fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Rayap Tongkat Nabi Sulaiman

http://3.bp.blogspot.com/_3Bu29cX07Do/Svstwvn_H6I/AAAAAAAAABo/rH-3_QeFYk8/s200/53025.JPG

Siapa yang tidak tahu hebatnya kekuasaan Nabi Sulaiman? Penerus kera­jaan Daud as ini dianugerahi Allah SWT banyak keistimewaan yang mengukuhkannya sebagai penguasa tanpa tanding. Nyaris semua sarana kekuatan dimiliki dan dikendalikannya. Sulaiman berhasil menguasai teknologi pengelolaan logam (al-qithr) dan dapat mengendalikan angin seba­gai sarana transportasi.

“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan pula, dan Kami alirkan cairan tembaga baginya,” (QS Saba’: 12).

Nabi Sulaiman juga mengusai bahasa binatang dan mampu ber­komunikasi dengan mereka. Mulai burung yang relatif besar hingga semut yang hampir tak terlihat oleh mata telanjang. Bala tentara Sulaiman memiliki ke­kua­tan yang sulit diukur. Pasukan­nya tidak ha­nya terdiri dari manusia, tapi jin dan burung pun ikut ter­gabung di dalamnya. “Dan dihim­punkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, ma­nusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib,” (QS an-Naml: 17).

Pengendalian Sulaiman terha­dap bangsa jin menjadi catatan tersendiri. Di masa itu, jin tidak hanya sebagai tentara yang pa­tuh, melainkan juga bekerja dalam sekian banyak sektor kerajaan. Ada yang menyelam (ghawwash) untuk mengumpulkan perhiasan, bahkan ada pula yang menjadi kuli bangunan (banna’).

Dengan kekuasaan yang begi­tu luar biasa, Sulaiman tampil se­bagai sosok penguasa yang sangat berwibawa sekaligus ditakuti. Jangankan manusia biasa, jin pun terpaksa harus bertekuk lutut di bawah titahnya. Namun, ada satu kejadian unik terkait kebe­saran Sulaiman ini. Ketika wafat, jasadnya tetap berdiri tegak de­ngan bertumpu pada sebatang tong­kat tanpa seorang pun me­nge­tahuinya.

Meskipun sudah tidak ber­nya­wa, jasadnya tetap ditakuti. Jin yang sedang mengerjakan ba­ngunan, terus bekerja siang dan malam karena jerih terhadap hukuman Sang Penguasa Besar tersebut. Mereka baru tahu jika sosok yang selama ini ditakutinya tidak lagi berdaya, setelah rayap-rayap menggerogoti tongkat yang menyangga tubuhnya. Tongkat itu akhir­nya rapuh dan jasad Sulaiman pun jatuh. Saat itulah semua orang, termasuk jin, baru tahu kondisi Sulaiman yang sebenarnya.

Apa arti seekor atau sekawanan rayap dalam logika kekuatan? Sulit dibayangkan! Inilah persoalan yang menghantui benak ma­syarakat dunia ketika merasakan domi­nasi kekuatan Adikuasa Ame­rika dan Eropa, atau menyaksikan ke­angkuhan Zionis Israel yang kian hari semakin menampakkan pera­daban fir‘aunistiknya, Ana Rabbukum al-a‘la (Aku­lah tuhan kalian yang paling tinggi!).

Sebenarnya tidak ada alasan bagi ma­syarakat dunia untuk takut kepada kekua­tan Amerika atau Zionis Israel. Karena tatanan dunia baru (new world order) yang tengah mereka bangun justru lebih mencer­minkan wajah Adikuasa yang sedang ke­takutan. Konstruksi peradaban dunia yang mereka bangun berdiri di atas fondasi yang rapuh, karena berasaskan ketimpangan dan kezaliman. Hak veto adalah bukti nyatanya. Mereka harus mendapatkan apa yang di­ingin­kan, bukan karena memang berhak mendapatkannya, tapi karena mereka kuat. Karena itulah mereka terus memperkuat diri agar tampil sebagai satu-satunya kekuatan dunia.

Jadi, jelas, “Mereka yang kuatlah yang sebenarnya ketakutan, sehingga selalu berusaha berlindung dengan kekua­tan­nya,” kata Jawdat Sa`id dalam buku Lima Hadza ar-Ru`b Kulluh min al-Islam. Namun sayang, umat Islam malah takut kepada mereka, “Karena mengira hanya dapat mempertahankan diri dengan kekuatan, ‘kekuatan otot dan sen­jata’,” lanjut Sa`id. Ar­tinya, seyogianya umat Islam mem­bangun lo­gika kekuatannya sen­diri sehing­ga tidak ter­jebak logika kekuatan musuh.

Itulah logika kekua­tan rayap tongkat Su­laiman as. Meskipun jelas jauh lebih lemah dari jin, tapi dia sangat mengenali posisinya. Meskipun gerakannya lamban, tapi yang di­ge­ro­gotinya adalah tong­kat yang me­nyang­ga jasad Nabi Sulaiman. Dalam kon­teks ke­ki­nian, umat semestinya mulai sadar bahwa sebe­narnya musuh sangat ketakutan dan rapuh, sehingga tidak perlu menunggu ‘kekuatan mukjizat’ untuk merun­tuh­kannya, tapi cukup dengan ‘kekuatan rayap’ yang sudah mulai men­cuat ke permukaan. Sebut saja Syaikh Ahmad Yasin, Hamas, Gaza, dan tidak menutup kemungkinan jika rayap itu juga adalah kita!

Eman Mulyatman