fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


28 Sya'ban 1442  |  Sabtu 10 April 2021

Muslim sejati

Sebuah riwayat mengisahakan tentang  Umar bin Khatab bertemu dengan seorang pengembala.

" Berapa jumlah kambing ini?"

" Aku tidak tahu tuan." jawab si gembala.

" Kalau begitu bisa tidak aku membeli satu kambing ini."

" Maaf tuan aku tak bisa."

" Kenapa?" Umar Bin Khatab heran.

" Karena kambing ini bukan milik saya."  Tegas si gembala.

" Sudahlah, tuanmu tidak akan tahu bahwa kambingnya telah kau jual. Dan kamu bisa beli apa saja dari uang itu."

Dengan tersenyum si gembala itu mengatakan, " Lalu dimanakah Allah tuan?"

Di manakah Allah berada? Dalam firman-Nya Allah mengatakan dalam surah Al-Hadid ayat 4, " Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

Kita sadar bahwa Allah itu ada dan Maha Melihat. Apapun yang kita kerjakan dan lakukan Allah menyaksikan. Bahkan di dalam hati yang paling dalampun Dia tahu apa yang kita sembunyikan. Tapi mengapa manusia selalu saja melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari aturan-aturan Allah. Bahkan dia sendiri mengakui yang dilakukannya itu salah.

Semua hafal akan kalimat Tauhid " Laa ilaha illallah " ( Tidak ada tuhan selain Allah ). Patut dipertanyakan jika masih saja melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari aturan Allah. Apakah hanya dimulut saja kalimat itu bisa diucapkan sementara hati tidak. Kalau itu yang sebenarnya berarti kita termasuk kepada orang-orang yang munafiq. Lain di hati lain di mulut.

Dengan kambing yang banyak itu bisa saja si gembala menjual satu atau dua ekor, dan tuannya tidak akan tahu bahwa kambingnya telah di jual. Namun karena keyakinan yang kuat itulah si gembala tidak mau menjual kambing itu. " Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rosul-Nya dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, padahal kamu mengerti." ( Qs Al-Anfal : 20 )

Ketaatan yang diiringi dengan mengikuti semua yang ada dalam kitab-Nya, yaitu Al qur'an dan juga sunahnya akan memberikan dampak yang positif pada jiwa seseorang. Inilah yang terjadi pada si gembala itu. Ketaatan disini mempunyai arti yang luas melingkupi berbagai aspek kehidupan. Jika kita mengkaji lebih dalam lagi maka inti dari semua itu adalah mentauhidkan Allah SWT. Tauhid yang sebenar-benarnya tauhid.

Dalam salah satu hadist Qudsi-Nya, Allah berfirman :

"Kalimat  Laa ilaha illallah adalah benteng pertahanan-Ku, dan barang siapa yang memasuki benteng-Ku, maka ia aman dari siksaan-Ku." ( Riwayat Abu Na'im, Ibnu Hajar dan Ibnu Asakir dari Ali bin Abi thalib. r.a )

Masih banyak dikalangan muslim sendiri yang masih percaya kepada benda-benda atau orang pinter ( dukun atau paranormal ) dengan dalih itu semua bisa mendekatkan kepada Allah dan sebagai perantara saja. mereka juga mengumpamakan  bahwa ketika mau bertemu presiden maka kita harus menemui ini dan itu.

Angapan mereka itu telah digambarkan oleh Al-Qur'an

" Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." ( Qs Az-zumar : 3 )

Padahal Allah dengan tegas mengatakan dalam firman-Nya :

" Dan sesungguhnya telah di wahyukan kepadamu dan kepada ( nabi-nabi ) yang sebelumnya, jika kamu mempersekutukan ( Allah ) Niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk kedalam orang-orang yang merugi ( Qs Az-zumar : 65 )

Sedah saatnya kita mempatrikan kalimat tauhid ini dengan teguh, istiqomah dan memurnikannya dari hal-hal yang bersifat takhayul, bid'ah, dan khurafat. Sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi yang amalannya dihapus bersih.

Rosulullah SAW  mengajarkan kepada kita sebuah doa agar terhindar dari perbuatan yang menyekutukan Allah SWT.

" Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan ( kami ) menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami memohon ampun kepada-MU dari sesuatu yang tidak kami ketahui." ( HR Imam Ahmad )

[www.napoleon.cybermq.com]