18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Abdurrahman bin Amr bin Muhammad, Konsistensi Seorang Ulama

http://i178.photobucket.com/albums/w244/mfauzi71/ulama.jpg

Eramuslim.com - Namanya Abdurrahman bin Amr bin Muhammad Asy-Syami Al-Auza’i. Ulama yang lahir pada tahun 88 Hijriyah ini biasa disebut dengan Al-Auza’i. Dialah anak yatim yang tumbuh di sekitar wilayah Damaskus yang kemudian menjadi panutan masyarakat sezamannya. Beliau terkenal dengan ulama yang begitu wara’ dalam hal apa pun yang akan menjadi konsumsi keluarganya.

Suatu kali, ada seorang nasrani yang memberinya hadiah sekantong madu. Rupanya, si nasrani memberi hadiah ke Al-Auza’i bukan dengan sesuatu yang gratis. Ia ingin agar ulama yang sangat disegani penguasa waktu itu memberinya sebuah memo untuk disampaikan kepada sang penguasa. Dari memo itulah, ia berharap mendapat sesuatu dari sang penguasa.

Al-Auza’i mengatakan, “Maukah kamu aku tuliskan sebuah memo untuk kamu bawa kepada penguasa Ba’labak, sementara sekantong madu ini kukembalikan kepadamu?”

Tentu saja, tawaran ini diterima si nasrani. Ia pun gembira dengan apa yang dilakukan Al-Auza’i. Dari memo yang ditulis Al-Auza’i, si nasrani mendapat hadiah dari sang penguasa sebesar 30 dinar, atau setara dengan 40 juta rupiah.

Sebuah hadiah pernah juga disampaikan seorang yang datang dari Mekah dengan maksud untuk mendapatkan ilmu hadits dari Al-Auza’i. Ia bernama Abu Marhum.

Mendapati ini, Al-Auza’i langsung mengatakan, “Wahai Abu Marhum, jika kamu ingin aku menerima hadiah darimu, maka tak satu huruf pun aku berikan kepadamu. Ambillah kembali hadiah ini, maka aku akan menyampaikan beberapa hadits kepadamu.”

Pernah suatu kali, seorang utusan penguasa Abdullah bin Ali datang meneror Al-Auza’i. Ia membentak-bentak sang ulama sambil menyampaikan beberapa pertanyaan untuk melihat sikap asli dari Al-Auza’i.

”Wahai Abdurrahman, apa pendapatmu tentang pembunuhan yang terjadi pada Ahlul Bait?” bentak sang utusan sambil memukulkan tongkatnya ke tanah.

Dengan tenang Al-Auza’i menjawab, ”Muhammad bin Marwan telah bercerita kepadaku dari Mathraf bin Asy-Syukhair dari Aisyah dari Rasulullah saw., beliau bersabda, Tidak halal membunuh seorang muslim kecuali tiga perkara.” (ucap beliau hingga hadits tersebut tuntas dibacakan)

Sang utusan bertanya lagi, ”Ceritakan kepadaku tentang khalifah, yaitu wasiat Rasulullah saw. kepada kami?”

Al-Auza’i menjawab, ”Kalau khalifah adalah wasiat Rasulullah, maka Ali r.a. tidak akan membiarkan orang lain melanggarnya.”

Terakhir, utusan itu mengatakan lagi, ”Apa pendapatmu tentang harta Bani Umayah?”

Dengan tanpa rasa sungkan, Al-Auza’i mengatakan, ”Apabila harta itu halal bagi mereka, maka haram bagimu. Jika harta itu haram buat mereka, maka akan lebih haram lagi jika kamu mengambilnya.”

Seorang ulama yang bernama Adz-Dzahabi mengomentari peristiwa teror itu dengan mengatakan, ”Abdullah bin Ali adalah seorang raja yang zalim, sewenang-wenang dan suka menumpahkan darah. Kekuasaannya sangat kuat. Meskipun begitu, Al-Auza’i tidak merasa gentar untuk mengatakan sebuah kebenaran.”

Ada begitu banyak nasihat yang disampaikan Al-Auza’i kepada murid-murid dan orang sezamannya. Di antaranya, ”Hendaknya kalian tetap mengikuti ulama-ulama salaf, meskipun orang-orang meninggalkanmu. Hendaknya, kalian tetap mengikuti pendapat-pendapat mereka, meskipun orang-orang mengejekmu. Sesungguhnya, kebenaran akan menjadi nyata, dan kamu berada di jalan yang lurus.”

Ulama yang wafat pada tahun 157 Hijriyah ini juga pernah berpesan, ”Ulama-ulama salaf tidak membedakan antara iman dan perbuatan, karena iman bagian dari perbuatan dan perbuatan bagian dari iman. Barangsiapa beriman dengan lisannya, diakui dengan hati dan diaktualisasikan dengan perbuatannya, maka keimanannya telah benar. Dan siapa yang beriman dengan lisannya, namun hatinya tidak mengakui dan perbuatannya pun tidak sejalan dengan keimanan yang ia ucapkan, maka keimanan seperti itu tidak diterima di sisi Allah, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.”

(muhammadnuh@eramuslim.com, disarikan dari kitab Min A’lam As-Salaf, oleh Syaikh Ahmad Farid)