fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


11 Ramadhan 1442  |  Jumat 23 April 2021

Wanita Karier : Peran Strategis Atau Kendala ?

Seorang juru tera kenamaan asal Malaysia, Ir. Hj. Endok Sempo M Tahir pernah mengemukakan beberapa gejala 'kepincangan' wanita di era millenium. Salah satu gejala 'kepincangan' yang beliau paparkan itu berlandaskan pada realita : banyak wanita sukses dalam karier, tapi rumahtangganya malah hancur-lebur. Sebagai mahluk sosial wanita bergerak dinamis dalam lingkup keluarga asal, keluarga bentukan, serta lingkungan tempat tinggal. Untuk waktu kini, lingkupnya bisa ditambah dengan : lingkungan mencari nafkah. Dari pendapat Ir. Hj. Endok Sempo M Tahir bisa diasumsikan, bahwa dalam lingkungan mencari nafkah inilah peran wanita tereduksi. Tereduksi sehingga melupakan tugas-tugas pokok dan gagal menyeimbangkan peran dalam lingkup-lingkup lainnya.

Melihat fenomena yang terjadi pada wanita kalangan atas- lebih spesifik lagi kalangan wanita selebritis- asumsi tersebut memang dikuatkan oleh banyak kasus dan fakta. Wallahu a'lam bish shawab, dengan soal birrul walidayni atau hidup bertetangga mereka sehari-hari. Tapi menurut pemberitaan media, khususnya dalam program infotainment, rumahtangga wanita selebritis ditengarai banyak terlilit masalah. Percekcokan, dugaan penyelewengan, kawin bawah tangan, sampai kasus-kasus perceraian tengah marak dikalangan artis wanita kita. Fakta inilah yang lalu membuat sebagian masyarakat menduga, semena-mena memberi cap : "rumah tangga artis sulit untuk harmonis."

Menyimak fakta itu, penulis coba mencari dan menyimak realitas lain. Dan fakta-fakta yang terungkap kemudian mengisyaratkan, sebenarnya bukan profesi pilihan an sich yang menimbulkan keretakan rumahtangga. Pilihan karier dan cara menyikapinyalah, yang juga menentukan optimal tidaknya kiprah mereka di lingkup keluarga asal, keluarga bentukan, serta lingkungan tempat tinggal. Buktinya, masih banyak kaum wanita yang aktif tapi mampu mendidik anak, mengurus suami dan mengembangkan birrul walidayni.

Di lingkungan tempat tinggal penulis, contohnya. Rata-rata wanita menikah yang bekerja malah terlihat sangat aktif dan kerap menjadi inspirator dalam kegiatan lokal kampung. Ada Ibu Widyastuti (bukan nama sebenarnya), dosen ilmu pasti yang kerap didapuk sebagai MC dalam acara halal bil halal atau tabligh sebulan sekali. Ada juga Ibu Niar (bukan nama sebenarnya), karyawati BUMN yang selalu brilian menelurkan ide-ide acara, teristimewa dalam moment kemeriahan seperti idul fitri, idul adha, maulid Nabi SAW, atau peringatan kemerdekaan RI. Hubungan mereka dengan anak dan suamipun terlihat hangat dan akrab.

Dari pengamatan terbatas itu penulis berkesimpulan : pilihan profesi dan cara wanita menekuni profesinya sama-sama memengaruhi keseimbangan peran wanita dalam keluarga dan lingkungan tempat tinggal. Bila profesi yang dipilih tidak menganjurkan pada pelanggaran etos mereka sebagai wanita (ibu dan istri), tentu tak masalah jika mereka aktif berkarier. Waktu mereka masih bisa diluangkan untuk mengurus anak-suami, dan fitrah merekapun tetap terpelihara walaupun mesti berbaur dengan sejawat kerja, jika mereka tepat memilih profesi dan tepat memilih sikap dalam menggeluti profesinya. Lalu, bagaimana cara mereka memelihara marwah dan fitrah diri ketika bekerja ? Untuk ini, penulis punya beberapa kiat bagi para ibu-ibu atau istri-istri karier. Yaitu :

1. Pilihlah karier yang tidak mendekati mudharat, tidak membuat diri tergadai kesuciannya. Artinya karier yang memungkinkan untuk tidak ber- khalwat dengan rekan kerja pria, tidak berpakaian kecuali mengindahkan syari'at Islam, tidak harus pulang larut malam atau dinihari, serta tak sering berdomisili diluar kota, jauh dari suami dan anak-anaknya.


2. Tentukan alokasi waktu untuk menjalin hubungan baik dengan suami- anak, serta punya jadwal rutin silaturrahim dengan orangtua, mertua, maupun tetangga dekat.


3. Selalu mendahulukan kepentingan suami dan anak daripada prioritas-prioritas lainnya.


4. Tak terlalu ambisius dalam karier, tapi juga tidak menahan atau mengabaikan potensi diri yang dimiliki.



Mudah-mudahan kiat tersebut dapat membantu. Dan perlu dicamkan oleh para ibu dan istri-istri sekalian, bahwa Islam tak melarang seorang akhwat untuk bekerja dan berkontribusi penuh terhadap pekerjaannya. Dari anjuran menutup aurat dengan mengenakan jilbab yang buni-pun terbetik isyarat, bahwa Islam memang mendukung wanita untuk keluar rumah jika maksud dan tujuannya mulia. Disamping itu, suamipun perlu menghargai keinginan Istri untuk berkarier di jalur yang halal dan berkah. Ini penting. Mengingat jika suami meninggal lebih dahulu, istri dan anak-anaknya tak perlu berpikir berat untuk menanggung penghidupan sehari-hari. Sepeninggal ayahnya, toh sang Ibu masih bisa diandalkan untuk membiayai kehidupan keluarga. Nah, disitulah sebenarnya letak peran strategis seorang ibu atau istri yang berkarier, pada masa sekarang ini. Peran strategis yang menuntut pengakuan dan dukungan penuh dari suami beserta anak-anaknya. Bukan suatu yang berlebihan, jika penulis menganggap peran tersebut sebagai pokok, dalam dinamika jaman yang sangat mementingkan segi kekuatas ekonomis.

Penulis adalah tim redaksi cyberMQ.com