fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Masih Ada Noda di Ukhuwah Islamiyah

Masih Ada Noda di Ukhuwah Islamiyah

Fiqhislam.com - Allah SWT telah mencipatakan manusia dengan berbagai suku dan berbangsa-bangsa, yang satu dan lainnya tidak sama dan penuh perbedaan. Masing-masing manusia pun Allah berikan anugerah kelebihan dan kelemahan agar saling menguatkan. Tak ada satupun manusia yang sempurna sehebat apapun ia. Semua punya keterbatasan dan kekurangan. Dan semua sama di hadapan Allah, dari bangsa dan golongan manapun. Hanya imam dan taqwa sebagai pembeda.

Allah SWT berfirman ” Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa di sisi Allah,” (QS al-Hujurat [49]:13).

Jelas betapa manusia hanya mulia disisiNya apabila bertaqwa, menjalankan semua perintah dan menjauhi laranganNya secara kaffah dan keseluruhan tanpa kecuali. Jelas pula Allah menciptakan manusia dari berbagai suku bungsa agar saling mengenal. Bukan sebaliknya, saling tak peduli ataupun mengabaikan.

Manusia dengan manusia yang lain saling membutuhkan. Allah yang Maha Tahu segalanya, betapa dengan RahmatNya pun telah menciptakan seperangkat aturan tentang hubungan antar manusia agar saling mengenal, dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.

Ukhuwah Islamiyah biasa diartikan sebagai persaudaraan Islam.

Persaudaraan karena Allah semata yang harusnya tak boleh dibatasi oleh suku, bangsa, kepentingan atau apapun itu. Persaudaraan yang menghendaki adanya sifat saling tolong menolong, saling mengasihi saudaranya sesama muslim karena taqwa semata. Karena Allah sang Maha Pemurah yang memerintahkan. Bukankah telah nyata yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling taqwa? Paling menaatiNya. Paling tunduk padaNya dalam kondisi apapun.

Allah berfirman, ” Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat.” (QS al-Hujurat [49]: 10).

Rasulullah pun bersabda, ” Kalian tidak masuk surga hingga kalian beriman dan belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai…” (HR. Muslim)

Namun, terkadang persaudaraan Islam hanya bicara di atas kertas. Saat sekarang persaudaraan Islam mulai ternoda disana sini. Bahkan bukan hal yang aneh lagi menimpa aktivis dakwah, karena terpesona oleh keindahan haraqah, kelompok dan partai sendiri. Merasa kelompok dan partai sendiri yang paling baik dan yang lain salah. Kelompokisme lambat laun mendarah daging, dan ukhuwah Islamiyah hanya jadi sebuah retorika.

Beberapa kasus berikut bisa jadi bahan renungan kita semua umat Islam. Umat yang Allah perintahkan untuk saling membantu, saling menasihati dalam kebaikan, saling merasa sakit kala saudara muslimnya disakiti. Sebagaimana rasul bersabda, ”

Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah bagaikan satu jasad, jika salah satu anggotanya menderita sakit, maka seluruh jasad juga merasakan (penderitaannya) dengan tidak bisa tidur dan merasa panas.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mungkin diantara kita pernah mendengar fenomena kelompok-kelompok yang “rebutan” masjid. Hanya kelompok penguasa yang boleh menggunakan masjid untuk agenda kajian mereka. Di luar kelompok itu terlarang untuk ikut berperan serta memakmurkan masjid. Bahkan kejadian seperti ini pernah menimpa para aktivis dakwah di suatu kampus. Masjid hanya diperbolehkan dipakai pengajian suatu kelompok yang katanya mengharamkan ashobiyah, dan kelompok yang lain tak diperkenankan dengan alasan tak sepemikiran, tak seharokah, tak sejalan dan lain lain dalih pembenaran. “Perang dingin” antar kelompok pun muncul. Hal remeh temeh siapa boleh ngisi pengajian masih jadi permasahan, di saat umat muslim dalam kondisi seperti buih di lautan.

Seolah mereka lupa, betapa persaudaraan Islam adalah perintah Allah dan RasulNya. “Sesungguhnya perumpaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya laksana bangunan kokoh, yang saling menguatkan satu dengan lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ada juga fenomena, masjid yang terlarang sebagai tempat “bernaung” barang sesaat bagi musafir. Seseorang yang sedang melakukan perjalanan, jauh dari kampung halaman yang Allah pun amat mengistimewakan keberadaannya, dengan menyematkan musafir menjadi seseorang yang berhak mendapat zakat atau bantuan lainnya. Apalagi bagi musafir yang memilih mushola/masjid/sebagai “tempat berteduh” pastilah bukan dari golongan ekonomi mapan yang mudah menyewa hotel/penginapan.

Atau bisa jadi kehabisan bekal, sehingga memilih “rumah Allah” untuk sekedar melepas penat. Berbagai alasan pun dijadikan dalih pembenar atas larangan ini. Mulai dari masjid tempat sholat bukan tempat untuk tidur, masjid menjadi kotor, sang musafir tak dikenal atau dikenal tapi dari kelompok yang berbeda, dan sebagainya. Persaudaraan Islam terkoyak oleh prasangka buruk, bahkan oleh sekat-sekat kelompokisme dan nasionalisme.

Perintah Allah agar umat Islam saling tolong menolong dalam kebaikan terlupakan. Sebuah kisah teladan yang Rasul ajarkan tentang “bahkan seekor anjing pun bisa menjadi jalan syurga bagi seorang pelacur” dilupakan. Menolong anjing yang kehausan di jalanan saja adalah salah satu jalan syurga, apalah lagi menolong musafir, sesama hamba yang mungkin butuh tempat untuk sekedar meluruskan badan. Lupakah dengan nasihat indah ini? “ Jauhilah prasangka, karena prasangka itu ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, juga janganlah saling mendengki, membenci, atau memusuhi. Jadilah kalian hamba-hamba Allaah yang bersaudara.” (HR. Bukhari : 5604).

Belum lagi fenomena lain yang amat memiriskan hati atas kebiadaban yang menimpa muslim Rohingnya. Nasionalisme menjadi penghalang dan bisunya pemerintah Indonesia dan banyak negeri muslim lainnya, atas kedhaliman dan kesewenang-wenangan yang dialami muslim Rohingnya. Muslim di negri Myanmar yang nyawanya tak ada harganya sama sekali dan begitu mudah dibantai oleh para bhiksu. Yang kehausannya akan darah muslim Rohingnya hingga saat ini semakin menjadi dan memaksa sebagian muslim Rohingnya berlari mengungsi.

Atas nama nasionaisme, negri negri muslim diam membisu, pelaku kejahatan kemanusiaan di Rohingnya tak tersentuh hukum manapun. Paling banter bantuan diberikan hanya jika ada pengungsi yang masuk ke wilayah negara. Tapi untuk mengirim pasukan dan menghentikan kedhaliman terhadap saudara sesama muslim di Rohingnya tak mau.

Seruan Rasulullah seakan tak ada artinya, ” Barangsiapa yang melonggarkan (menghilangkan) satu kesukaran seorang mukmin dari kesukaran-kesukaran dunianya, maka Allaah akan menghilangkan satu kesukaran dari kesukaran-kesukaran dia pada hari kiamat. Barangsiapa yang memberikan kemudahan pada orang yang kesulitan, maka Allaah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat, dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allaah akan menutupi aibnya di dunia maupun di akhirat. Dan Allaah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu selalu menolong saudaranya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Lebih mengherankan lagi, pada saat muslim Rohingnya meradang dengan penderitaannya, ada kelompok Islam yang punya agenda besar menggelar agenda dan atraksi mengenang kejayaan Islam masa lalu di banyak kota yang menelan biaya tidak sedikit. Kelompok Islam yang lebih memilih menggunakan dana yang dimilikinya untuk menggugah semangat keIslaman daripada membantu muslim Rohingnya yang sedang menghadapi kesusahan luar biasa. Sebuah acara yang tak jelas korelasinya dengan kebangkitan Islam. Tak ada jaminan selesai menggelar acara peserta-pesertanya lebih berani melawan kemungkaran, mengatakan yang benar di hadapan syara adalah benar, salah adalah salah.

Ukhuwah Islamiyah mulai ternoda dan terkoyak kini oleh berbagai kepentingan dan batas-batas nasionalisme, kelompokisme, partaiisme, sukuisme dan sebagainya. Tak lagi memandang sesama muslim bersaudara, bagai satu bangunan yang saling menguatkan.

Hanya karena berbeda harokah, kelompok, partai, ayat-ayat Quran dan hadits dinodai, diambil sebagian yang menguntungkan, dan yang tak sesuai dengan hawa nafsu pun dicampakkan. Bila masih ada pengurus masjid, pejabat mushola atau aktivis dakwah yang melarang masjid/mushola sebagai tempat bernaung sementara seorang musafir, bahkan kemudian mengusirnya, maka perlu dipertanyakan kehanifan iman dan hatinya. Telah sampai dan jelas ayat -ayat tentang persaudaraan atau ukhuwah Islamiyah Allah turunkan. Tak ada sekat kelompok, partai, suku, golongan atau apapun itu. Mungkinkah persatuan umat Islam terwujud oleh aktivis dakwah seperti ini? Yang masih rebutan kekuasaan masjid? Yang masih memandang mereka yang berhak ditolong adalah yang sekelompok. Yang berbeda tak perlu diakui dan kalau perlu didhalimi. Tak peru lagi dihargai hati dan perasaannya sebagai sesama muslim?

Mungkinkah penerapan syariat Islam secara kaffah dapat tercipta melalui tangan aktivis dakwah seperti ini? Yang praktek tentang ukhuwah Islamiyah saja masih gagap? Masih tebang pilih? Mungkinkah sebuah negara yang akan mempersatukan seluruh ummat Islam sedunia, dapat terbentuk oleh aktivis dakwah, yang “diam-diam” berperilaku laksana rayap yang menggerogoti bingkai persaudaraan Islam? Mungkinkah musuh-musuh Islam terkalahkan oleh aktivis dakwah, yang masih tak mampu menunaikan hak saudara sesama muslimnya untuk diperlakukan sebagai saudara dalam tali ukhuwah Islamiyah? Bahan renungan untuk kita semua.

Masihkah mau ukhuwah Islamiyah terkoyak oleh hawa nafsu, oleh kepentingan kelompokisme, partaiisme dan semacamnya yang telah dengan amat nyata Allah dan RasulNya larang sejak berabad-abad silam? Wallahu ‘alam.

Oleh Abdullah Ibnu Sabil
abdullahibsab@gmail.com
yy/islampos