pustaka.png
basmalah.png


13 Dzulqa'dah 1442  |  Rabu 23 Juni 2021

Pembelaan Al-Qur’anul Karim terhadap Bunda Maria

http://maulanusantara.files.wordpress.com/2009/03/maria2.jpg?w=199&h=291

Bersama kami pada risalah ini, Anda akan mengikuti bagaimana Bibel menuduh zina para Nabi Allah dan bunda Maria. Sebaliknya, Anda akan mendapati bahwa al-Qur’an telah membela seluruh Nabi ‘alaihimas salaam dan juga Maryam as-Shiddiqah (Maria yang suci), semoga salam kesejahteraan tetap tercurah kepada mereka semua. Sungguh Al-Qur’an telah menafikan dari mereka segala kekurangan dan penyimpangan yang dinisbatkan kepada mereka oleh para penulis Injil dalam kitab-kitab mereka. Sekarang kita benar-benar akan melihat apa yang dikatakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla tentang Isa ‘alaihis salaam, dan ibunya Rahimahullah serta nasab mereka dan kemuliaan serta kesucian kakek moyang mereka.

1. Kemuliaan silsilah nasab Yesus di dalam al-Qur’an:

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga lmran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dan yang lain. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha men getahui.” (QS. Ali-‘lmran: 33&34).

Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa nasab Yesus adalah mulia, sebab Yesus berasal dari keturunan Imran. Allah ‘Azza wa Jalla telah memilih kakek-kakeknya (sebagai utusan-Nya), dan mensucikan serta memuliakan mereka atas seluruh umat manusia.

2. Kemuliaan ibunya, Maryam/Maria.

 

 

Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan rnelebihkam kamu atas segala wanita di dunia ini (yang semasa dengan kamu).” (QS. Ali-‘Imran: 42).

 

 

Al-Qur’anul Kariim juga telah mengabarkan kepada kita, serta menegaskan kesucian Maryam dan kesucian kemuliaannya. Itu adalah sebagai bantahan terhadap para penulis injil yang tidak pernah menjelaskan kemuliaannya meskipun hanya sekali, bahkan mereka menulis dalil penghinaannya serta menasabkan tuduhan padanya tanpa ada pembelaan terhadapnya.

3. Kesucian Maryam dan putranya dari pengaruh setan:

“Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS. Ali-‘Imran : 36&37).

Disinilah, al-Qur’anul Kariim telah menjelaskan bahwa ibu Maryam (Istri ‘Imron), menamainya Maryam dan bahwa dia dan putranya akan selamat dan tipu daya syetan, dan bahwa Allah Subhana wa Ta’ala menjaga keduanya dari para setan. Dan ini adalah sebuah bantahan atas para pendusta yang telah berdusta atas nama Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Injil yang telah diubah-ubah itu dan mereka berkata bahwa setan telah menggoda Yesus selama empat puluh tahun.

4. Penjelasan kemuliaan, dan keingkarannya -seperti halnya seorang Wanita mulia mana saja- saat penampakan seorang malaikat kepadanya, dan bahwa dia adalah seorang wanita taat yang ahil ibadah kepada Allah Subhana wa Ta’ala.

Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur’an, yaitu ketika Ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka Ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka Ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada sesembahan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan dari Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (QS. Maryam : 16-19).

Jadi, dia telah meninggalkan manusia untuk beribadah kepada Penciptanya. Saat Jibril ‘alaihis salaam datang dengan menjelma sebagai seorang manusia laki-laki kepadanya, dia pun meminta perlindungan kepada Allah Jalla Dzikruhu dari laki-laki itu sebagaimana layaknya setiap wanita yang shalihah. Jibril ‘alaihis salaam pun menenangkan ketakutannya dan memberinya kabar gembira bahwa dia adalah utusan Allah kepadanya dengan berita gembira seorang anak laki-laki, Lalu apakah saat seseorang berkata kepada seorang wanita mulia lagi suci bahwa Allah ‘Azza wa Jalla akan memberinya rizqi seorang anak padahal dia belum menjkah akan bergembira?! Ataukah dia diam dan tidak mengingkarinya? Oleh karena itulah dia berkata :

 

 

Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” (QS. Maryam : 20).

 

 

Wanita mulia lagi suci itu mengingkarinya dan bertanya-tanya bagaimana aku punya anak padahal tidak ada seorang manusiapun yang perriah menyentuhku?!

‘.. Dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan’ (QS. Maryam : 23).

Sesungguhnya ini adalah sebuah angan-angan dari Maryam, dan itu adalah sebuah angan-angan yang sangat wajar dan logis yang wajib keluar dan setiap gadis mana saja yang suci, bersih lagi mulia. Ini adalah sebuah bantahan terhadap diamnya para penulis Injil yang telah diubah-ubah itu. Mereka menampakkan Maryam seakan-akan dia tertuduh dan tidak kuasa untuk membantah atau membelanya. Lalu mereka menjadikannya seakan-akan dia adalah seorang wanita yang gembira dengan kehamilannya dan tidak khawatir akan pencemaran nama baiknya. Maka apakah bagi para perawan yang belum menikah akan berbahagia dengan perkara besar ini?! Kecuali seandainya dia adalah seorang wanita pelacur seperti yang dituduhkan kepadanya oleh orang-orang Yahudi yang mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla memburukkan mereka semua.

“Maka Jibril menyerunya dan tempat yang rendah: ‘Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” (QS. Maryam : 24).

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla juga telah menjelaskan akan kejelasan kemuliaannya pada setiap kejadian. Allah Subhana wa Ta’ala memberinya kabar gembira, menenangkan ketakutannya, serta menjamin penjagaan kemuliaannya dan mereka, dan melindunginya dari gangguan mereka…. “Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati..

5. Pembebasan dirinya dari campur baur dengan kaum laki-laki.

Dan sungguh Allah ‘Azza wa Jalla telah menjamin perawatannya di saat kehamilan, serta perawatannya saat dia melahirkan Isa ‘alaihis salaam. Allah Jalla Jalaluhu berfirman :

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu…” (QS. Maryam : 25-26).

Allah Subhana wa Ta’ala telah menanggung rizki makannya, hingga setiap kali Nabi Zakaria ‘alaihis salaam -yang telah merawat dan membeninya makanan- masuk menemuinya di mihrab tiba-tiba dia telah mendapati ada makanan di sisinya,

.. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, Ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS. Al-lmran : 37).

Jadi, dia tidak butuh dengan seorang manusia pun, hingga makanannya pun ditanggung oleh Allah ‘Azza wa Jalla saat dia beribadah kepada-Nya.

Dan tatkala perintah Allah Subhana wa Ta’ala datang kepadanya, Jibril ‘alaihis salaam memberinya berita gembira dengan kehamilannya. Dià memerintahkan kepadanya untuk berpuasa karena Allah Ta’ala, dan bernadzar untuk tidak berbicara kepada seorang manusia pun.

… jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk sesembahan yang Maha pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini’ (QS. Maryam : 26).

 

 

Jadi, Maryam adalah seorang wanita yang ahli puasa, ahli shalat, dan tidak pernah bertemu dengan seorang laki-laki pun sepanjang kehamilannya. Dia terus beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak mengenal seorang pun. Dan yang paling nyata adalah dia berkata kepada mereka, bahwa dia puasa dan tidak akan berbicara kepada seorang manusia pun.

 

 

Ini adalah sebuah bantahan nyata terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani yang meng-klaim bahwa Yusuf An-Najjar (Tukang Kayu) bersama dengan Maryam sepanjang kehamilannya. Dan mereka berkata bahwa Yusuf adalah tunangannya, dan bahwa Maryam bepergian bersamanya ke Mesir tanpa pernikahan?!! Bahkan saat orang-orang Yahudi menuduhnya berzina dengan Yusuf maka para penulis lnjil yang telah diubah tersebut tidak membelanya sama sekali, bahkan setelah tuduhan tersebut mereka berkata bahwa Yusuf kemudian menikahinya, seakan-akan mereka menganggap padanya terdapat satu pembebasan, yang dengannya mereka berlepas din dan tidak diberlakukannya hukuman rajam oleh orang-orang Yahudi karena pernikahannya dengan pezina, maka mereka pun menetapkan tuduhan zina tersebut pada Maryam.

6. Pembebasan Maryam terhadap tuduhan zina yang dilontarkan oieh orang-orang Yahudi, yaitu saat pengingkatan Bani Israil terhadap sang anak, dan ucapan isa ‘alaihis salaam di buaian ibunya :

Hai saudaraperempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina” (QS. Maryam : 28).

Al-Qur’an menetapkan persaksian orang-orang Yahudi terhadap Maryam, bahwa dia dan keturunan baik-baik, dan ibunya adalah seorang wanita yang bertakwa, bukan seorang pezina, dan bahwa Maryam berasal dan keturunan Harun, seorang Nabi yang shalih, dan ibunya adalah seorang wanita yang shalihah.

Kemudian, bertanya-tanyalah para pendeta dan para Rahib Yahudi,”Jika bapak dan ibumu adalah orang-orang shalih, maka dan manakah kamu bisa melahirkan anak ini?”

Tatkala pertanyaan-pertanyaan terus bertambah, suasana pun menjadi sempit, semakin keras pula ketawakkalan Maryam terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, dan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memberitakannya untuk tidak berbicara kepada seorang manusia pun:

maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk sesembahan yang Maha pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini’ (QS. Maryam : 26).

Sesungguhnya dia tidak benbicara dengan mereka, bahkan dia memberikan isyarat kepada Isa ‘alaihis salaam maka tercenganglah manusia… Mereka memahami bahwa dia tengah berpuasa dan berbicara, dan dia berharap dan mereka untuk bertanya kepada dia (Isa) bagairnana dia datang? Maka para rahib, pendeta dan petinggi Yahudi bertanya-tanya, “Bagaimana mereka akan mengarahkan pertanyaan kepada seorang bayi yang baru dilahirkan beberapa hari yang lalu? Lalu apakah bayi itu akan berbicara di dalam selimutnya?!” Lalu mereka pun berkata kepada Maryam :

.. mereka berkata: “Bagaimana kami akan benbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?” (QS. Maryam : 29).

Maka berkatalah Isa ‘alaihis salaam di dalam ayunannya :

Berkata Isa: ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam : 30-33).

Belum selesai ucapan Isa hingga wajah para Rahib dan pendeta Yahudi menjadi pucat. Mereka telah menyaksikan satu mukjizat langsung di hadapan mereka. Ini adalah seorang anak yang berbicara dibuaiannya, seorang anak yang lahir tanpa seorang bapak, seorang anak yang berkata bahwa Allah ‘Azza wa Jalla akan memberinya sebuah kitab dan menjadikannya seorang nabi. Sekarang tidak mungkin bagi mereka merajamnya. Akan tetapi para pendeta Yahudi menutupi kisah kelahiran Isa dan perkataannya di buaian, yang kemudian orang-orang Nasrani pun membenarkannya.

Kemudian mereka menuduh Maryam Sang Perawan suci dengan tuduhan besar. Mereka menuduhnya telah berzina. Mereka menuduhnya, karena mereka merasa bahwa telah datang seseorang yang akan menggeser kekuasaan mereka serta mengajak kepada agama Allah Subhana wa Ta’ala setelah mereka mengubah-ubah dan menggantinya. Mereka telah metihat dengan mata kepala mereka sendiri mujizat perkataan putra Maryam di buaian. Dan inilah yang menjadikan mereka tidak kuasa untuk merajamnya, karena mereka mengakui kebebasannya (kebersihannya dan perzinaan).

Maka pada kejadian ini terdapat sebuah bantahan terhadap para penulis injil paisu (1) yang diam seribu bahasa tanpa sebab terhadap kesucian Maryam dari përzinahan. Injil sama sekali tidak mengetuk pembelaan terhadap kebersihan Maryam walau sekali dt hadapan orang-orang Yahudi. Bahkan mereka mengarang nasab Yesus kepada Yusuf An-Najjar, dan mengarang-ngarang penyebutan tuduhan Yahudi dan celaan mereka terhadap perzinahannya. Mereka menutup mati terhadap bebasnya Maryam dan perzinaan, lalu mereka menasabkan Yesus kepada Yusuf.

7. Penegasan Al-Qur’an akan kemuliaan dan keterjagaan kemaluan Maryam dan sentuhan manusia.

Dan (ingatlah) Maryam binti lmran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” (QS. At-Tahrim : 12).

Al-Qur’an jelas-jelas telah menegaskan kemuliaan Isa bin Maryam ‘alaihis salaam dan ibunya, menegaskan terjaganya kemaluannya dari sentuhan manusia. Karena Isa ‘alaihis salaam datang tanpa bapak, maka pada hal ini terdapat sebuah bantahan terhadap para penulis injil palsu, dan juga terhadap orang-orang Yahudi yang mengklaim pernikahannya dengan Yusuf An-Najjar, serta menutup mata terhadap bebasnya Maryam dan perzinahan.

Sesungguhnya Islam akan terus menjadi satu-satunya agama yang bersaksi akan kemuliaan dan kesucian Maryam berikut putranya, dan akan terus menjadi satu-satunya agama yang membela seluruh Nabi. Sesungguhnya aku arahkan ucapanku kepada setiap orang yang obyektif lagi berakal :

Siapakah yang membela seluruh Nabi, dan menganggap mereka adalah makhluk Allah ‘Azza wa Jalla yang terbaik? Bibel ataukah al-Qur’anul Kariim?

Siapakah yang membela Yesus , dan menganggap nasabnya adalah nasab yang suci lagi mulia? Bibel ataukah al-Qur’anul Kariim?

cahyaiman.wordpress.com

Siapakah yang membela Maryam dan terang-terangan dalam menyatakan bebasnya ia dari perzinahan, dan menganggapnya sebagai seorang wanita yang suci lagi mulia? Bibel ataukah al-Qur’anul Kariim? (AR)*

Catatan Kaki :

1. Telah Ditemukan sebuah Injil di Mesir yang menguatkan kisah al-Quran yang menyebutkan bahwa Isa ‘alaihis salaam berbicara di dalam buaian, yaltu Injil as-Sobwah yang ditemukan di Naja’ Hammad, dan sekarang ada di Museum Mesir.