pustaka.png.orig
basmalah.png


10 Dzulqa'dah 1442  |  Minggu 20 Juni 2021

Muslim, Ilmu, dan Perguruan Tinggi Islam

Muslim, Ilmu, dan Perguruan Tinggi Islam

Fiqhislam.com - Sebagai seorang Muslim dan akademisi, penulis mengapresiasi penuh gagasan, ide dan wacana yang diuraikan pada tulisan tersebut. Sebuah tulisan yang kaya akan nutrisi keilmuan dan keimanan tinggi yang sangat dibutuhkan bagi para Intelektual Islam ditengah-tengah modernitas dan hegemoni pearadaban Barat.

Ada beberapa poin yang perlu menjadi bahan renungan dan evaluasi kususnya bagi yang mengaku dirinya sebagai seorang Muslim, akademisi Muslim dan bagi Perguruan Tinggi yang membawa label Islam, serta teruntuk pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia pada umumnya.

Poin pertama, berkenaan soal pandangan Muslim terhadap Barat dan Muslim terhadap Islam. Pandangan Muslim terhadap Barat perlu dipertegas kembali, hal ini sangat urgen mengingat tidak sedikit umat Islam yang beranggapan bahwa peradaban Barat tidak memiliki kekurangan atau cacat, baik dari segi gaya hidup maupun pandangan hidupnya.

Cara pandang seperti ini kurang tepat karena peradaban Barat sendiri mempunyai catatan buruk dalam sejarahnya, memiliki rapor merah pada sebagian tokoh-tokoh besar peradaban Barat, track record negatif dalam gaya hidupnya dan perlu mendapatkan catatan kritis terhadap pandangan hidup (worldview) Barat.

Mereka juga telah mengosongkan dunia dari nilai-nilai rohani agama, desekularisasi politik, dan merelatifkan semua nilai-nilai manusia, inilah nilai-nilai yang terkandung pada paham sekulerisme, dan kesemuanya ini tidak sejalan dengan pandangan hidup (worldview) Islam.

Walaupun Barat maju dibidang sains dan teknologi, serta memberikan kontribusi positif bagi kehidupan manusia akan tetapi bukan berarti Barat tidak memiliki cacat. Bahkan sebaliknya dengan segala kemajuan informasi dan teknologi, mengakibatkan banyak kerusakan dan menelan korban manusia.

Bom-bom pemusnah masal yang diluncurkan dari senjata-senjata pemusnah masal adalah salah satu contoh dari kemajuan teknologi dibidang militer yang membawa dampak negatif. Barat perlu merenungkan ungkapan Marvin Perry dalam bukunya Western Civilization:

“Sains, sebagai pencapaian besar para intelektual Barat, sembari memperbaiki berbagai kehidupan, telah pula menghasilkan senjata pemusnah massal. Walaupun Barat telah menjadi pionir bagi perlindungan hak-hak manusia, ia juga telah menghasilkan rezim-rezim totaliter yang menginjak-injak kebebasan individu dan martabat manusia. Dan walaupun Barat telah menunjukkan komitmen akan kesetaraan manusia, ia telah pula mempraktikkan rasisme yang brutal.”

Selain itu, pandangan Barat terhadap ilmu juga perlu dikaji ulang, Barat beranggapan bahwa ilmu itu bebas nilai artinya ilmu itu pada dasarnya netral tidak ada intervensi dari ide-ide, gagasan dan dari sumber lain sedangkan dalam pandangan Islam, ilmu tidak bebas nilai yang berarti ilmu pada dasarnya itu tidak netral. Karena dalam Islam pengetahuan manusia tidak sepenuhnya produk manusia, pengetahuan itu merupakan anugerah Ilahi dan cahaya dari Allah SWT.

Antara peradaban Barat dan Islam terdapat perbedaan mendasar yang tidak akan bertemu satu sama lain ibarat minyak dan air, sebagaimana yang dinyatakan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, “Antara Islam dan kebudayaan Barat terbentang pemahaman yang berbeda mengenai ilmu, dan perbedaan itu begitu mendalam sehingga tidak bisa dipertemukan.”

Sayangnya sebagian cendekiawan Muslim masih memegang teori bahwa ilmu itu bebas nilai. Pemahaman seperti inilah yang perlu diluruskan karena berlawanan arah dengan apa yang ditegaskan dalam ayat-ayat al-Qur’an, “Allah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”; “Allah mengajarkan Adam nama-nama yang tidak diketahuinya”; Nabi ditanya tentang doa: Tambahkanlah aku ilmu.”

Serta tidak lupa pula pemahaman Barat terhadap Barat perlu dikritisi. Barat beranggapan bahwa hanya peradabannyalah yang paling benar, sebagaimana penulis kutip dari tulisan Prof. Wan Daud, sebagai berikut:

“Barat tidak mentoleransi adanya perbedaan pemikiran atau gagasan pihak lain yang bertentangan dengannya. Apabila terdapat gagasan yang berbeda akan dianggap sebagai reaksioner, anakronistik, tradisional, tidak wajar, radikal, anti kemanusiaan, atau akan dikemas kedalam idiom dan kategori yang dapat diterima oleh pandangan Barat yang dominan dan kepentingannya.”

Ini merupakan salah satu bentuk kecongkakan Barat terhadap peradaban lainnya, ia merasa bahwa dirinya berada diatas angin bila dibandingkan dengan peradaban lain, dan merasa superior. Menganggap bahwa perdaban sendiri maju dan peradaban lain mundur.

Barat seoalah-olah ingin mengatakan untuk menjadi beradab dan modern serta agar dapat sejajar dengan Barat maka wajib bagi mereka (peradaban non-Barat) untuk menerima, menerapkan paham-paham, teoeri-teori, dan pandangan hidup Barat. Jika demikian negara akan menjadi ke-barat-baratan, ini sebuah persyaratan yang sebenarnya diragukan .

Akibatnya identitas negaranya sendiri secara perlahan akan hilang. Bila dikaji dari segi rohaniah (spiritual) maka Barat menurun drastis. Inilah yang tidak dipahami oleh Barat terhadap peradabannya sendiri. Tidak ketinggalan Marvin Perry turut serta dalam mengkritisi peradaban Barat dengan ungkapan:

“Peradaban Barat adalah sebuah drama tragis. Barat telah melupakan instrument-instrumen akal yang memungkinkan terjadinya keselarasan raasional antara alam fisik dan budaya manusia, menawarkan gagasan tentang kebebasan politik, dan mengakui nilai-nilai intrinsik setiap individu. Barat modern, walaupun telah berhasil menyingkap berbagai misteri alam, namun gagal menemukan pemecahan rasional bagi penyakit-penyakit sosial serta konflik antar bangsa.”

Poin kedua, ialah Islamisasi ilmu pengetahuan menjadi jawaban atas persoalan westernisasi dan kolonialisasi pengetahuan serta pendidikan. Salah satu hutang Barat terhadap peradaban lain ialah praktik kolonialisasi yang dicirikan dengan penjajahan terhadap wilayah, daerah dan negara dengan tujuan menguasai dan mengeksploitasi sumber daya alam didaerah jajahan.

Bentuk lain dari kolonialisasi adalah westernisasi yaitu sebuah langkah pembaratan yang melingkupi budaya, tradisi, dan pandangan hidup. Pada abad 20 setelah Amerika Serikat bergabung dengan Barat (Eropa) bentuk imperialisme mempunyai formulasi baru dengan digulirnya konsep modernisasi, pembangunan, demokrasi, kebebasan dan hak asasi manusia.

Konsep-konsep inilah yang kemudian dimasukkan kepada wilayah-wilayah jajahannya, sehingga ketika suatu wilayah jajahan merdeka dari bentuk penjajahan maka faham-faham inilah yang menjadi landasan hidup suatu bangsa.

Akibat dari westernisasi dalam konteks pengetahuan dan pendidikan adalah telah berubahnya tujuan pengetahuan dan pendidikan semula untuk menjadikan manusia yang baik berbalik arah menjadi destruktif-eksploitatif. Hegemoni Barat terhadap peradaban lain kususnya Islam berubah bentuk dari serangan secara fisik merubah halauan dengan menggunakan serangan pemikiran dan terbukti cara ini lebih berhasil serta diterima sebagian cendekiawan muslim.

Metode tersebut berhasil melunakkan worldview intelektual Muslim sehingga dengan mudahnya menerima, mengadopsi teori-teori Barat tanpa memfilter terlebih dahulu mana teori-teori yang sesuai dengan pandangan hidup Islam dan kontra. Hegemoni Barat melalui pemikiran dituangkan kedalam kajian keagamaan, yakni melalui Islamic Studies.

Kajian studi Islam menjadi jalan alternatif Barat didalam menancapkan pengaruhnya dan jalan ini terlihat lebih akademis serta sasarannya tidak lagi menyasar grassroot tapi lebih elit dengan membidik pada kaum akademisi dan intelektual Muslim di Perguruan Tinggi.

Universitas McGill, Montreal, Kanada menjadi salah satu perguruan tinggi yang terkenal massif mengenalkan program Islamic Studies, dengan membuka beasiswa-beasiswa kepada mahasiswa atau dosen-dosen di Perguruan Tinggi Islam.

Perguruan Tinggi menjadi salah satu jembatan penghubung antara cendekiawan Muslim dengan paham-paham Barat seperti demokrasi, sekulerisme, liberalisme, pluralisme, relativisme, empirisme dan lain-lain.

Hal ini senada dengan gagasan Prof. Wan Nor Mohd Wan Daud, menurutnya, “Hegemoni Barat mulai memasuki wilayah interpretasi agama masyarakat non-Barat, dimana sifat atau batas toleransi beragama, pluralisme, dan Hak Asasi Manusia ditentukan secara signifikan dari perspektif Barat sekuler. Ditanamkan terutama pada institusi dan lembaga-lembaga Pendidikan Tinggi.”

Dewesternisasi dan dekolonialisasi pengetahuan dan pendidikan berarti Islamisasi pengetahuan. Oleh karenanya Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer menjadi solusi terhadap kerusakan ilmu yang diakibatkan worldview Barat. Pandangan hidup dan spirit Barat pada dasarnya didasarkan pada empat pilar utama yaitu, sekulerisme, dualisme, humanisme dan tragedi yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan pemikiran Barat.

Apabila empat pilar tersebut diterapkan ke dalam pandangan hidup Islam maka tidak ada lagi agama Islam karena Islam telah menjadi Barat. Beberapa tokoh pemikir Islam yang menggagas gerakan Islamisasi ilmu di antaranya, Sir Muhammad Iqbal, Syed Hosen Nasr, Ismail R. al-Faruqi dan terakhir Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Akan tetapi S.M. Naquib al-Attas menjadi tokoh sentral dalam gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, gagasannya mendapat banyak sambutan positif dari beberapa cendekiawan muslim transnasional, termasuk di Indonesia dan sesama ras Melayu seperti Malaysia. Konsep tentang Islamisasi diterangkan secara tegas oleh S.M.N. al-Attas, sebagai berikut:

“… Membebaskan manusia pertama-tamanya dari tradisi magis, mitos, animistik, kultur nasional, lalu membebaskan dari jeratan sekular yang membelenggu akal dan bahasanya. Orang Islam adalah orang yang akal dan bahasanya tidak lagi dikontrol oleh magis, mtos, animism dan kultur serta tradisi nasionalismenya. Inilah perbedaan antara Islam dan sekulerisme… Ia juga membebsakan dari ketundupatuhan terhadap tuntutan fisik yang condong pada sekulerisme dan ketidak adilan dan mengabaikan kebenaran jiwanya, manusia secara fisik condong pada kelupaan terhadap alam sejatinya, mengabaikan tujuan hakikinya dan berlaku tidak adik padanya. Islamisasi adalah proses yang tidak membutuhkan banyak evolusi seperti perpindahan menuju alam aslinya… Jadi dalam tataran individu, keberadaan Islamisasi secara personal mengacu pada apa yang dijelaskan di atas, diman Nabi saw merupakan contoh tertinggi dan sempurna; sedangkan, dalam tataran kolektif, keberadaan Islamisasi secara sosial historis merujuk kepada Komunitas yang berjuang menuju realisasi kualitas moral dan etika kesempurnaan sosial yang dicapai selama zaman Nabi Muhammad saw.”

Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan langkah jitu dalam rangka membentengi, mengokohkan, dan bentuk pembersihan pandangan hidup Muslim dari kotoran-kotoran pemikiran asing yang tidak sesuai serta berlawanan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.

Islamisasi atau dewesternisasi pengetahuan masa kini dapat dilakukan melalui proses ganda dengan mengisolasi dan menghapus hal-hal yang tidak Islami. Lebih konkritnya menanamkan konsep-konsep Islam ke dalam paham-paham atau teori-toeri Barat yang bertentangan dengan wahyu Ilahi.

Inilah yang sedang dilakukan oleh para cendekiawan Muslim, akademisi Muslim, dan ulama yang konsen dibidangnya masing-masing dalam upaya mengembalikan peradaban Islam keposisinya semula menjadi directure of change pada level internasional.

Poin ketiga, Perguruan Tinggi Islam menjadi media utama Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer. Perguruan Tinggi menjadi jalan utama program Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, Kususnya Perguruan Tinggi Islam (PTI) yang telah melebar bahkan menyimpang dari tujuan hakiki sebuah PTI.

Dalam tulisannya, Prof. Wan Nor Mohd Wan Daud tentang Islamisasi Ilmu-Ilmu kontemporer Dan Peran Universitas Islam Dalam Konteks Dewesternisasi Dan Dekolonisasi menegaskan kembali bahwa, “Tujuan Pendidikan Tinggi Islam bukan untuk menghasilkan warga negara yang lengkap (complete citizen), melainkan untuk menghasilkan manusia seutuhnya (complete man), atau manusia universal.”

Sayangnya sekarang PTI telah dijadikan laboratorium manusia yang tidak hanya menghasilkan sarjana-sarjana berorientasi matrealisme, lebih dari itu PTI juga membentuk sarjana-sarjana yang tidak lagi menyukai syari’at Islam dan lebih mengagung-agungkan konsep-konsep Barat.

Hal ini terbukti, setidaknya dimulai dengan hal-hal kecil, semisal, mahasiswa yang sudah anti ketika mendengarkan kata-kata syari’at. Naik lagi kelevel sedang, yakni mahasiswa yang sudah beranggapan bahwa agama atau syari’at hanya boleh dipakai pada ranah-ranah privasi saja dan tidak diperbolehkan mencampuri urusan publik.

Contoh lainnya, ialah ketika mahasiswa sudah menolak konsep-konsep yang ditawarkan Islam dan lebih menerima konsep-konsep yang ditawarkan Barat, hal ini telah masuk keranah yang radikal. Lebih extrem lagi ketika mahasiswa-mahasiswa produk PTI sudah berani mendekonstruksi hukum-hukum Islam yang sudah permanen (qath’i), melecehkan tafsir para ulama Islam klasik yang sudah di akui oleh jumhur ulama.

Tidak hanya itu sebagian dosen yang merupakan lulusan PTI, berani menginjak-injak mushaf al-Qur’an dan menginjak-injak lafal Allah dengan secarik kertas. Lebih negerinya lagi telah terbit sebuah buku mengguggat otentisitas wahyu Tuhan (Allah SWT), hal ini mengindikasikan bahwa Tuhan tidak lebih pintar dibandingkan manusia yang merupakan ciptaan-Nya sehingga pantas untuk dikritik.

Mengapa PTI perlu dikembalikan ke jalur yang sebenarnya? Karena dengan kembalinya PTI pada tujuan sesungguhnya, secara otomatis tujuan pendidikan berubah ke dalam bentuk aslinya yakni fokus pada penciptaan manusia baik (good man). Tidak lagi mengacu pada konsep pendidikan sekuler yang bertujuan menciptakan manusia matrealistis dan anti-teistik (anti Tuhan).

Inilah salah satu aspek yang membedakan pendidikan Islam dan sekuler. Hal ini diperkuat oleh pandangan Prof. S.M.N. al-Attas, menurutnya, “Universitas modern tidak lagi mencerminkan manusia sejati (the true man), melainkan mencerminkan suatu negara dan manusia sekuler.”

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menjelaskan bahwa seorang sarjana Muslim hendaknya tidak hanya menguasai bidang yang sedang ditekuninya melainkan sarjana Muslim hendaknya bisa menguasai bidang-bidang lainnya diluar bidang spesialisasinya. Disisi lain sarjana Barat sudah di setting untuk fokus pada bidang yang menjadi spesialisasinya.

Inilah beberapa poin yang bisa penulis uraikan dalam tulisan ini, kesimpulan tulisan Prof. Wan Nor Mohd Wan Daud tentang Islamisasi Ilmu-Ilmu kontemporer Dan Peran Universitas Islam Dalam Konteks Dewesternisasi Dan Dekolonisasi merupakan kritik terhadap pandangan hidup Barat yang terus menghegemoni peradaban lain kususnya Islam dalam hal ini dibidang pengetahuan dan pendidikan.

Serta upaya untuk menyadarkan kembali kepada umat Islam secara keseluruhan bahwa inti permasalahan di negeri-negeri Muslim berpangkal pada problem ilmu. Ilmu yang rusak diakibatkan bercampur dengan paham-paham Barat yang bertentangan dengan Wahyu Ilahi, dengan mengajukan gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer sebagai solusi tepat.

Peran Perguruan Tinggi Islam adalah sebagai media memahamkan Islamisasi ilmu tersebut kepada para akademisi Muslim dan intelektual Muslim sehingga tercipta manusia yang baik (good man), manusia sejati (the true man).

yy/islampos