22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

Membidik Alumni Afghan

http://newsimg.bbc.co.uk/media/images/42606000/gif/_42606539_afghan_flashpoints4_416.gif
foto bbc.co.uk

warnaislam.com - ASM. Romli - Alumni Afghan dianggap Barat sebagai kekuatan tersendiri yang berperan penting dalam masyarakat Islam. Dengan pengalaman dan keahlian perang yang dimiliki, juga semangat jihad yang sudah teruji, alumni Afghan dipandang sebagai ancaman tersendiri bagi Barat.

ISU benturan peradaban (clash of civilisation) sudah lama mengemuka, pasca berakhirnya Perang Dingin (Cold War) antara Liberalisme pimpinan Amerika Serikat (AS) dan komunisme Uni Soviet. Setelah komunisme Soviet runtuh, target berikutnya adalah Islam.

Ringkasnya, kini adalah era perang baru antara peradaban sekuler Yahudi-Kristen (Judeo-Christian) melawan Islam, atau antara peradaban Islam dengan dunia Barat yang dimpimpin AS (Islamic civilization and the West).

Dalam konteks ini, Alumni Afghan dianggap Barat sebagai kekuatan tersendiri yang berperan penting dalam masyarakat Islam. Dengan pengalaman dan keahlian perang yang dimiliki, juga semangat jihad yang sudah teruji, alumni Afghan dipandang sebagai ancaman tersendiri bagi Barat. Maka, jika tidak bisa “dimanfaatkan”, mereka harus dibasmi dengan berbagai cara. Cara terampuh adalah mendorong mereka melakukan aksi teror, lalu mencitrakan mereka sebagai kaum teroris, untuk kemudian ditangkapi dan dihukum.

Maka, kini muncullah Usamah bin Ladin dengan Al-Qaidah sebagai simbol teroris dunia, atau JI dan alumni Afghan asal Indonesia sebagai simbol teroris Asia Tenggara/Indonesia.

Uniknya, yang kini diburu oleh AS adalah orang-orang yang dilatih Amerika sendiri saat perang Afghanistan. Bisa dikatakan, selama perang Afghan, AS membentuk dan melatih “A Virtual Islamic Foreign Legion” (Legiun Asing Islam Virtual) yang kini disebut alumni Afghan dan berbalik melawan AS.

Harian AS, Los Angeles Times (4 Agustus 1996) pernah memuat keluhan seorang ahli sosiologi Aljazair: “Kini 16.000 orang Aran yang dilatih (oleh Amerika) di Afghanisyan berbalik melawan Anda (Amerika)”.

Bahkan, menurut seorang profesor ahli Timur Tengah, Eqbal Ahmad, kini terjadi fenomena “jihad internasional” sebagai kelanjutan atau perluasan dari perang anti-Soviet di Afghanistan; para aktornya tak lain adalah alumni Afghan yang mendapat pelatihan dan dulunya didukung penuh Amerika.

Kenyataan alumni Afghan pernah dilatih dan didukung AS, menguatkan dugaan: tidak sedikit di antara alumni Afghan, yang kemudian direkrut menjadi agen atau antek Amerika, guna merusak Islam dari dalam dengan melakukan aksi-aksi teror atas nama Islam. Sedangkan yang tidak mau tunduk pada kepentingan AS, bahkan melawannya, mereka dibidik, diawasi, bahkan dicap sebagai kaum “garis keras”, “militan”, bahkan “teroris”.

Perspesi bahkan opini publik  yang muncul sekarang, banyak alumni Afghan menjadi "teroris" di negeri ini, sekaligus merusak citra Islam dari dalam. Tidak hanya di Indonesia, berbagai kasus “terorisme” di dunia, khususnya serangan terhadap kepentingan Amerika Serikat (AS), hampir semuanya melibatkan alumni Afghan.

Alumni Afghan juga disebut-sebut hampir ada dan memainkan peranan penting di semua wilayah konflik atau perang yang melibatkan umat Islam di luar Afghanistan –Moro Filipina, Kashmir, Chechnya, Bosnia, Pattani Thailand, Irak, Asia Tengah, dan sebagainya.

Pertanyaanya sekarang, siapa sebenarnya alumni Afghan dan bagaimana kiprah mereka pasca berakhirnya perang Afghan sekarang ini? Benarkah mereka menjadi “teroris”, dimanfaatkan oleh Amerika Serikat, mengingat Amerika-lah yang berjasa melatih mereka di kamp-kamp pelatihan perang Afghan?

ALUMNI Afghan asal Indonesia jumlahnya ribuan. Almarhum KH. Hussein Umar (Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia), pernah bercerita, bahwa para relawan jihad asal Indonesia itu berangkat ke Afghanistan atas nama pribadi, tidak mengatasnamakan lembaga atau organisasi mana pun. 'Mereka sukarela, karena terpanggil untuk jihad,' kata Husein Umar. Kepergian mereka pun tak diam-diam, dengan tiket dan paspor resmi. Adapun biayanya, selain uang, juga bantuan ulama.

Rute yang ditempuh, menurut Husein Umar, biasanya berantai. Dari Malaysia, lalu ke Thailand, Myanmar, India, baru ke Pakistan. Ada jalur lain, lewat Jeddah lalu berangkat ke Pakistan bersama kelompok mujahid dari Arab.

Para mujahid dari Indonesia, kata Husein, bukan termasuk pasukan inti. Mereka datang lebih banyak untuk menunjukkan dukungan moral. Bahkan, sebagian besar hanya berlatih perang di kamp-kamp Afghanistan. Baik di kamp latihan maupun di garis depan, biasanya mereka tidak mengaku dari Indonesia. 'Kalau tak mengaku dari Malaysia, ya orang Thailand atau Filipina,' ujarnya.

Pasca perang, para relawan jihad itu kembali ke negeri asal. Satu hal yang jarang diekspos: selama pelatihan, mereka dilatih oleh instruktur Amerika Serikat yang memang mendukung Mujahidin Afghan dalam melawan pasukan komunis Rusia!

Faktanya, menurut H. Rachmat Basoeki Soeropranoto (Mantan Napol Kasus Peledakan BCA 1984), memang ada banyak alumni Afghan asal Indonesia yang memiliki keterampilan menggunakan berbagai jenis senjata dan merakit bom. Keterampilan itu mereka peroleh dari CIA.

Namun, meski mereka memiliki keterampilan merakit bom, keterampilan itu tidak bisa begitu saja dipraktekkan karena bahan baku membuat bom tidak sembarangan bisa diperoleh. Kalau toh bisa diperoleh, harganya tidak murah. Pada umumnya para alumni Afghan bukan tergolong orang yang punya uang berlebih.

Menurut Rachmat Basoeki, para alumni Afghan adalah anak bangsa yang mempunyai jiwa pengorbanan tinggi terhahadap saudaranya, apalagi saudara sesama Muslim, meski berada jauh di Afghan. Mereka membebaskan saudara Muslimnya dari cengkeraman pemerintahan komunis, dan berhasil. Bila untuk Muslim Afghan yang nun jauh di sana, mereka mau berkorban nyawa, apalagi untuk Muslim Indonesia. “Yang juga perlu diketahui, tidak semua alumni Afghan tergabung ke dalam JI,” katanya sebaimana dimuat swaramuslim.net.

Karena dilatih oleh AS, maka berbagai kemungkinan pun muncul, utamanya para alumni Afghan itu sebagian kemudian menjadi kaki-tangan atau antek AS untuk membela kepentingannya. Sekaranglah momentumnya, yakni saat Amerika kampanye antiterorisme dengan sasaran utama kekuatan gerakan Islam.

Menurut sebuah sumber, tidak semua alumni Afghan adalah santri. Beberapa di antaranya ada perwira aktif yang masuk ke Afghanistan bersama-sama dengan sukarelawan. Artinya, bisa jadi rangkaian teror bom di Indonesia memang di-setting oleh pihak luar atau pihak anti-Islam di dalam negeri, dengan memanfaatkan alumni Afghan yang bersemangat jihad tinggi, untuk menyudutkan posisi Islam. Menurut sumber tadi, dalam beberapa kasus ledakan bom, pelakunya “dibina” dulu oleh pihak tertentu di luar kalangan Islam.

Sebagai contoh, situs bangsaku.com edisi 18 Januari 2001: 19.00 WIB pernah memuat berita: “Umar Abduh, Mantan Tapol Kasus Woyla Tentang Pelaku Peledakan: Pelaku NH, Otaknya Jendral "SK".

Disebutkan, peledakan malam Natal 2000, dalam analisis Umar Abduh, merupakan skenario untuk melakukan pembusukan dan penciptaan stigma terhadap Islam. Kelompok Islam yang digunakan sebagai pupuk pembusukan ini adalah jalur NH. Mata-rantai NH adalah AM dan GT yang merupakan tokoh jalur struktural yang sudah memisahkan diri dari induknya yakni NII faksi TRB dan Dd, yang berbasis di Garut. Dan, otak dari semua ini tetap militer anti-Islam. "Aktornya itu SK," ujar Abduh kepada bangsakucom, Kamis, (18/01/2001).

Umar mensinyalir, semua skenario ini adalah untuk  menghantam Mujahidin. "Karena Mujahidin ini langkahnya gencar dan dapat diterima oleh bebagai pihak, maka harus dihentikan," paparnya. Wallahu a’lam. (ASM. Romli, tulisan ini pernah dimuat dalam versi bahasa Sunda di Majalah Bina Da’wah/DDII Jabar).*

http://warnaislam.com/penulis/romel.jpg
ASM. Romli