15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Persiapan Menjadi Pemimpin Besar yang Beriman

http://hphotos-snc3.fbcdn.net/hs058.snc3/14565_1217495091275_1645803003_893281_6039128_n.jpg

VOA-Islam.com - Ganna Prayadha - Mengapa Anda tidak menjadi seorang pemimpin? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, seseorang justru akan balik bertanya, “Siapa yang menghendaki diriku menjadi pemimpin?”, “Apakah aku harus menjadi seorang pemimpin?”, atau “Jika aku memiliki kualitas untuk menjadi pemimpin, lalu mengapa aku tidak menjadi pemimpin?Semua pertanyaan di atas meniscayakan segenap pencarian jiwa dalam rangka menemukan karakter dan kualitas diri. Dan kita pun mengetahui bahwa di dasar hati kita memiliki bakat serta kemampuan yang tersembunyi dan tidak kita ketahui. Hanya melalui kerja keras, penentuan tujuan, penetapan misi, kesabaran, dan emosi, maka kita memiliki kekuatan untuk mengurainya. Salah satu cara untuk menemukan berbagai bakat dan kemampuan –yang tersembunyi— adalah dengan jalan meneliti karakter dan pembawaan orang-orang sukses yang telah menjadi pemimpin di dalam komunitas mereka.

Sebuah riset yang mempelajari tentang kehidupan para pemimpin sukses mengungkapkan bahwa terdapat karakter bersama (common traits) yang bisa diambil dari diri mereka, yaitu kapasitas mereka untuk mendukung kerja. Dalam artian, ketika tujuan dan sasaran telah ditetapkan, orang-orang seperti mereka bekerja lebih keras dibanding rata-rata orang biasa. Seringkali dikatakan bahwa pengelolaan waktu menjadi perbedaan utama antara ‘orang besar’ dengan ‘orang kecil’. Orang kecil akan berhenti manakala dia kelelahan dan merasakan kantuk. Sementara orang besar akan terus memacu kerjanya lebih kencang. Dia akan bekerja keras dengan harapan orang-orang akan ikut bekerja demi mencapai tujuan bersama yang akan memberi keuntungan orang banyak.

Ada sejumlah kualitas dan karakter yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin yang efektif. Yang terpenting dan menjadi dasar adalah kerja keras dan kesadaran akan pentingnya waktu.

…Yang terpenting dan menjadi dasar untuk menjadi pemimpin yang efektif adalah kerja keras dan kesadaran akan pentingnya waktu…

Betapa pentingnya kedua hal tersebut, manusia hingga saat ini belum menemukan pengganti dari keduanya. Dewasa ini, waktu menjadi komoditas paling bernilai yang pernah diketahui umat manusia. Agar seseorang bisa menjadi pemimpin, maka dia harus bekerja dengan durasi waktu yang lebih lama dari orang biasa.

Dalam konteks ini, harus dicatat bahwa tidak ada manusia yang meninggal dunia hanya karena kekurangan tidur. Dan kemungkinan besar, orang-orang justru akan mengkonsumsi banyak makanan selama jam-jam panjang tersebut karena merasa kekurangan energi untuk bekerja.

Islam telah mengenalkan dua elemen dasar kesuksesan tersebut (kerja keras dan kesadaran akan waktu) dalam shalat. Mari sejenak kita merenungkan panggilan shalat dalam Islam, yaitu azan yang dikumandangkan sehari sebanyak lima kali. Dampak psikologisnya sangat dahsyat terasa pada waktu subuh, ketika seluruh manusia terlelap tidur, dan dalam azan termuat sebuah proklamasi yang menyatakan bahwa shalat lebih baik daripada tidur. Melalui azan shubuh kita diingatkan betapa pentingnya waktu yang kita miliki.

Waktu menjadi elemen terpenting dan paling signifikan dalam kehidupan seorang muslim –baik laki-laki maupun perempuan. Shalat lima kali sehari mengatur kehidupan seorang muslim, sehingga membuatnya lebih menghargai dan menyadari waktu.

…Shalat lima kali sehari mengatur kehidupan seorang muslim, sehingga membuatnya lebih menghargai dan menyadari waktu…

Aspek penting lainnya dari shalat adalah seorang muslim senantiasa disibukkan sepanjang hari dengan aktivitas ibadah. Ada kalangan yang mengatakan, bahwa jika Anda ingin pekerjaan Anda diselesaikan secara baik dan sukses, maka limpahkanlah pekerjaan itu kepada seorang yang sibuk. Karena seorang muslim yang aktif dan menghargai waktu akan menyadari kegunaan waktu dan siap untuk menerima serta melakoni waktu yang diserahkan kepadanya.

Kemalasan, kekurangan pekerjaan, dan ketiadaan aktivitas adalah beberapa hal yang menjadi musuh-musuh terburuk manusia. Dalam kata lain, shalat menjadi persiapan bagi seorang muslim untuk menjadi siap aktif secara fisik, mental, dan spiritual.

Sekarang, dua keuntungan akan timbul dari shalat dan tidur yang teratur; satu adalah seseorang bisa bekerja lama apabila dia membatasi jam tidurnya menjadi sangat minim; kedua adalah seseorang yang dapat mengatur waktu tidurnya, maka dia dapat menggunakan waktunya secara efektif dan efisien. Seorang muslim memiliki tugas untuk meredakan penderitaan dan dukacita masyarakat dengan bekerja keras untuk merealisasikan solusi Islam dalam menghadapi sejumlah penyakit manusia. Hal tersebut haruslah dilatih melalui shalat.

Jika seseorang sanggup untuk bekerja keras, memiliki misi kuat, mempunyai tujuan di dalam benak, dan siap untuk bekerja dalam jam yang panjang demi mewujudkan tujuan tersebut, maka dia layak menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah orang yang mampu mengidentifikasi kebutuhan untuk kemudian memenuhinya. Dialah pemimpin ketika melakukan tugas, memprakarsai aksi, dan mengamatinya ketika telah sampai pada tahap akhir suatu pekerjaan. The leader is the one who know the way, goes the way, and show the way.

Dia selalu menjadi visi dan misinya dalam sebuah perspektif, lalu melanjutkan kerjanya sampai hasilnya terwujud. Harus disadari bahwa kepemimpinan adalah serangkaian tindakan, bukan sekedar posisi. Penekanannya ada dalam tindakan. Anda mesti menelisik kebutuhan atau keperluan yang ada dalam masyarakat, betapapun remehnya keperluan tersebut, lalu membuat rencana untuk memenuhinya dengan mengambil tindakan tepat dan menjadi salah seorang yang bisa membuat hal tersebut menjadi terwujud.

Ingatlah bahwa ada tiga macam manusia di dunia ini. Yaitu mereka yang mampu membuat segala sesuatu menjadi terwujud, lalu mereka yang hanya mengamati segala sesuatu itu terjadi, dan mereka yang hanya bisa membayangkan apa yang terjadi.

Kita mengetahui bahwa Islam is a way of life yang melibatkan huquq (hak-hak) Allah, huquq an-nafs (hak-hak jiwa), dan huquq al-‘ibad (hak-hak hamba). Hak-hak Allah menjadi tugas seseorang terhadap Allah; meyakini adanya satu tuhan, tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, melakukan amal baik di dunia ini, melakukan persiapan untuk kehidupan akhirat, dan mencoba untuk hidup bersih serta kehidupan yang baik.

Area selanjutnya adalah hak-hak diri (huquq an-nafs). Yaitu tugas seseorang terhadap dirinya; hanya mengonsumsi makanan-makanan halal yang thayyib, tidak menyakiti diri sendiri. Lalu area berikutnya adalah hak-hak hamba (huquq al-‘ibad). Yaitu tugas seseorang terhadap kemanusiaan; menjadi baik kepada orang lain, tidak menyakiti orang lain, membantu orang lain dalam meningkatkan kehidupan mereka, membantu yang kesulitan dan fakir-miskin, dan yang lainnya.

Kita meyakini bahwa prestasi kita dalam area huquq al-‘ibad berpengaruh dalam mereduksi berbagai penyakit sosial di dalam komunitas masyarakat. Tanggung jawab demikian diperankan dengan baik dalam sebuah kepemimpinan. Seorang pemimpin yang baik adalah dia yang mampu mengordinasikan ketiga huquq tersebut secara berkelindan. Sehingga dia akan menjelma menjadi seseorang yang merefleksikan umat terbaik. Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali ‘Imran: 110).

…Pemimpin suatu kelompok adalah pelayan kelompok tersebut. Oleh karena itu, pemimpin hendaklah melayani dan menolong orang lain untuk maju…

Allah tidak akan membantu kondisi manusia sampai mereka mau berusaha untuk membantu diri mereka sendiri. Hanya sekadar menunggu sang penyelamat datang untuk membantu kita adalah sikap yang keliru. Setiap kita memiliki tanggung jawab untuk merefleksikan Al-Qur`an di setiap ranah kehidupan. Sebagai kaum muda, kita memiliki andil untuk menjadi yang terdepan dalam kebaikan.

PEMIMPIN YANG MELAYANI UMAT UNTUK KEMAJUAN

Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa pemimpin suatu kelompok adalah pelayan kelompok tersebut. Oleh karena itu, pemimpin hendaklah melayani dan menolong orang lain untuk maju. Namun yang harus diperhatikan, terdapat sejumlah karakter penting yang menggambarkan kepemimpinan Islam adalah sebagai berikut:

a. Loyalitas kepada Allah, Rasul-Nya, dan Orang Beriman

Pemimpin dan orang yang dipimpin terikat kesetiaan kepada Allah. Al-Qur`an menyatakan, “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Ma`idah: 55-56).

b. Tujuan

Pemimpin melihat tujuan organisasi bukan saja berdasarkan kepentingan kelompok tetapi juga dalam ruang lingkup tujuan Islam yang lebih luas.

c. Berpegang pada Syariat dan Akhlak Islam

Pemimpin terikat dengan peraturan Islam, boleh menjadi pemimpin selama ia berpegang pada perintah syariat. Waktu mengendalikan urusannya ia harus patuh kepada adab-adab Islam, khususnya ketika berurusan dengan golongan oposisi atau orang-orang yang tak sepaham.

...Pemimpin menerima kekuasaan sebagai amanah dari Allah yang disertai oleh tanggung jawab yang besar...

d. Pengemban Amanah

Pemimpin menerima kekuasaan sebagai amanah dari Allah yang disertai oleh tanggung jawab yang besar. Al-Qur’an memerintahkan pemimpin melaksanakan tugasnya untuk Allah dan menunjukkan sikap baik kepada pengikutnya.

Allah berfirman, “Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah perbuatan yang mungkar… “(Al-Hajj: 41).

Jadi, siapkan diri Anda untuk memikul posisi seorang pemimpin yang menyeru kepada hal-hal baik yang diserukan Islam, di dunia ini. Jadilah pemimpin orang-orang beriman yang memerintahkan hal-hal ma’ruf dan mencegah hal-hal yang munkar. Jadikan panji-panji Islam menjadi tegak di muka bumi. [ganna pryadha/voa-islam.com]