fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Sya'ban 1442  |  Minggu 11 April 2021

Kita Akan Melalui Pintu Gerbang Satu Ini

http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/04/kuburan.jpg
foto dakwatuna.com

Cybermq.com - Sewaktu penulis kecil pernah bertanya pada diri sendiri? Mengenai kematian, apakah diri ini akan mati? Lalu, apakah yang akan dihadapi setelah kita mati, jasad ini akan dibawa kemana? Bagaimana dengan amal-amal kita dan dosa yang telah kita perbuat. Rangkaian pertanyaan tersebut selalu membayang-bayangi hati ini, sampai usiaku dewasa. Adakah yang bisa menjawabnya? Apakah sahabat bisa menjawabnya? Wallahu’alam Bishshawab.

Setiap orang pasti akan melaluinya, kematian atau ajal pasti akan datang tak bisa bisa lari dan menghindar dari sunatullah ini. Setiap makhluk Allah SWT pasti menemui ajalnya. Serta tak bisa minta diundur waktunya walupun sedetik, bila ajal telah datang kita harus siap menyambutnya. Sahabat siapkah menyambut kedatangan kematian yang akan datang secara tiba-tiba? Jujur saja, Penulis sampai saat ini belum siap, karena merasa amal masih sedikit dan merasa diri ini masih berbuat dosa.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Yunus ayat 49: “Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)”.

Dalam Surat Al-Jumu’a ayat 8: “katakanlah: Kematian yang kamu jauhi akan segera menjemputmu, dan kamu akan dikembalikan pada Yang Mahu Tahu, baik yang rahasia maupun bukan, dan Dia akan memberitahumu (segala kebenaran mengenai) hal-hal yang kamu kerjakan!”.

Siapapun kita, baik itu pejabat, orang biasa, kaya, miskin, terpelajar, tak berpendidikan, petani, orang kantoran pasti akan melalui pintu gerbang yang satu ini.

Beberapa hari lalu, mantan presiden kedua Republik Indonesia, Jendral berbintang lima, HM. Soeharto telah berpulang ke haribaannya disisi Allah. Beliau adalah seorang mantan pemimpin bangsa Indonesia yang lama sekali memimpin kita sampai dengan 32 tahun, menjelang ajal menjemput Pak Harto. Beliau sempat dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamini selama 24 hari (sejak 4 sampai 27 Januari 2008) dan menanganan intensif tim dokter Kepresidenan, dengan menggunakan alat-alat bantu canggih guna mempertahankan kehidupannya, serta menghabiskan biaya miliyaran rupiah. Namun bila ”Yang Satu Ini Tiba” kita tak memiliki daya untuk menghalangi ataupun menolaknya.

Jodoh, rejeki, pati (kematian) merupakan sebuah misteri, hanya Allah semata yang mengetahunya. Kita hanya bisa bersiap-siap menyambut kedatangannya dengan keadaan terbaik yang sedang kita lakukan, amiin.

Ada sebuah kisah lagi mengenai kematian ini. Sebuah cerita tentang percakapan antara Malaikat Pencabut Nyawa dengan Nabi Sulaiman AS, dimana malaikat diperintahkan untuk mencabut nyawa seseorang di India, sedangkan yang bersangkutan sedang bersama-sama dengan Nabi Sulaiman AS di tempat jauh dari India. Sang Malaikat memberitahukan masalahnya kepada Nabi Sulaiman AS mengenai hambatan waktu dan tempat yang dihadapinya, bahwa orang tersebut mesti meninggal di India dalam waktu dekat. Nabi Sulaiman AS pun bercerita kepada Malaikat bahwa Allah telah memerintahkan angin untuk tunduk padanya, beliau sudah menyiapkan rencana perjalanan untuk orang tersebut ke India. Perjalanan orang tersebut ke India dibantu oleh angin atas perintah Nabi Sulaiman AS, dan dia meninggal pada tempat dan waktu yang telah ditentukan. Maksud dari cerita ini adalah, orand tidak bisa berlari dari kematian.

Akhir kata, Penulis pintu gerbang yang satu ini pasti akan datang dan menyuruh kita untuk melaluinya. Kita hanya bisa berharap apabila pintu ini datang menghampiri kita. Kita dapat melalui pintu ini dalam keadaan khusnul khatimah, amiin.