pustaka.png.orig
basmalah.png


4 Dzulqa'dah 1442  |  Senin 14 Juni 2021

Meniup Kuncup Kembang Peradaban


Haryati Ismail
Mahasiswi Madrasseh Jamiahtu Az-Zahra Republik Islam Iran

Jika kita bertanya kepada seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran apa motivasinya belajar, maka tentu saja jawabannya, karena kelak ingin berprofesi sebagai dokter, atau bagi yang menempuh di bidang tekhnik maka tentu saja karena ingin menjadi insinyur. Namun ketika seorang santri putri yang sedang mondok di pesantren ditanya, beranikah ia menjawab bahwa motivasi belajarnya adalah karena ingin menjadi ulama ?

Ketidakberanian ‘santri’ perempuan untuk bercita-cita menjadi ulama, setidaknya didasarkan pada pandangan mayoritas masyarakat tentang karakteristik ulama itu sendiri. Ketika mendengar kata ulama, maka yang terbayang adalah sosok laki-laki yang alim, berwibawa, bijak, disegani, dihormati, didengarkan apa yang dikatakannya dan memangku gelar sebagai pemuka agama, pemimpin spritual, panutan ummat dan lain-lain.

Pandangan ini bukan sesuatu yang totalitas salah, sebab realitas menghadirkan fakta bahwa sedikit sekali perempuan yang bersedia menghabiskan waktunya untuk mengkaji pengetahuan keagamaan lebih mendalam untuk kemudian disebut sebagai ulama. Salah satu faktor yang menghadang perempuan adalah ketidakramahan budaya terhadap perempuan yang seringkali menganggap perempuan tidak ada manfaatnya mempelajari itu semua, toh nanti pada akhirnya akan kembali ke dapur.

Idealitas Islam, Perempuan (juga) Ulama

Kedatangan Islam yang di bawa oleh Rasulullah SAW dengan memberikan pencerahan untuk tatanan masyarakat yang ideal tidak hanya untuk laki-laki tetapi juga untuk perempuan. Hak untuk mendapatkan pendidikan merupakan salah satu ruh pemberdayaan yang sangat ditekankan. Islam memandang hak pendidikan adalah untuk semua orang, sebagaimana dalam sebuah hadits, "Thalabul ilmi faaridatun ‘alaa kulli muslim" yang artinya "Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim" (HR. Ibnu Majah).

Karenanya dalam berbagai riwayat dijelaskan bahwa Nabi tidak pernah membedakan kesempatan untuk menggali pengetahuan tentang keislaman bagi para sahabatnya baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari Rasulullah SAW pernah memuji para perempuan Anshar yang selalu belajar sebagaimana penuturannya, "Perempuan terbaik adalah mereka yang dari Anshar, mereka tidak pernah malu untuk selalu belajar agama".

Pada hadits lain, bagaimana Rasulullah mengkhususkan waktunya untuk mengajarkan agama kepada kaum perempuan, sehingga dari halaqah tersebut lahirlah banyak perempuan yang menjadi perawi hadits yang cukup terkenal. Hal ini dapat dilihat dari kitab Al-Muwaththa yang di tulis Malik bin Anas (w. 179/795) yang kebanyakan haditsnya diriwayatkan oleh shahabiyah (sahabat perempuan). Begitupun dalam Musnad Ibn Hanbal yang mencakup hadits-hadits yang diriwayatkan oleh 125 sahabat perempuan.

Tidak adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hak memperoleh pendidikan di masa Nabi, menjadikan perempuan saat itu menjadi bagian dari sebuah masyarakat yang kritis. Sebagai ilustrasi, ummul mu’minin Ummu Salamah pernah mempertanyakan posisi kaumnya dalam Alquran kepada Rasulullah saw, “Kami telah menyatakan beriman kepada Islam, dan melakukan hal-hal sebagaimana yang laki-laki lakukan. Namun mengapa hanya kalian lelaki saja yang disebut dalam Alquran, sementara perempuan tidak?” Maka sejak itu sebutan untuk kaum muslimin secara umum dalam Alquran berubah menjadi ‘muslimin wa ‘l-muslimat.

Sayangnya, pada perkembangan selanjutnya, tatanan ideal yang memberi ruang lebar kepada perempuan untuk mengakses pendidikan tidak berjalan mulus. Perubahan politik dan kebijakan yang terjadi pasca kepergian Rasul sangat berimbas terhadap interaksi perempuan di wilayah publik lebih khusus lagi tradisi keilmuan. Akibatnya pada generasi selanjutnya pasca generasi kedua, kualitas dan kuantitas keilmuan perempuan menurun drastis dan kondisinya terus berlanjut hingga jumlah dan proporsi perempuan hilang sama sekali pada generasi keempat.

Karenanya tidak mengherankan dikekinian, kita diperhadapkan oleh kenyataan masih ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa perempuan tetap tidak bisa memahami syariat agama dengan baik, dan tampilnya ia di depan umum akan menjadi fitnah bagi kaum laki-laki yang melihatnya.

Ulama Perempuan yang Terkubur Sejarah

Diantaranya Aisyah Ra, istri Nabi. Beliau terkenal sangat cerdas dan dicatat meriwayatkan 1210 hadits yang 300 diantaranya termaktub dalam koleksi hadits Bukhari-Muslim. Bahkan Rasulullah saw pernah bersabda tentang Aisyah, “Ambillah setengah urusan agama kalian dari Humairah“(Hadis At Tirmidzi) Karenanya, tidak sedikit sahabat yang belajar dan hadir pada halaqahnya. Saya yakin teramat sedikit yang tahu tentang Nafisah, salah seorang keturunan Imam Ali Ra.

Ia dikenal memiliki otoritas dalam bidang hadits. Imam Syafi’i seorang ulama besar yang madhzabnya mayoritas di gunakan oleh masyarakat Muslim Indonesia pernah belajar di halaqahnya di Fustat (Mesir), pada masa sang Imam berada di puncak keilmuannya. Belum lagi tentang Fathimah bint Al-Aqra yang tidak hanya dikenal sebagai ulama tetapi juga kaligrafer terkemuka. Ia menjadi ulama dengan murid yang tersebar dimana-mana. Syaikhah Syuhada, yang lebih dikenal sebagai Fakhr Al-Nisa, sering didaulat untuk memberikan ceramah umum di Masjid Jami’ Baghdad dihadapan banyak jama’ah baik laki-laki maupun perempuan.

Tokoh lain, Unaidah yang konon halaqahnya sering dipadati sampai 500 orang. Dan tidak lengkap jika tidak menulis nama Rabiah Al-Adawiyah, tokoh sufi yang teramat familiar yang berjasa telah memperkenalkan konsep "Cinta mutlak kepada Allah" , meskipun konsep ini menimbulkan kontroversi terutama di kalangan umat Islam sendiri. Masih banyak lagi tokoh-tokoh perempuan yang mempengaruhi jalannya sejarah peradaban Islam. Merekalah kembang-kembang peradaban. Tritton A.s menulis dalam Materials on Muslim Education in the Middle Ages tentang riwayat hidup ulama-ulama besar Islam laki-laki yang tampak bangga menuliskan catatan tentang guru-guru perempuan mereka, “Tidak terdapat tanda-tanda bahwa mereka segan atau malu belajar kepada pakar-pakar perempuan tersebut.”

Merindukan Kembali Ulama Perempuan

Sebagaimana telah dipaparkan, sesungguhnya penegakan nilai-nilai Islam di muka bumi ini, sejak mulanya telah membawa semangat egaliter. Adanya persamaan hak bagi laki-laki dan perempuan dalam menuntut ilmu dan memperoleh pendidikan. Pengakuan terhadap keulamaan perempuan dan sekaligus upaya melakukan penyemaian adalah berangkat dari nilai kesetaraan dan keadilan, sebagai nilai fundamental Islam, agama yang kita percaya sebagai pembawa rahmatan bagi alam semesta. Dan hal ini telah ditunjukakan secara prima oleh Muhammad pada masa kenabiannya.

Untuk itu sudah saatnya mengembalikan semangat dan ruh Islam pada khittah perjuangannya semula. Dengan memberikan kesempatan yang sama untuk mengembangkan pengetahuan tanpa membedakan jenis kelamin. Terutama tentang perempuan, mereka sesungguhnya kembang-kembang yang memekarkan dan mewarnai peradaban. Menyiapkan pendidikan bagi perempuan sesungguhnya menyiapkan sumber daya dan aset yang luar biasa bagi keluarga untuk melahirkan generasi yang akan mengangkat kembali izzah Islam wa mulismin. Dalam Al-Qur’an ada surah perempuan, tidak laki-laki.

Wallahu 'alam Bishshawwab

Oleh Haryati Ismail

Mahasiswi Madrasseh Jamiahtu Az-Zahra Republik Islam Iran
Riwayat Pendidikan : - Sarjana Pendidikan Matematika UNM 2008 - Mahasiswi Madrasseh Jamiahtu Az-Zahra; Pengalaman Organisasi : - Sekretaris Umum MAPERWA FMIPA UNM 2004/2005 - Ketua Bidang I BEM FMIPA UNM 2005/2006 - Ketua Bidang Pengembangan Wacana LKIMB UNM 2005/2006 - Menteri Keperempuanan BEM UNM 2006/2007 - Kandidat Ketua KOHATI Cabang Makassar 2007/2008 - Koordinator Intens Makassar 2006/2008