18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Manusia Boleh Berencana

http://4.bp.blogspot.com/_n9L5-bBW7JU/RpMTa8qHylI/AAAAAAAAATg/daQyAa1M9fA/s400/100720071002231.jpg

Eramuslim.com - Mira Kania Dewi -Badannya terbaring lemah setelah menjalani operasi pengangkatan indung telur di rahimnya. Ini baru operasi yang pertama dari rangkaian operasi yang harus dijalaninya. Suaranya lirih terdengar sangat pelan memperlihatkan begitu besar rasa sakit yang dialaminya. Ia divonis mengidap penyakit kanker rahim. Penyakit ini memang begitu menakutkan seakan belum ada obatnya dan sulit disembuhkan. Tak sedikit yang berakhir dengan hanya meninggalkan kenangan berupa “nama” bagi yang telah mengalaminya.

Manusia boleh berencana tapi jangan lupa bahwa ada Pemilik Rencana Yang Hakiki, manusia tetap boleh berencana namun ingatlah bahwa hasil akhir adalah Hak-NYA semata. Rencana yang begitu indah dengan berharap kebahagiaan yang diperoleh di masa depan buyar seketika.

Seorang wanita sebut saja Ela, adalah seorang wanita karir yang telah 9 tahun melanglang buana bekerja di negeri seberang meninggalkan seorang anak dan suami di tanah air. Ela mempunyai kedudukan yang bagus dan gaji yang boleh dibilang membuat banyak orang berdecak kagum. Kini ia harus menerima kehendak Sang Maha Pengatur.

Sudah dua minggu perutnya terasa sakit dan kembung. Semula rasa sakitnya dianggap sebagai rasa sakit biasa dan akan hilang dengan sendirinya. Semakin hari rasa sakit yang menderanya semakin menjadi sehingga membuatnya tak mampu lagi berjalan.

Obat dari dokter penyakit dalam tak pernah lupa dikonsumsinya, namun rasa sakit tak kunjung hilang bahkan semakin memburuk. Karena belum ada kemajuan, dua hari kemudian Ela kembali lagi ke dokter yang sama. Akhirnya dilakukan scan di bagian perutnya untuk mencari penyebabnya. Hasil yang didengarnya sangat mengejutkan. Perutnya yang semakin membesar ternyata berisi cairan yang setelah diuji lebih lanjut adalah kanker stadium 4.

Operasi tak bisa ditunda lagi namun belum satu orangpun dari pihak keluarga Ela datang menjenguknya. Untunglah sehari sebelum operasi dilakukan, suaminya datang seorang diri. Ya, seorang diri karena anak semata wayangnya sedang melakukan UAN tingkat SMP di tanah air. Anak berjuang sendirian, Ela (ibunya) pun berjuang sendirian. Sungguh miris.

Rencana tinggal rencana, Rabb Sang Penguasa Jiwa berkehendak lain. Rencana Ela seminggu ke depan untuk pindah kerja ke negeri kangguru tak jelas akhirnya. Ela harus siap melakukan kemoterapi berulang kali dan melanjutkannya dengan operasi susulan pengangkatan seluruh rahimnya. Kanker ganas yang menyerangnya telah menjalar sampai saluran pencernaannya.

“Sabar ya Mbak, semoga cepat sembuh,” ucapku dan suami sebelum kami meninggalkan Ela yang terbaring di atas tempat tidur dalam keadaan lemah. Kami pun pamit kepada Ela dan suaminya.

Ela bukan seorang muslimah namun sebagai seorang teman, aku masih berusaha menjaga hubungan muamalah dengannya. Peristiwa yang dialami Ela membuat aku jadi merenung apakah sakitnya merupakan teguran akan kelalaiannya meningggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan seorang ibu? Tak tahu lah, yang jelas bahwa dari peristiwa itu aku mencoba merenung mengambil pelajaran akan kesehatan yang kita miliki yang kadang kita sepelekan namun ternyata sangat berharga dan patut kita disyukuri.

Aku jadi berpikir bahwa manusia boleh berencana namun ALLOH-lah Yang Maha Berkehendak. Kehendak-NYA mutlak tak dapat dielakkan. Bahwa setiap detik kita harus berjuang untuk selalu menegakkan kebaikan dan menuaikan amanah. Jangan sampai ada yang merasa terzalimi dengan tindakan kita. Karena sesungguhnya rahmat ALLOH beserta orang-orang berbuat baik.

“Sesungguhnya rahmat ALLOH amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS 7 : 56)

Entah sampai kapan Ela harus berada di Ramkhaeheng Hospital menjalani berbagai terapi dan pengobatan yang tentunya bukan sesuatu yang menyenangkan. Entah berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan. Rencanaya 3 hari lagi Ela sudah harus berada di negeri kangguru Australia namun ALLOH berkehendak lain. Entah seberapa kuat Ela mampu bertahan. Apakah ia akan meneruskan pengobatannya pulang ke tanah air atau “pulang” dalam arti sesungguhnya?

Entahlah, setiap orang memang pasti akan berpulang apapun diennya namun berapa banyak yang sudah “sadar” tentang arti pulang itu? Tak ada satu orang pun yang tahu dengan cara bagaimana dan ada di mana ia nanti akan “berpulang”. Semoga kita kembali kepada-NYA membawa akhlakul kharimah dan dalam keadaan yang mulia. Aamiin.

“Hanya kepada ALLOH kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS 5 : 105)

Wallohua’lam bishshowaab.

oleh Mira Kania Dewi