pustaka.png
basmalah.png


15 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 25 Juni 2021

Tiga Pilar Masyarakat Baru

http://sabili.co.id/images/stories/1.jpg

Sabili.co.id - Meninggalkan tanah kelahiran dan hidup di tempat yang baru bukanlah hal yang mudah. Tapi itulah yang harus ditempuh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Mereka harus meninggalkan Makkah menuju Madinah, menembus pasir panas dan teriknya matahari. Sementara bahaya bisa saja menghadang di tengah jalan. Kaum musyrikin yang tidak ingin kaum Muslimin membangun kekuatan baru terus melakukan pengejaran. Namun Allah swt berkehendak hijrah Rasul itu sukses.

Sebelum Hijrah, Rasulullah mengutus Mush'ab bin Umair sebagai duta. Alhamdulillah, penduduk Madinah ikhlas masuk Islam kecuali beberapa suku kecil seperti Khatmah, Waqif, Wail, dan Umayyah yang masih menyukai kemusyrikan.

Dengan demikian kaum Muhajirin dengan segera bisa beradaptasi de¬ngan penduduk Madinah dan lingkungan yang baru. Mengawali kehidupan di Madi¬nah, Rasulullah menyampaikan pidato kenegaraannya yang pertama. Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa dalam pidato itu Rasulullah berkata: "Wahai sekalian manusia, persembahkanlah (amal) untuk diri kalian sendiri. Demi Allah, sesungguhnya seseorang dari kali¬an pasti akan menemui Allah... Kemudian Tuhannya berkata kepadanya, tanpa penterjemah dan tanpa penghalang, 'Bukankah telah datang utusan-Ku menyampaikan (risalah) kepadamu? Bukankah telah Aku beri engkau harta dan telah banyak karunia-Ku kepadamu? Maka apakah yang telah engkau persembahkan untuk dirimu sendiri?' Orang itu lantas melihat ke kanan dan ke kiri, tidak didapati sesuatu.

Kemudian ia melihat ke depan, tidak dilihatnya kecuali neraka jahannam. Maka barang siapa bisa menjauhi neraka meski dengan separuh biji kurma, hendaklah ia lakukan. Dan barang siapa tidak bisa, hendaklah menjauhinya dengan berkata baik. Kebaikan akan diberi balasan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat."

Pidato itu cukup panjang dan memuat ba¬nyak sekali statement penting. Di antaranya Ra¬sulullah saw menambahkan: "Telah beruntung siapa yang dijadikan Allah hatinya berhias de¬ngan Kitabullah itu. Dimasukkan Islam setelah kekafiran... Cintailah apa yang dicintai Allah.

Cintailah Allah sepenuh hati kalian... Sembahlah la dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Bertakwalah dengan sebenar-benar takwa. Jujurlah kepada Allah, saling mencintailah dengan ruh Allah di antara kalian, sesungguh¬nya Dia sangat marah apabila ikatan-Nya dilanggar."

Pidato kenegaraan pertama itu begitu penting, baik dari segi timing-nya maupun isinya, dan mencerminkan ketegasan sikap Rasulullah sebagai seorang pemimpin. Rasulullah mengawali kiprahnya dalam sebuah tatanan masyarakat baru dengan mengedepankan akidah dan moral sebagai landasan.

Semua itu memberikan pelajaran, bahwa amanat kepemimpinan pertama kali harus dipautkan kepada ikatan vertikal kepada Allah swt.

Pidato Rasulullah bukan sekadar pemanis bibir. Ini dibuktikan dengan konsistensi beliau dalam memimpin rakyatnya. Berbeda dengan para penguasa saat ini yang pada awal kekuasaannya begitu bersemangat ingin menegakkan keadilan dan kebenaran, tapi kemudian justru melindas kebenaran dan menegakkan kezaliman.

Kalau kita kaji sirah nabawiyah, Rasulullah menindaklanjuti apa yang diucapkannya dengan membangun tiga pilar ketahanan utama.

Pertama, membangun ketahanan spiritual. Upaya ini ditandai dengan dibangunnya Masjid Nabi. Pembangunan masjid ini bahkan merupakan pekerjaan pertama yang dilakukan Rasulu¬llah sejak kedatangannya ke Madinah. Para sahabat bahu membahu mewujudkan rencana Ra¬sulullah. Melihat semangat mereka, Rasulullah berdo'a: "Ya Allah sesungguhnya tidak ada ke¬hidupan (yang hakiki) kecuali kehidupan Akhirat. Ya Allah, sayangilah kaum Muhajirin dan kaum Anshar."

Dari masjid beratapkan pelepah kurma inilah kemudian segala aktivitas dipusatkan. Masjid yang merupakan 'rumah Allah' betul-betul menjadi central control bagi seluruh aktivitas sehari-hari kaum Muslimin, sehingga prinsip 'hidup adalah ibadah' begitu terasa.

Kedua, membangun ketahanan politik. Dengan mencanangkan "Perjanjian Madinah", Rasulullah berusaha membangun basis politik bagi masyarakat baru di Madinah.

Perjanjian tersebut melibatkan kaum Muhajirin Quraiys dan kabilah-kabilah yang ada waktu itu, seperti Bani 'Auf, Bani Najjar, Banu Sa'idah, Bani Harits, dan Bani Aus. Kesepakatan penting yang dihasilkan antara lain adalah mereka bersatupadu melawan kezaliman.

Dalam perjanjian itu, hal-hal baik sebelum keislaman mereka tetap dibiarkan. Soal tebusan orang yang terbunuh (diyat) maupun tebusan tawanan tetap diakui, dengan menjunjung tinggi sikap adil kepada sesama mukmin.

Dengan orang-orang Yahudi Rasulullah juga membuat perjanjian damai. Ini ditandai dengan diterapkannya norma-norma positif untuk saling menasehati dalam kebaikan. Kaum Yahudi diperbolehkan tetap dalam agama mereka, tetapi harus bersama-sama menjaga keamanan dari serangan musuh.

Ketiga. membangun ketahanan sosial. Program persaudaraan (ta-akhi) antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar adalah pilar ketahanan sosial yang ditegakkan Rasulullah di kalangan kaum muslimin.

Abu Bakar dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zuhair, Hamzah bin Abdul Mutalib dengan Zaid bin Haritsah pembantu Rasulullah, Ja'far bin Abi Thalib dengan Mu'adz bin Jabal, Umar bin Khatab dengan Itban bin Malik, begitu seterusnya. Ukhuwah tersebut bukan sekadar kesetiakawanan sosial, tapi ikatan persaudaraan yang berawal dan berakhir dengan iman. Dengan kebersamaan itu segala kaum Muslimin menghadapi rintangan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Tiga langkah utama tersebut telah memberi¬kan kekuatan institusional kepada kelembagaan masyarakat yang dibangun Rasulullah saw. Secara hirarki Rasulullah adalah pemimpin yang berdiri di atas kekuatan wahyu dan pribadi yang agung. Sementara di sekeliling beliau adalah para sahabat mulia yang tidak memiliki cacat hukum dan moral.

Meskipun ada Piagam Madinah dan Rasulu¬llah semakin memiliki basis massa yang kuat, bukan berarti orang-orang yang tidak menyukai Islam diam begitu saja. Terbukti, belum genap satu tahun tinggal di Madinah Rasulullah sudah berurusan dengan masalah stabilitas keamanan dengan Bani Dhamrah.

Otoritas Pemimpin

Seorang pemimpin memi¬liki otoritas yang bisa digunakan untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, meski ti¬dak semua orang suka. Sudah menjadi risiko kalau seorang pemimpin ada yang membenci. Tetapi param¬eter yang digunakan pemimpin Islam ketika menghadapi pihak-pihak yang tidak menyukainya hendaklah kebenaran dan keadilan. Dengan begitu, ia bisa melaksanakan tugas kepemimpinannya semaksimal mungkin. Jika segala ikhtiar itu ternyata tidak membuahkan hasil yang memuaskan, ia tidak akan dicela dan di hadapan Allah ia mempunyai alasan.

Dalam Islam kekuasaan tidak boleh diminta, tetapi kalau orang sudah diberi amanah untuk memimpin, ia tidak boleh berkhianat. Jauh-jauh hari Rasulullah telah mengingatkan, "Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kamu pimpin."Wallahu a'lam bishhawab."

Oleh Bilal Zepa