13 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 20 Oktober 2021

basmalah.png

Kitab Online Hasil Scan = Bajakan?

http://3.bp.blogspot.com/_DNiqs_hLxPA/TEY4nHaePHI/AAAAAAAAADw/UcEiI3ITqhg/s1600/pdf-file-logo-icon.jpg

Kalau kita membaca ketentuan pasal-pasal yang melarang melakukan pembajakan buku, sebenarnya yang tertulis dalam ketentuan itu terlalu jauh. Mungkin awalnya sekedar melindungi hak-hak intelektual penulis, tetapi begitu diundangkan, para pembaca pun juga ikut ditutup hak-haknya.

Coba bayangkan, masak sih sekedar memphoto copy selembar halaman buku, tanpa melihat tujuannya, sudah dianggap pelanggaran.

Jadi nampaknya memang ada yang agak keterlaluan dalam ketentuan dan aturan ini. Semua hal sudah ditutup, ini melanggar, itu melanggar, apa pun juga dianggap melanggar, mungkin cuma tinggal satu hal saja yang tidak melanggar, yaitu membeli buku itu.

Jangan-jangan nanti akan keluar juga pasal bahwa meminjamkan buku kepada orang lain dianggap pelanggaran. Sebab kalau ada orang pinjam buku, berarti dia tidak beli buku. Dan penerbit merasa keuntungannya jadi berkurang, karena orang tidak beli cuma pinjam.

Hak-hak Konsumen dan Tujuannya

Di satu sisi ada ketentuan tidak boleh membajak buku, tetapi di sisi lain ada aktifitas yang sering dianggap sama dengan pembajakan buku.

Kalau sebuah buku yang terbit resmi tiba-tiba digandakan oleh pihak lain lalu dijual, saya yakin semua orang sepakat bahwa itulah hakikat pembajakan. Begitu juga, kalau ada naskah milik seorang penulis, tiba-tiba diterbitkan oleh pihak tertentu tanpa izin dan kesepakatan, kita juga tahu itulah pembajakan atas hak-hak intelektual.

Tetapi bagaimana dengan memphoto copy sebuah buku, bukan untuk kepentingan dijual lagi, tetapi selain untuk dibaca juga karena buku itu tidak tersedia di pasaran? Apakah masih juga dianggap sebagai pembajakan? Apakah termasuk pencurian hak-hak karya intelektual?

Buku Agama Terjemahan

Jujur saja, nyaris semua buku agama Islam di negeri kita ini adalah buku bajakan. Ah masa sih?

Kita di Indonesia ini memang kebanjiran buku-buku Islam, dan itu merupakan berkah tersendiri. Sebagian besarnya adalah buku terjemahan dari bahasa Arab. Sayangnya kalau kita telusuri secara mendalam, ternyata tahukah kita bahwa hampir semua buku itu diterjemahkan begitu saja oleh para penerjemah dan penerbit buku disini, alias bajakan.

Semua buku itu diterbitkan terjemahannya tanpa ada kesepakatan apa pun dari penerbit aslinya di Arab sana. Lho kok bisa?

Ya, itulah realitanya. Bahwa ada beberapa buku berbahasa Arab terbitan dari negeri Arab yang diterjemahkan secara resmi atas izin penerbit aslinya, tidak kita pungkiri. Tetapi itu hanya bisa dihitung dengan jari. Selebihnya, tidak lain adalah buku-buku yang kalau kita mau jujur, ya buku bajakan.

Lalu bagaimana dengan pengarangnya aslinya? Apakah mereka merasa dirugikan ketika tahu bahwa buku-bukunya dibajak di Indonesia?

Saya tidak punya data resmi tentang hal itu. Tetapi umumnya yang saya tahu, beberapa penulis buku yang datang ke negeri kita malah bahagia ketika tahu bukunya diterjemahkan dan diterbitkan disini. Entah mereka tahu atau tidak kalau penerjemahannya itu tanpa ada pembayaran royalti apa pun kepada penulis.

Photo Copy

Bila suatu ketika kita membutuhkan sebuah buku yang penting, tetapi buku itu tidak tersedia di toko buku, apa yang biasanya kita lakukan?

Gampang, kita photo copy saja buku itu. Dan tukang photo copy di pinggir jalan tentu siap menggandakan buku-buku itu. Dan itulah yang terbiasa kita lakukan serta dianggap lazim.

Padahal kalau kita teliti di dalam pasal-pasal pembajakan, memfoto copy buku sudah termasuk pembajakan. Jangankan satu buku, selembar pun harus ada izin tertulis dari pihak penerbit.

Padahal memphoto copy buku adalah hal yang lazim dilakukan terutama di dunia kampus dan perguruan tinggi. Bahkan termasuk di berbagai kampus Islam.

Kejadian ini biasa dilakukan di LIPIA sewaktu dulu kami kuliah. Banyak kitab yang tidak dijual di negeri kita. Kalaupun kita pesan ke Arab sana, masih kena ongkos kirim yang tidak murah. Padahal kita butuh kitab itu sekarang ini juga untuk dipelajari dan menjadi referensi silabus perkuliahan.

Maka kitab-kitab itu pun dipohoto copy di bilangan Senen dan dijilid mirip dengan aslinya. Kalau mau dikaitkan dengan undang-undang, sebenarnya tindkan itu termasuk pembajakan. Tapi mau bagaimana lagi, kitab-kitab itu memang tidak tersedia di negeri kita. Sementara mahasiswa memerlukan kitab-kitab itu. Dan itu sudah berlangsung sejak berdirinya LIPIA di tahun 1980 hingga hari ini.

Kira-kira, apakah yang dilakukan oleh LIPIA secara resmi itu termasuk pembajakan?

Perpustakaan

Ketika kita masuk perpustakaan untuk mendapat sebuah buku, seringkali perpustakaan tidak mau meminjamkan koleksinya. Mereka memberi alternatif lain yaitu dengan memperbolehkan anggotanya memphoto copy.

Maka sekian banyak buku diphoto-copy justru atas izin dan saran dari pihak perpustakaan. Kebijakan itu diambil untuk menghindari resiko kehilangan buku atau rusak ketika dikembalikan.

Sebab ada sebuah pemeo jenaka, hanya orang bodoh yang meminjamkan buku kepada orang lain, tetapi orang yang mengembalikan buku yang dipinjamnya justru lebih bodoh lagi.

Sarjana

Jutaan orang yang pernah jadi sarjana pasti pernah melakukan hal itu. Tentu saja sarjana betulan, bukan sarjana gadungan. Sebab seorang calon sarjana diwajibkan membuat karya tulis atau skripsi. Dan skripsi membutuhkan rujukan. Tidak semua buku rujukan itu dibeli. Kebanyakan cuma dipinjam dan umumnya diphoto copy.

Maka salah satu kegiatan ritual seorang yang sedang mempersiapkan skripsi, thesis atau disertasi adalah bolak balik ke tukang photo copy. Buku-buku bertumpuk dicopy begitu saja, tanpa ada izin dari penerbit.

Download Buku Pdf

Di situs saya, www.ustsarwat.com memang tersedia buku-buku yang bisa didownload. Umumnya adalah buku yang saya tulis sendiri, kecuali hanya ada dua saja yang milik orang lain.

Sebagai penulis, ada beberapa penerbit yang meminta naskah saya itu untuk diterbitkan dan dijual. Lama saya berpikir, tapi akhirnya saya putuskan untuk disumbangkan saja secara gratis kepada masyarakat umum. Toh saya tidak perlu keluar modal untuk mencetaknya. Orang-orang bisa download sendiri dengan gratis.

Saya tidak berpikir mendapatkan untung secara materi, yang saya dambakan hanya keuntungan dari Allah saja.

Ada pun buku milik orang lain, kenapa diletakkan disana, karena buku itu sudah tidak terbit lagi dan tidak ada di pasaran. Tetapi isi buku itu sangat penting menurut saya untuk dibaca oleh banyak orang.

Tidak ada keuntungan materi apa pun yang didapat, kecuali hanya sekedar berbaik hati mempersilahkan siapa saja yang mau baca untuk mendapatkan ilmu. Bahkan secara fisik, tidak ada yang dipertukarkan. Juga tidak ada yang dirugikan, karena buku itu hanya terbit di negara Arab sana.

Kalau pun itu mau disalahkan, maka ada baiknya kita menutup dulu semua penerbit Islam yang ada di negeri ini, karena terus terang nyaris seluruhnya menterjemahkan buku-buku Islam tanpa izin dari penerbit aslinya di Arab sono. Dan penerbit-penerbit itu mendapatkan keuntungan bermilyar dari hasil `BUKU BAJAKAN` mereka sejak berpuluh tahun yang lalu.

Wallahu a`lam bishshawab, wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc | ustsarwat.com