fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Syawal 1442  |  Jumat 14 Mei 2021

Sikap dan Reaksi Saat Marah

http://1.bp.blogspot.com/_IZUwRyw7MWI/SavzxbjeynI/AAAAAAAAAcM/UyB8Flj9ml0/s320/0303tra+demo+anarkis+di+depan+rumah+Geredeg+1blog.jpgBerita berikut foto menyeramkan korban perkelahian massal di sudut Jakarta tentu malah membuat banyak orang makin was-was alias khawatir dengan kondisi keamanan daerah tersebut, apalagi banyak “tangan-tangan tak bertanggung jawab” yang memegang, menyimpan senjata seperti senjata api, samurai, keris, dan terbiasa mengancam orang lain dengan kepemilikan senjata tersebut.

Apakah kemarahan perlu dilampiaskan dengan adu senjata? Tak diragukan lagi, Indonesia “beken” dengan “jago adu ototnya”, seorang kakek tetanggaku yang Rusia dan dari wilayah Poland lainnya, mereka ini sudah renta, sekitar 80-tahun an, tapi masih kuat dan gagah, kisah perang dunia kedua tentu merupakan cerita favorit yang mereka hafal luar kepala.

Suatu hari mereka berjumpa denganku, selain bertanya tentang pakaianku, mereka bilang (dalam bahasa Poland), “Indonesia… ummm, itu negara yang masyarakatnya sering berantem khan?”, Saya kaget bagai terjepit pintu, waw…kenapa orang tua yang tinggalnya ribuan kilo dari situ, bisa “menggambarkan” pertiwiku seperti itu? Lalu meluncur cerita zaman bom atom jepang dan sekutu serta gigihnya perjuangan para pahlawan Indonesia.

Oooh, setelah kuresapi maksud si kakek, ia menggambarkan bahwa secara umum, karakter masyarakat Indonesia adalah karakter pejuang, keras berprinsip, dan tak mau diinjak-injak. Subhanalloh, sebenarnya bagus sekali yah, bangga donk!

Untungnya si kakek tak tau internet sehingga beliau tak tau kalau banyak pula “oknum generasi” sekarang yang salah memaknai karakter pejuang sebagaimana Indonesia dahulu. Generasi sekarang, emosinya cepat naik ke ubun-ubun, tanpa tabayyun, apalagi kalau punya banyak uang, bukan cuma bisa beli halaman koran, tanah, rumah, melainkan bisa pula “membeli orang lain”, astaghfirrulloh… dan di saat ada yang mencoba menasehati atau mencoba menuntut keadilan, kemarahan bisa meledak luar biasa, korban berjatuhan dimana-mana.

Marah, menurut Imam Al-Ghazali, dalam bukunya yang terkenal, Ihya Ulumuddin, pada hakikatnya merupakan gejolak hati yang mendorong agresifitas. Energi marah ini meledak untuk mencegah timbulnya hal-hal negatif juga untuk melegakan jiwa dan sebagai pembalasan akibat hal-hal negatif yang telah menimpa seseorang.

Sering kita dengar orang lain berkata, “pokoknya gue harus ngomelin die…biar lega nih ati!”, atau “kalo gak dilabrak, manalah tenang. Harus gue labrak dan gue gampar tuh orang!”, dan kalimat senada lainnya, yang terkesan amat sangat marah.

Betul bahwa marah itu manusiawi, semua orang pernah marah. Namun kita bisa bertaubat saat ini juga untuk mengubah kebiasaan marah agar lebih bernilai positif.

Jangan sampai setan tertawa gembira melihat kita saat marah makin menjadi, lalu tertumpahlah darah, terputuslah persaudaraan, atau hancurlah berbagai fasilitas, yang paling dirugikan tentunya diri kita sendiri. Siapa yang puas ? (jelas Syaithon jawabannya).

Dulu ada kisah nyata tante Dita (bukan nama sebenarnya), suami beliau yang sangat dikasihinya, “dicurigai” memiliki kisah perselingkuhan dengan seorang mahasiswi. Sudah banyak teman atau relasi tante Dita yang melihat langsung si mahasiswi berduaan dengan suami tsb, di mall, di taman hiburan, di bioskop, atau (ada yang diam-diam menyelidikinya hingga sampai) di hotel. Dita yang memiliki kesabaran dan dapat mengontrol emosi dengan baik, akhirnya mencari lebih banyak informasi lainnya tentang itu dan bersikap biasa-biasa saja di rumah.

Akhirnya Dita memperoleh info akurat bahwa suaminya bukan berzina, si mahasiswi adalah istri yang dinikahi secara sirri oleh sang suami. Dita menangis di atas sajadahnya, ia meminta pertolongan Allah SWT supaya melimpahkan petunjuk dan cara terbaik baginya untuk menyelesaikan problema itu. Setelah banyak menerima masukan dari sahabat baiknya, Dita mengatur strategi, tujuannya menyelamatkan rumah tangga dan menghentikan ketidakjujuran sang suami.

Hari itu, sungguh cantik dan rapi penampilan Dita, ia memasak menu kesukaan suaminya, menyajikannya dengan lebih baik dari hari-hari sebelumnya, saling bersuapan saat makan, suaminya merasakan hal itu sangat romantis, seperti awal rumah tangga mereka dulu. Kemudian, Dita bersuara manja, meminta suami untuk mengajaknya ikut serta keman saja.

Biasanya ia enggan menemani suami mencari benda-benda koleksi hobinya, kali ini ia menemani dengan hati riang. Dan Dita meminta antar-jemput saat ke kantor, biasanya mereka menggunakan mobil masing-masing, serta banyak perubahan lain, yang ternyata pelan-pelan tapi pasti, intensitas pertemuan suaminya dengan sang mahasiswi menjadi makin berkurang.

Hingga di akhir bulan, mereka mengambil cuti panjang, Dita mengajak umroh, walaupun uang tabungannya pas-pasan. Do’a mereka panjatkan di tanah suci, Dita mengharapkan jawaban terbaik dariNYA sebagai solusi. Tidak ada emosi meluap-luap sebagaimana orang lain saat mengalami kisah mirip seperti kisahnya.

Lalu ketika suami-istri itu bermesraan sepulang dari tanah suci, disitulah puncaknya, sang suami berbisik, “ma… tolong maafkan aku, selama ini aku menyimpan sebuah kebohongan, di belakangmu…tapi aku ingin memperbaiki diri”.

Dita hanya tersenyum, “tak perlu kamu ceritakan, sayang… cukup akhiri saja kebohongan itu”. Dita merasa tak ingin makin sakit hati karena segala fakta sudah ia ketahui sendiri. Keesokan harinya sang suami menceraikan si istri sirrinya, yang ternyata sedang dalam keadaan berduaan dengan mahasiswa lain (istilah “pacaran” mungkin), tentu saja kata-kata cerai yang disebutkan oleh suami Dita menjadi sangat dramatis, di depan si mahasiswi yang juga “sedang berkhianat” padanya.

Hal terpenting, tante Dita dan suaminya selalu rukun, aman, damai hingga kini, menyisakan sebuah pelajaran “mengendalikan emosi ternyata bisa meraih kemenangan, di hati dan raga!”

Hal sedih tentang amarah pernah terjadi pada seorang anak, Adi (bukan nama sebenarnya), bermuka sangat lugu, usia masih 9 tahun, telah beberapa tahun mendiami sebuah penjara anak di sudut ibu kota. Temanku mengunjunginya dua kali, miris dan perih hati ini jika mendengar kisah Adi. Beberapa tahun lalu, di sebuah pasar tempat ayah Adi berjualan ikan segar, didatangi preman yang biasanya meminta uang (pungli, pungutan liar).

Namun saat itu, Ayah Adi bilang bahwa ia benar-benar tidak punya uang, hari itu pelanggan sepi. Si preman yang memang terkenal garang, langsung mengayunkan celurit, Ayah Adi meninggal seketika. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun…
Sayangnya, para pihak berwajib tak segera menyelesaikan problema ini, seharusnya si preman itu segera ditangkap, dihukum atas tindakan jahatnya.

Adi yang sore itu ikut menyolatkan jenazah ayahnya, baru berusia 6 tahun lebih, ia mendengar nama seseorang yang telah membunuh sang ayah, para tetangga saling berbisik. Adi diam, tanpa air mata, anak yatim yang ternyata memiliki sikap keras untuk menuntut keadilan.

Esok paginya usai subuh, Adi membawa pisau dapur, ia temui kumpulan preman di pasar tempat biasa sang ayah berjualan, dengan gagah dan tanpa rasa takut ia berteriak, “yang mana si anu yang kemarin bunuh ayahku?”, lalu si preman ketawa, “gue…mau ape loe?”, katanya. Sedetik kemudian si preman sudah bersimbah darah! Adi menusuk pisau tepat di jantungnya, mati. Semoga saat ini Adi sudah keluar dari penjara anak-anak, dia adalah salah satu pelajar pintar di sekolahnya. Kemarahan Adi bukanlah sesuatu yang berlebihan, ia masih 6 tahun-an, meminta keadilan karena kecintaan pada sang ayah, namun posisi pihak berwajib kebanyakan telah “kalah” dengan posisi preman. Bahkan di banyak kasus, oknum pihak berwajib malah menjelma sebagai preman.

Sungguh berat tugas kita, masing-masing pribadi harus bersama mengontrol emosi diri, di lingkungan keluarga, pekerjaan, bermasyarakat dan bernegara. Alangkah indahnya bila para penguasa beserta jajaran penegak hukumnya memiliki kejujuran dan sikap professional yang kian ditingkatkan agar dapat disegani rakyat, dipercayai, dapat diteladani oleh generasi selanjutnya, anak cucu kita.

Saat ini, malah perpanjangan “tangan kotor” dengan mudahnya menebar fitnah melalui media, seolah-olah masyarakat Indonesia adalah orang-orang dengan penuh kemarahan, mudah mengamuk, dsb. Padahal kisah wali songo yang tawaduk dan sangat ramah berasal dari negeri kita kan, kisah Bapak Jenderal Soedirman, Ki hajar Dewantara, Diponegoro dan para pahlawan lainnya menyiratkan bahwa mereka berjuang melawan penjajah!

Mereka berkorban jiwa raga demi menyelamatkan bangsa dari perbudakan, untuk satu kata merdeka, bukanlah marah tanpa sebab yang sederhana, bukanlah marah untuk mempertahankan gengsi, atau hal sepele. Dan bahkan kemarahan oknum-oknum pemegang senjata bukan saja bertebaran dengan info sikap arogan, melempar fitnah pada orang yang tak bersalah, bahkan juga meramaikan media massa, tentu bisa tertular menjadi penyakit akut kemarahan di dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi tentulah ide bagus kalau pemerintah mengumpulkan saja energi-energi kemarahan itu, kirimkan ke tempat yang tepat, misalnya ke Gaza, usir perampok tanah Palestina di negeri itu!

"Sesungguhnyaa marah itu bara api yang dapat membakar lambung anak adam. Ingatlah bahwa sebaik-¬baik orang adalah orang yang melambatkan (menahan) amarah dan mempercepat keridhaan, dan sejelek¬-jelek orang adalah orang yang mempercepat amarah dan dan melambatkan ridha" (HR.Ahmad dari Abu Sa' id Al-Khudriy)

Ya Robb, berikanlah kesabaran pada kami dalam menghadapi setiap peristiwa, sehingga tidak ada kemarahan dalam menghadapi segala ujian.

Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘‘Alaihi wa Sallam tidak pernah marah jika disakiti. Tetapi jika hukum Allah dilanggar, maka beliau akan marah karena Allah.” (HR. Muslim (6195)&Ahmad (25200)).

Hari ini kita introspeksi diri kembali apakah kondisi sikap dan reaksi kemarahan dalam diri telah tepat, sesuai arah dan tujuan "pegangan hidup" ataukah malah menjadi sesuatu perbuatan sia-sia, jawabnya ada pada nurani. Wallahu'alam.

Oleh bidadari_Azzam | Eramuslim.com