pustaka.png
basmalah.png.orig


14 Dzulqa'dah 1442  |  Kamis 24 Juni 2021

Melawan Animisme di Daerah Terpencil NTT

http://3.bp.blogspot.com/_XwO0YtKnrRs/Stbic1-TnGI/AAAAAAAAAKQ/LhDPlM6oHhY/s400/lumbung-padi_baduy.jpg

Lelaki setengah baya terlihat duduk sambil serius mendengarkan paparan seorang ustadz. Pandanganya fokus ke depan. Khidmat. Setiap arahan yang disampaikan ustadz tersebut, didengarkannya penuh seksama. Seolah, tak ada satu pun kata yang lewat.

Lelaki itu tidak lain, Abdul Qadir Lenama. Qadir demikian akrab disapa, di siang awal Juli lalu sedang mengikuti acara “Temu Dai Terpencil Tingkat Nasional” yang digagas Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PP. Muhammadiyah di masjid Al-Ikhlas kota Gudeg, Yogyakarta.

MTDK  menyelenggarakan pertemuan dengan tema “Temu Da’i Terpencil Tingkat Nasional” di sela-sela kegiatan Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta.  Karena sebagian da’i terpencil ini ada yang merangkap sebagai peserta Muktamar Muhammadiyah dan sebagian lagi sebagai penggembira, maka, acara ini sengaja diadakan mengambil momentum Muktamar Muhammadiyah agar bisa  menghemat biaya.

Di sela-sela padatnya acara, Qadir menyempatkan berbagi cerita perjalanan dakwahnya di daerah terpencil. Inillah ceritanya yang ditulis wartawan hidayatullah.com.
Perjalanan Dakwah

Qadir berperawakan sedang dengan kulit berwarna hitam. Sorot matannya tajam. Tapi, setiap kata yang diutarakannya begitu dalam. Ada selaksa hikmah yang terkandung di dalamnya. Qadir adalah dai asal kec. Amanuban Timur, Kab. Timur Tengah Selatan, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ketertarikan Qadir menjadi dai timbul sejak kecil, 8 tahun. Waktu itu, sekitar 1967, Qadir kerap mendapati penduduk di desanya melakukan kegiatan animisme.

Sebenarnya, kegiatan itu wajar. Pasalnya, mereka memang bukan Islam. Di desanya itu, dari jumlah penduduk sekitar 15 ribu jiwa, yang muslim hanya kira-kira 3-4 ribu orang. Selebihnya, kalau nggak Kristen, pasti animisme.

Di desanya, ada sejumlah gunung yang dikeramatkan dan dijadikan sebagai tempat sesembahan. Di antaranya, gunung Tumbes dan gunung Fatukopa. Gunung Fatukopa bentuknya seperti perahu. Biasanya, para penduduk setempat, jika datang musim panen, hasilnya akan disesajikan ke dua gunung tersebut. Kata Qadir,  hal itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang mereka panen.

Caranya, para penduduk membuat tempat khusus di gunung tersebut. Biasanya dengan menggunakan batu besar yang dianggap keramat. Batu itu lalu dijadikan tempat menaruh sesaji. Melihat hal itu, sebagai orang muslim, meski waktu itu masih terbilang kecil, tapi telah mengusik hati kecil Qadir.

“Masa, gunung dijadikan tuhan,” ujar Qadir tak percaya. Sejak itulah, Qadir bercita-cita mengeluarkan mereka dari kubangan animisme itu dan mengajak mereka menuju jalan yang benar, Islam.

Tahun 1983, usai belajar agama di salah satu pondok pesantren, Qadir memulai debut dakwahnya. Langkah pertama yang Qadir lakukan adalah mendekati kepala adat atau suku. “Maklum, di daerah yang cenderung primitif, kelapa suku berpengaruh besar bagi kaumnya” kata Qadir. Mendekat kelapa suku pun ada caranya. Tidak sembarang mendekati. Sebab, jika salah, alih-alih dapat simpati, justru caci yang didapat.

Dengan pelan dan lemah lembut Qadir pun mendekati mereka. Kedekatan itu pun seolah sudah tidak ada batas lagi. Ibarat seperti saudara kandung. Tak ada sekat. Nah, setelah itu, baru Qadir mulai melancarkan dakwahnya. Qadir bilang bahwa kegiatan menyembah batu dengan memberi sesaji adalah bentuk peribadatan konservatif yang tidak masuk akal.

“Kegiatan itu, hanya melanggengkan kebodohan,” terang Qadir.

Nampaknya, apa yang disampaikan Qadir cukup jitu. Mereka jadi berfikir secara rasional. Lambat laut, mereka mulai mempertanyakan jalan lain menuju keperibatana yang lebih masuk akan dan elegan. Qadir pun kemudian menjelaskan apa itu Islam. Dan, ternyata, mereka banyak yang tertarik. Hingga segelintir dari mereka lambat laun mau masuk Islam. Selama sekitar 3 tahun setelah itu, angka mualaf naik drastis. Ada sekitar 500 orang yang telah masuk Islam.

Namun,  perjuangan Qadir mengajak mereka ke agama Islam harus berlomba dengan kristenisasi. Apalagi, kegiatan itu dibungkus dengan kedok kegiatan sosial. Seperti bagi-bagi sembako, duit dan lain sebagainya. Mereka adalah adalah orang-orang LSM internasional yang sengaja melakukan demikian. Qadir pun tak kalah semangat. Dia lebih kencang lagi dalam berdakwah.

Untuk memuluskan dakwahnya itu, Qadir menggunakan tehnik lain. Qadir memberangkatkan anak-anak penduduk ke Jawa untuk di sekolahkan di pesantren di Jawa yang dikenal banyak.

“Nah, sepulang dari pesantren di Jawa, mereka nanti yang akan mendakwahi orangtua dan keluarga mereka masing-masing,” ujar Qadir.
Qadir pun menjali kerjasama dengan beberapa pesantren di pulau Jawa yang menampung anak-anak NTT tanpa dipungut biaya.

Setiap tahunnya hampir ada sekitar 5 sampai 10 anak yang dimasukkan pondok pesantren. Hasilnya pun jitu. Sepulang dari pesantren mereka mendakwahi keluarga mereka. Dari cara itu, dapat mengerek angka mualaf.

Karen rajin berdakwah, sampai-sampai Qadir pun mendapat jodoh putri dari salah satu kepala suku. Awalnya, Qadir tertarik pada Rince Mano, putri dari kepala suku Mano yang bernama Yakobus. Karena waktu itu masih Kristen, maka oleh Qadir sang putri kepala suku itu diajak masuk Islam.

Walhasil, Rince pun mau bahkan diikuti juga ayahnya. Nama Rince kemudian diganti jado Rahmawati sedang ayahnya Yahya. Setelah setahun masuk Islam, Qadir pun baru menikahi Rahmawati.

Menanggalkan Bendera

Menariknya, dalam berdakwah, Qadir tidak membawa embel-embel payung organisasi. Meski menurut Qadir yang juga termasuk anggota dari salah satu ormas terbesar di Indonesia, tapi dalam berdakwah dia hanya mengaku Islam saja.

Apa pasal? Ternyata, menurutnya, jika membawa embel-embel organisasi kurang efektif. Mudah diadu domba oleh misionaris.

“Nanti dibilang Islam banyak aliran,” ujarnya. Jadi, Qadir pun hanya mengajarkan Islam tanpa harus membawa organisasinya. Di derahnya, Qadir sebenarnya tidak sendirian dalam berdakwah. Ada banyak dai dari sejumlah organisasi Islam lainnya. Tapi, seperti Qadir, para dai tersebut sepakat untuk tidak mengatasnamakan bendera organisasi mereka. Mereka hanya mengaku Islam saja. Sebab, menurutnya, pengkotak-kotakan organisasi bisa jadi makanan empuk para misionaris untuk memecah belah umat Islam. Mengakhiri permbincangan dengan hidayatullah.com, Qadir memohon doa kepada umat Islam agar setiap langkahnya dimudahkan Allah, Amien. [anshor/hidayatullah.com]