12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Pendidikan adalah Politik Tertinggi

http://sabili.co.id/images/stories/abdullah_syukri_zarkasyi.jpg
DR KH Syukri Zarkasyi, MA

Sabili.co.id - Luka akibat krisis yang dialami bangsa ini masih belum sembuh benar. Dan kini diperparah lagi oleh krisis keuangan di Amerika Serikat (AS) yang berimbas ke negara kita. Di lain pihak, telah sepuluh tahun lamanya reformasi berjalan, namun kemandirian sebagai sebuah bangsa yang berdaulat dan bermartabat masih jua belum berhasil ditampakkan. Adakah yang salah dengan semua ini? Lantas darimana harus memulai perubahan?

Untuk mendapatkan jawabannya, Sabili menemui DR KH Syukri Zarkasyi, MA, salah satu pimpinan Pondok Modern Gontor, yang kental mendidik santri-santrinya dengan semangat kemandirian. Di sela-sela kesibukannya menghadiri acara Halal Bihalal dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta akhir Oktober lalu, Pak Syukri (demikian ia biasa disapa) menerima Chairul Akhmad dan fotografer Arief Kamaluddin. Berikut petikan perbincangan dengan Pak Syukri.

Gejolak ekonomi di Amerika Serikat (AS) berimbas pada kita, sepertinya kita masih belum bisa mandiri sebagai bangsa?

Keterpurukan bangsa ini terjadi di segala dimensi kehidupan. Darimana sebabnya, bagaimana ia terjadi serta solusi apa yang harus dilakukan menjadi hal yang terus diperdebatkan. Tapi menurut saya, yang paling utama adalah membentuk character building, membangun mental, membangun watak. Bagaimana caranya, maka jalurnya lewat pendidikan. Untuk itulah anggaran pendidikan kita mencapai 20% karena masalahnya di situ. Bagaimana cara membentuk character building agar kita bisa mandiri, bisa bersaing dengan bangsa lain, itu semua dilakukan di dunia pendidikan. Karena pendidikan itu adalah politik tertinggi. Dunia pendidikan bagi saya, tentunya di pesantren. Karena di pesantren itu banyak pendidikan watak. Di luar itu hanya sekadar gelar akademik, demi mendapat ijazah untuk mencari pekerjaan

Kenapa bisa demikian?

Lembaga pendidikan harus memiliki jiwa dan filsafat hidup berdasarkan nilai-nilai agama. Agar menghasilkan pejuang yang memperjuangkan, bisa menjadi orang yang hidup dan menghidupi, bisa menjadi orang yang bergerak dan menggerakkan, menjadi pemimpin dan lain sebagainya. Dalam dunia pesantren ada jiwa keikhlasan, semuanya dilakukan karena Allah SWT. Ada jiwa kesederhanaan. Kesederhanaan bukan berarti melarat, tetapi sesuai dengan kebutuhan dan wajar-wajar saja. Ada jiwa kemandirian, artinya mandiri secara lembaga, secara sistem dan orangnya. Karena dalam dunia pesantren semuanya diurus dan diatur sendiri oleh para santri. Bahkan di Gontor, koperasi pelajar yang menguntungkan hingga Rp 800 juta itu dikelola oleh santri sendiri. Itulah pendidikan kemandirian.

Gurunya juga mandiri. Mereka mengelola unit usaha sendiri untuk dimakan sendiri. Oleh karena itu, guru-guru ada yang menjaga toko, mengurus sawah, mengelola penggilingan padi, mengelola pabrik roti dan lain sebagainya. Ternyata, dengan sistem kemandirian dalam bidang ekonomi ini semua baik-baik saja. Unit-unit usaha yang ada di Gontor memang banyak dikelola oleh guru. Gurunya mandiri, lembaganya juga mandiri. Bahkan orang-orang yang menjaga toko dan lainnya, bukan hanya sekadar mandiri tapi juga memandirikan lembaganya dan orang lain. Dalam pendidikan, hal yang seperti ini yang membentuk watak. Kalau dari segi akademis mungkin kurang, tapi anak-anak Gontor alhamdulillah bisa berjuang di mana saja. Baik di kota besar atau kampung kecil. Dan itulah orang besar. Orang besar menurut Gontor adalah orang yang mau berjuang dengan segala keikhlasannya, meskipun di kampung kecil atau di langgar yang terpencil.

Hubungannya dengan kemandirian bangsa?

Lalu bagaimana dengan keadaan bangsa kita yang seperti ini (masih belum bisa mandiri), segala sesuatu itu menurut pengamatan saya, yang paling bertanggungjawab adalah pimpinannya. Gontor punya 14 cabang yang terletak di berbagai tempat dengan beraneka ragam karakter dan budayanya. Namun, tetap saja nilai-nilai Gontor itu sama. Santrinya, guru-gurunya, sistemnya maupun kemandiriannya. Kenapa bisa demikian, karena yang berperan adalah para pemimpinnya. Masing-masing pemimpin cabang Gontor ini mampu mengaplikasikan nilai-nilai dan jiwa kemandirian Gontor. Oleh karena itu, menurut saya yang paling bertanggungjawab adalah para pemimpin, baik itu pimpinan negara, bangsa, umat, partai politik dan lain sebagainya. Pemimpin itu harus keras dan tegas dalam menegakkan keadilan, namun bukan berarti kasar. Karena itu adalah warna yang luarbiasa. Apapun manajemennya, yang paling bertanggungjawab adalah pimpinannya. Oleh karena itulah, kita perlu membenahi segala sesuatunya, terutama pimpinannya. Dari sini, insya Allah semuanya akan bisa dilakukan dengan baik. Tentu saja, dibutuhkan keberanian untuk melakukan itu semua.

Rasulullah mengajarkan kemandirian, namun umat Islam terbesar di dunia masih belum bisa melakukan itu semua?

Kalau pondok pesantren menurut saya, sudah bisa mandiri, tapi bangsa ini belum. Oleh karena itulah, seluruh peradaban apapun harus berdasarkan nilai-nilai. Komunis tidak berdasarkan nilai-nilai agama dan kemanusiaan, akhirnya hancur ketika belum mencapai satu abad. Amerika baru satu setengah abad juga hancur, karena tidak berdasarkan nilai-nilai agama. Oleh sebab itu, dalam membangun bangsa kita harus berdasarkan nilai-nilai dan jiwa filsafat hidup yang jelas.

Pemimpin Indonesia di masa revolusi bisa menyatukan rakyat dan membuat bangsa ini mandiri dan kuat, kenapa sekarang tidak?

Dulu kita punya musuh yang jelas, Belanda. Kita berperang merebut kemerdekaan bertaruh nyawa. Sekarang apa yang kita perjuangkan? Ada orang yang terlalu hidup enak, sebagian lagi tidak. Ada orang yang mengaku mandiri, namun tidak jelas. Tidak semua orang kaya itu mandiri, dan tidak semua orang mandiri itu kaya. Oleh karena itu, para pemimpin kita saat ini perlu bersikap mandiri. Iklim dan kondisi saat ini juga turut menentukan nasib bangsa ini. Di era globalisasi seperti sekarang ini unsur-unsur dan budaya dari luar itu begitu kuat menyerang dan kita sulit membendungnya karena kita tidak kuat. Kita lemah secara ekonomi, sistem, keuangan, politik, kultural, nilai dan lain sebagainya.

Para pemimpin dan birokrat kita perlu direformasi juga?

Ya, maka para pemimpin, para birokrat baik di legislatif maupun eksektutif itu perlu direformasi karena mereka sangat menentukan dan merupakan uswah khasanah. Merekalah yang paling bertanggungjawab terhadap nasib bangsa ini. Untuk itulah mereka harus meningkatkan kapasitas diri, dibenahi dan ditingkatkan sikap kemandiriannya.

Bagaimana mengubah paradigma bangsa dan umat ini agar bisa mandiri?

Banyak hal di dunia ini yang diekonomikan. Saat ini al-Qur’an itu diekonomikan, disosialiskan. Lupa bahwa ada nilai-nilai kejuangan. Yang perlu ditanamkan bukan nilai-nilai ekonomis. Namun hal-hal yang lebih mendasar seperti nilai-nilai jiwa dan agama. Jadi, nilai dan jiwa (ruh) bangsa ini hambar sekali, karena yang dikedepankan adalah masalah sosial kemasyarakatan dan ekonomi. Masalah rokok saja, yang dikedepankan adalah nilai ekonomi. Katanya akan muncul pengangguran. Tidak pernah memikirkan masalah kesehatan di mana jutaan orang yang mati karena rokok.

Kemudian yang perlu ditingkatkan lagi adalah masalah etos kerja dan keterampilan. Kita ini termasuk negara yang kaya dengan sumber daya alam, namun jadi negara miskin. Kenapa, karena kita masih tergantung kepada negara lain untuk melakukan eksplorasi maupun produksi. Saatnya hal ini segera dihentikan dan memberikan kesempatan kepada orang-orang terbaik kita untuk melakukan proses itu. Dan memang itu tidak, karena terkait dengan penguasaan teknologi dan lain sebagainya. Bagaimana cara kita menguasai teknologi, lagi-lagi lewat jalur pendidikan. Namun pendidikan ini tidak hanya untuk keterampilan otak semata, namun yang paling penting adalah hati (dhomir). Karena dari sinilah watak dan mental yang baik itu bisa dibentuk. Value atau nilai-nilai agama ini yang berperan penting dalam pembentukan karakter seseorang hingga ia dapat menjadi sosok yang mandiri dan tidak tergantung pada orang lain.

Apa yang dilakukan Gontor dalam menciptakan kemandirian ini?

Alhamdulillah, Gontor kini sudah mandiri. Kalau tidak, maka tidak mungkin akan dapat membuka cabang hingga 14 banyaknya. Kalau tanpa kemandirian dan ruh yang mandiri, tidak mungkin kita bisa membuka cabang-cabang itu.

Bagaimana mentransformasikan kemandirian pesantren kepada umat dan bangsa ini?

Tidak mudah memang. Kita ini lembaga swasta yang seperti itu. Negara punya kekuatan dan tentara. Kita juga menghadapi gerakan-gerakan anti-agama, sekularisasi, liberalisasi dan lain sebagainya. Makanya perjuangan kita masih banyak dan panjang. Masih banyak kerja keras yang harus kita lakukan, bahkan sampai mati.

Bisakah bangsa dan umat menjadi mandiri dan berwibawa di antara bangsa lainnya?

Kalau beberapa hal tadi bisa dipenuhi, kemudian pemimpin kita bisa bersikap tegas dan adil, insya Allah bisa.

Adakah kaitannya dengan sistem politik tertentu?

Hal ini tidak terkait dengan sistem politik apapun. Sistem politik apapun, kalau pimpinannya baik -tidak hanya presiden- tapi semua pemimpin (dalam segala bidang) dari pusat hingga daerah itu baik, maka akan baik. Dan jangan ada sakit hati dan dendam.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan, bahwa ada seorang mujahid yang sangat bersemangat dalam berjihad. Dia selalu berada dalam garda depan ketika perang dan selalu meneriakkan takbir ketika menghadapi musuh. Namun, Rasulullah mengatakan bahwa yang bersangkutan masuk neraka. Tentu saja para sahabat bertanya-tanya, kenapa gerangan mujahid tersebut masuk neraka. Jawab Rasulullah, ia berperang bukan karena Allah SWT, namun karena dendam dan sakit hati. Jadi, dendam dan sakit hati tidak akan membawa manfaat dan kebaikan. Oleh karena itu, dalam mereformasi dan memperbaiki kualitas bangsa dan umat ini, hendaknya kita menyingkirkan dendam dan sakit hati.