18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Koalisi Dalam Ajaran Islam

http://www.republika.co.id/filez/imagecache/headline/salaman.jpg

Republika.co.id - Irfan Fajaruddin - Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, koalisi diartikan kerja sama (politik) antarpartai politik untuk memperoleh kelebihan suara di parlemen. Suara yang dimaksud adalah jumlah person yang bersepakat untuk memutuskan suatu program dalam kerangka kerja pemerintahan.

Dalam ajaran Islam, berkoalisi sama halnya dengan bekerja sama atau tolong-menolong. Tertulis jelas dalam Alquran surah Al-maidah [5] ayat 2, "Dan, tolong-menolonglah kalian dalam (berbuat) kebaikan dan takwa." Artinya, bekerja sama atau tolong-menolong dalam bentuk apa pun hendaknya berorientasi kebaikan dan dalam rangka meningkatkan takwa atau berorientasi ketuhanan.

Dalam konteks kenegaraan dan politik Islam, koalisi dilakukan untuk menata kehidupan masyarakat yang Islami. Di sana, ada gerakan pengakuan Allah Yang Esa (tauhid), persaudaraan (ukhuwah), persamaan (musawah), berunding (musyawarah), berlomba dalam kebaikan, dan termasuk kebebasan.

Namun, terkadang dalam pelaksanaannya, terjadi semacam pertentangan antara satu anggota koalisi dengan yang lainnya. Pertentangan ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah faktor ideologis. Dalam hal ini, terdapat kesepakatan dasar koalisi yang tiba-tiba terlupakan. Ada juga faktor perubahan orientasi koalisi menjadi kebendaan dan materi, bukan lagi spiritual. Faktor eksternal juga bisa dihitung karena bisa saja ada yang bertujuan memecah belah persatuan ideologis-spiritualis ini.

Untuk itulah, Allah SWT mengingatkan orang-orang yang tengah bersepakat berkoalisi agar teguh memegang visi dan misi spiritual-kemasyarakatan dalam berpolitik dan bernegara. Peringatan Allah tersampaikan dalam surah Ali Imran [3]: 103, "Dan, berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai. Dan, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan. Maka, Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah itu orang-orang yang bersaudara."

Para ahli tafsir menafsirkan kata 'tali Allah' itu sebagai Alquran atau agama Islam. Menurut Buya Hamka, dengan berpedoman pada tali Allah, dirimu yang terpecah-pecah itu dengan sendirinya akan menjadi satu. Kalau hati telah menyatu, segala sesuatu menjadi ringan dipikul dan segala kesalahpahaman akan mudah diselesaikan.

Dengan terbangunnya koalisi yang berorientasi ketuhanan, membangun kehidupan Islami, serta berpedoman dan memegang kuat tali Allah; Allah akan membuka jalan bagi orang-orang untuk tetap bersatu dalam koalisi tersebut.

Red: irf