fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Adnan Oktar (Harun Yahya) Menanggapi Tuduhan Terhadap Rasulullah Saw

http://4.bp.blogspot.com/_7K3ANtoPDw0/StRsTkdjRLI/AAAAAAAACb0/l4VKolo2P3s/s400/harun+yahya.jpg

Cahyaiman.wordpress.com

PEWAWANCARA: “Assalamu’alaikum, seorang wanita atheis dari Syria dan pembawa acara mengatakan sesuatu yang tidak baik terhadap Islam. Mohon tanggapan Anda?” Dari Halit, seorang mahasiswa dari Universitas Marmara.

ADNAN OKTAR: Wa’alaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh. Iya, benar ada wanita tersebut. Aku melihat dan menontonnya kemarin. Seorang wanita jelek yang telah berumur. Seorang wanita yang membenci dunia, dan memenuhi dirinya dengan amarah dan kebencian. Percayalah padaku, jika wanita tersebut merupakan pribadi yang menyenangkan, jika dia adalah seseorang yang penuh cinta, jika ada perasaan cinta di dalam dirinya, maka dia tidak mungkin dipenuhi dengan amarah seperti itu, dan dia tidak akan berkata hal-hal yang penuh dengan kebencian tersebut. Aku melihat dia telah benar-benar melewati batas. Dan bahkan saat itu orang-orang bertepuktangan dan mendukungnya. Mereka semua pun telah diatur. Itu adalah hal yang memprihatinkan, beberapa rekan evangelis kita, dengan kata lain teman evangelis mason kita, mendukung orang-orang seperti itu dengan materi dan spiritual. Mereka berkata,”Kamu memiliki talenta yang besar. Berdiri dan katakan hal-hal yang menentang Islam dan Rasulullah (saw).” Mereka mengklaim,”Kami juga sebenarnya menentang hal ini, tetapi perkataan kami tidak akan berarti apa-apa. Tetapi kamu adalah seorang Muslim, sehingga bila kamu berteriak dan marah, kamu akan menarik perhatian lebih besar.” Mereka sesekali sengaja memilih orang-orang seperti wanita itu untuk maju ke depan panggung, dengan tujuan untuk mempengaruhi mereka yang memiliki iman yang lemah atau mereka yang belum memutuskan dan ataupun belum memiliki investigasi mendalam terhadap hal yang diungkapkan.

Paling tidak dalam pemikirannya, dia menggunakan senjata yang paling efektif yaitu masalah seksualitas. Dia mencoba untuk melawan agama dan Islam dalam pendapatnya sendiri yaitu masalah seksualitas. Hal itulah yang selalu digunakan sepanjang sejarah. Tuduhan yang berkaitan dengan seksualitas ditujukan kepada Nabi Isa (as), Nabi Yusuf (as) dan Maryam (as). Mereka memberi kesan bahwa Maryam (as) adalah wanita tidak bermoral. Mereka mengatakan, semoga Allah SWT mengampuni, Nabi Isa (as) adalah hasil perbuatan terlarang. Tuduhan yang sama juga dilontarkan kepada Nabi-nabi yang lain. Sebagaimana yang Anda ketahui, mereka menahan Nabi Yusuf (as) selama 7 tahun dengan dakwaan pemerkosaan. Dia menghabiskan 7 tahun hidupnya di penjara, meskipun dia sendiri tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan tersebut, Nabi Yusuf (as) dipenjara hanya karena difitnah seorang wanita yang mengatakan dia mencoba memerkosa dirinya. Inilah mengapa kita sangat mencintai Nabi Yusuf (as), salah satu alasannya adalah karena nilai yang terkandung dari peristiwa itu.

Wanita tua ini kemudian melakukan pendekatan dengan sudut pandang yang benar-benar sama, dia membidik pernikahan Rasulullah (saw). Satu hal, di Arab, khususnya semenanjung Arab, saat itu umur hidup manusia tidak lebih dari 30-40 tahun. Rasulullah (saw) hidup sangat lama, 63 tahun saat itu merupakan umur yang luar biasa lama di Arab. Orang-orang meninggal sangat muda. Sebagai contoh, Rasulullah (saw) kita kehilangan semua anaknya semasa hidupnya. Dia juga kehilangan hampir semua istrinya, mayoritas mereka semua meninggal. Wanita juga tumbuh dewasa dengan sangat cepat disana, disebabkan cuacanya yang sangat terik. Mereka diasumsikan berpenampilan sebagai gadis muda pada umur 9,10 atau 11 tahun. Rasulullah (saw) kita juga melamar istrinya pada umur 9 tahun, dimana sangatlah normal. Kemudian, dia menikah ketika istrinya lebih berumur sedikit. Wanita itu mendeskripsikan hal ini, berdasarkan pandangannya sendiri, seakan-akan hal ini adalah senjata yang sangat penting, dengan penuh semangat dan ketidakjujuran.

Dia menekankan bahwa terjadi tindak kekerasan dalam Islam. Sebaliknya, yang terjadi adalah perang bertahan dalam Islam. Tidak ada perang dalam artian menyerang lebih dulu, dan tidak ada peperangan tiba-tiba untuk menguasai daerah tertentu. Tidak ada kalimat seperti, “Ayo, kita kuasai daerah musuh atau rebut tanah mereka.” Bila seseorang menyerang Anda, kemudian Anda bertahan untuk menyelamatkan nyawa Anda. Dan hal inilah yang terjadi. Semua perang pada masa Rasulullah (saw) merupakan perang untuk bertahan. Pada Perang Parit (Hendek), sebagaimana namanya, mereka membuat parit sebagai antisipasi bilamana mereka diserang. Mengapa orang-orang mengelilingi dirinya dengan parit? Satu-satunya tujuan adalah untuk melindungi dirinya sendiri. Orang-orang pada saat itu, mereka yang menentang Rasulullah (saw), adalah orang-orang jahiliah, psikopat yang haus darah dalam membunuh. Dan saat itu tidak ada polisi, tidak ada hakim, tidak ada jaksa, tidak ada pengadilan, tidak ada apa-apa.

Mereka menggantung dan menyembelih sesuka hati. Apa yang Rasulullah (saw) lakukan? Saat itu terdapat muslim wanita yang masih muda, anak-anak, ibu-ibu serta kakak-kakak mereka. Musuh berkata, “Kami akan membunuh mereka semua. Kami akan memerkosa dan melecehkan mereka semua.” Dan kemudian mereka pun datang dan membunuh. Apa yang Rasulullah (saw) harus lakukan? Tentu saja dia akan melindungi umatnya. Hal itu adalah kewajiban dari agama. Kemudian wanita itu berkata, “Kenapa dia melindungi dirinya sendiri?” Pertanyaan macam apa ini? Bila seseorang menyerang wanita itu, apakah dia tidak akan melindungi dirinya sendiri? Mari kita lihat apa yang akan dia lakukan ketika berhadapan dengan psikopat? Tentu saja dia akan mempertahankan dirinya sendiri. Apa yang lebih masuk akal daripada hal itu? Setiap negara dan individu akan mempertahankan dirinya sendiri terhadap serangan sebagai hak pembelaan diri. Oleh karenanya merupakan tindakan yang sangat tidak masuk akal yang dilakukan oleh wanita ini dalam percobaannya menyerang Islam, Al-Qur’an maupun agama, dia mengambil keuntungan dari sejumlah masyarakat yang terbodohi olehnya.