 62 orang di dunia ini yang kekayaan materialnya mengalahkan kekayaan separuh penduduk dunia. Bahasa lainnya, kekayaan 62 orang itu lebih banyak dibandingkan harta yang dimiliki 3,2 miliar manusia. Bahasa statistiknya, 0,0000008% penduduk menguasai lebih dari 50% harta dunia. Luar biasa kan ketimpangannya?

Data lain menunjukkan bahwa pengeluaran dunia (world expenditure) untuk keperluan militer setiap tahunnya adalah sekitar US$1,3-1,4 triliun. Sementara untuk menyelesaikan krisis kelaparan dunia sesungguhnya hanya butuh US$50 miliar. Ternyata penanganan kelaparan tak dilakukan dan dikalahkan oleh prioritas urusan perang yang "memproduksi" kelaparan. Betapa dunia telah kehilangan skala prioritas.

Ketimpangan yang luar biasa dan hilangnya skala prioritas di atas dianalisa oleh para pakar politik ekonomi sebagai gejala "pernicious capitalism," yakni kapitalisme yang sangat berbahaya, bisa menjadi bom waktu yang meluluhlantahkan tatanan sosial politik. Bahasa kampungnya, menjadi orang terkaya yang rumahnya berdampingan dengan orang-orang termiskin bukanlah sebuah kemuliaan melainkan kehinaan yang mengancam.

Apa solusinya? Kembalilah pada nilai agama. Agama datang untuk meluruskan yang bengkok dan memelihara tatanan normal kehidupan. Oleh karena itu, tema sentral agama adalah cinta dan kasih sayang di samping tauhid tentunya. Dari tema ini lahirlah kewajiban berbagi, keharusan menghormati dan menghargai orang lain, konsep shadaqah dan semacamnya itu.

Tak perlu kita menghitung sebanyak apa harta kita untuk menyaingi 62 orang di atas, cukup tanyakan apa saja yang sudah kita berikan untuk kebahagiaan orang lain. [yy/inilah]

KH Ahmad Imam Mawardi