fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Mustafa Kemal Ataturk si Pembaharu Turki

http://2.bp.blogspot.com/_-PT-ie5sms8/SWebN1mNvII/AAAAAAAAB2g/toY55ywHueo/s320/ataturk.JPG

Lahir di Selanik (sekarang Thessaloniki) 12 Maret 1881, Ghazi Mustafa Kemal Pasha, kemudian nantinya dikenal dengan Mustafa Kemal Ataturk.

Dia merupakan seorang perwira militer dan negarawan Turki ternama.

Dia memimpin revolusi Turki sekaligus presiden pertama Turki saat berubah menjadi negara republik. Mustafa Kemal memimpin gerakan nasional Turki dalam sebuah perang kemerdekaan Turki. Kampanye militernya sukses memerdekakan negara tersebut dan terbentuknya Republik Turki.

Sebagai presiden pertama negara ini, Mustaf Kemal memperkenalkan serangkaian pembaruan yang luas. Beliau berusaha menciptakan negara Turki yang baru yang dikenal sekuler dan demokratis.

Menurut Hukum Nama Keluarga, Majelis Agung Turki memberikan kepada Mustafa Kemal nama "Atatürk" (yang berarti "Bapak Bangsa Turki") pada 24 November 1934.
Ayahnya, Ali Riza Efendi, seorang pegawai bea cukai, meninggal dunia ketika Mustafa baru berusia tujuh tahun. Karena itu, Mustafa kemudian dibesarkan oleh ibunya, Zübeyde Hanim.

Ketika Atatürk berusia 12 tahun, dia masuk ke sekolah militer di Selânik dan Manastir (kini Bitola), kedua-duanya pusat nasionalisme Yunani yang anti-Turki. Mustafa belajar di sekolah menengah militer di Selânik, dan di sana namanya ditambahkan dengan nama Kemal ("kesempurnaan") oleh guru matematikanya sebagai pengakuan atas kecerdasan akademiknya.

Mustafa Kemal masuk ke akademi militer di Manastir pada 1895.

Dia lulus dengan pangkat letnan pada 1905 dan ditempatkan di Damaskus. Di Damaskus ia segera bergabung dengan sebuah kelompok rahasia kecil yang terdiri dari perwira-perwira yang menginginkan pembaruan, yang dinamai Vatan ve Hürriyet (Tanah Air dan Kemerdekaan), dan menjadi penentang aktif rezim Ottoman.

Pada 1907 ia ditempatkan di Selânik dan bergabung dengan Komite Kesatuan dan Kemajuan yang biasa disebut sebagai kelompok Turki Muda.

Pada 1908 kaum Turki Muda merebut kekuasaan dari Sultan Abdul Hamid II, dan Mustafa Kemal menjadi tokoh militer senior. Pada 1911, ia pergi ke provinsi Libya untuk ikut serta dalam melawan invasi Italia.

Pada bagian pertama dari Perang Balkan Mustafa Kemal terdampar di Libya dan tidak dapat ikut serta, tetapi pada Juli 1913 ia kembali ke Istanbul dan diangkat menjadi komandan pertahanan Ottoman di wilayah Çanakkale di pantai Trakya (Thrace).

Pada 1914 dia diangkat menjadi atase militer di Sofia, sebagian sebagai siasat untuk menyingkirkannya dari ibu kota dan dari intrik politiknya. Ketika Kekaisaran Ottoman terjun ke Perang Dunia I di pihak Jerman, Mustafa Kemal ditempatkan di Tekirdag (di Laut Marmara).

Karir Militer Ataturk Terus Melesat

Pada April 1915 jiwa kepemimpinan Mustafa Kemal terus teruji. Ia memainkan peranan penting dalam pertempuran Turki melawan pasukan sekutu Inggris, Prancis dan Australia-New Zealand Army (ANZAC) dalam pertempuran Gallipoli.

Pada pertempuran ini ia berhasil menahan pasukan-pasukan sekutu di Conkbayiri dan di bukit-bukit Anafarta. Karena keberhasilannya ini, Mustafa Kemal yang sebelumnya berpangkat sebagai kolonel akhirnya pun dipromosikan menjadi brigadier jenderal.

Dirinya pun diberi gelar Pasha dan mendapatkan pengaruh yang semakin luas dalam upaya-upaya peperangan. Dengan pengaruh inilah Mustafa Kemal berhasil menggulingkan Kekaisaran Ottoman dan merebut kembali wilayah-wilayah yang mulanya telah diserahkan kepada Yunani setelah perang besar.

Pada 1917 dan 1918 Mustafa dikirim ke front Kaukasus (Kafkaslar) untuk berperang melawan pasukan-pasukan Rusia, yang berhasil dimenangkannya. Ia kemudian ditempatkan di Hejaz untuk menindas Pemberontakan Arab yang didukung oleh Inggris untuk melawan kekuasaan Ottoman.

Pada Oktober 1918 Ottoman menyerah kepada Sekutu, dan Mustafa Kemal menjadi salah seorang pemimpin partai yang memilih untuk mempertahankan wilayah yang lebih kurang sama dengan yang dikuasai oleh Turki sekarang.

Saat pasukan sekutu mulai menduduki Kekaisaran Ottoman, kaum revolusioner Turki mulai memperlihatkan perlawaran. Mustafa Kemal menjadi sosok yang mampu mengatur gerakan-gerakan Angkatan Nasional atau Kuva-i-Milliye, yang kemudian berkembang menjadi Perang Kemerdekaan Turki.

Saat penempatannya di Samsun, Mustafa Kemal diberikan kekuasaan darurat sebagai Inspektur Divisi Militer ke-19. Di sinilah titik awal dirinya mulai menunjukan upaya untuk merubah Turki yang saat itu masih dibawah kekuasaan sultan menjadi republik.

Tiba di Anatolia dari Samsun, Mustafa Kemal menafsirkan kekuasaannya secara bebas dan menghubungi serta mengeluarkan perintah-perintah kepada gubernur-gubernur provinsi dan panglima militer daerah. Ia menyuruh mereka untuk melawan pendudukan.

Juni 1919 Mustafa Kemal beserta rekannya mengeluarkan Deklarasi Amasya yang menggambarkan mengapa wewenang Istanbul tidak sah. Para perwira Turki Muda secara politis mempromosikan gagasan bahwa pemerintahan di pengasingan harus dibentuk di suatu tempat di Anatolia.

Perintah Istanbul untuk menghukum mati Kemal datang terlambat. Sebuah parlemen baru, Dewan Agung Nasional, dibentuk di Ankara pada April 1920. Dewan ini menganugerahkan kepada Mustafa Kemal Pasha gelar Presiden Dewan Nasional, menolak pemerintahan Sultan di Istanbul.

Konsolidasi Politik Mustafa Kemal

Kemenangan Mustafa Kemal Pasha dalam Perang Kemerdekaan Turki menjamin kedaulatan Turki. Ia mengantarkan Perjanjian Lausanne.

Dengan itu Turki akhirnya memasuki masa damai setelah satu dasawarsa mengalami peperangan yang menghancurkan, meskipun dia menghadapi oposisi irredentis di Dewan Nasional dan di tempat-tempat lainnya.

Selama beberapa tahun berikutnya Mustafa Kemal menggunakan waktunya untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya di Turki dan melembagakan berbagai pembaruan politik, ekonomi dan sosial yang meluas.

Tetapi pembaruan-pembaruan ini mengakibatkan oposisi di lingkungan Partai Rakyat Republikan (Cumhuriyet Halk Firkasi) yang didirikan oleh Mustafa Kemal sendiri  pada 9 September 1923.

Selang beberapa lama kemudian Mustafa Kemal memerintahkan Jenderal Kazim Karabekir untuk mendirikan Partai Republikan Progresif (Terakkiperver Cumhuriyet Firkasi dalam bahasa Turki) sebagai oposisi di Dewan Nasional Turki. Partai ini menentang sosialisme negara dari Partai Rakyat Republikan dan mengusulkan liberalisme.

Berdasarkan masukan dari Syekh Said, pada 1925 Pemerintahan Ataturk mengeluarkan Undang-undang untuk Mempertahankan Ketertiban. Undang-undang ini memberi kewenangan bagi Ataturk untuk membubarkan kelompok-kelompok yang dianggap melakukan tindakan subversif.

Melalui undang-undang baru ini Ataturk berdalih jika dirinya menganggap hal ini memang perlu dilakukan untuk mempertahankan negara Turki.  Tetapi tindakannya ini menyebabkan kekecewaan di rakyat Turki yang sebagian besar menganggap dirinya tak ubahnya seorang diktator.

Ataturk pernah mengatakan, “Kebudayan adalah dasar dari Republik Turki.”  Kebudayaan seperti warisan kreatif bangsanya sendiri dipandang oleh Mustafa Kemal Ataturk sebagai nilai-nilai yang mengagumkan dari peradaban dunia.

Ataturk juga menekankan faktor humanisme sebagai penopang pembaruan, khususnya pada pembaruan budaya yang dia terapkan.

Dia pernah menggambarkan tekanan ideologis Turki modern sebagai "suatu kreasi patriotisme dicampur dengan gagasan humanis yang luhur."
Ataturk menekankan pentingnya memanfaatkan unsure-unsur warisan nasional Turki dan bangsa Anatolia serta kesenian dan teknik dari peradaban-peradaban lainnya.

Hal ini dilakukannya untuk membantu pencampuran sintetis antara pembaruan budaya dengan upayanya membangun Turki yang baru dan sekuler. Ataturk juga mengeluarkan beberapa pelarangan untuk tidak menggunakan simbol-simbol warisan Kekaisaran Ottoman.

Contohnya, Ataturk melarang penggunaan fez (topi Turki) di muka umum yang sebelumnya diperkenalkan Sultan Mahmud II pada tahun 1826.
Ataturk menilai penggunaan atribut tersebut lekat dengan lambing feodal. Ia juga memperkenalkan abjad Turki yang baru kepada rakyat Kayseri pada 20 September 1928.
Bapak Negara Turki ini juga mendorong lelaki Turki untuk mengenakan pakaian Eropa. Meskipun Islam melarang keras minuman yang mengandung alcohol, dia justru memacu produksi minuman keras dalam negeri. Ia bahkan mendirikan industry minuman keras milik negara.

Mustafa Kemal memiliki visi sekuler dan nasionalistik dalam programnya membangun Turki kembali. Ia dengan keras menentang ekspresi kebudayaan Islam yang asli terdapat di kalangan rakyat Turki.

Penggunaan huruf Arab dilarang dan negara dipaksa untuk beralih ke abjad yang berbasis Latin yang baru. Pakaian tradisional Islam, yang merupakan pakaian kebudayaan rakyat Turki selama ratusan tahun, dilarang hukum dan aturan berpakaian yang meniru pakaian barat pun diberlakukan.

Terlepas dari segala kontroversi yang mengikutinya, Mustafa Kemal Ataturk tempat mendapatkan tempat penting di hati rakyat Turki. Ia wafat  pada 10 November 1938 dalam usia 57 tahun.
Ataturk wafat karena kelelahan yang luar biasa akibat banyaknya tugas berat yang ia jalani, terlebih lagi dia menderita sakit berkepanjangan karena sirosis hati.

Atatürk tetap dihormati di seluruh Turki dan prinsip-prinsipnya tetap merupakan tulang punggung politik Turki modern.
(Dikutip dari Wikipedia dan berbagai sumber/Fajar Nugraha/okezone.com)